Patung Lilin Putri Diana dengan Revenge Dress Dipajang di Paris, Ini Maknanya
Patung lilin Putri Diana yang mengenakan revenge dress (gaun balas dendam) dipajang di Museum Grevin di Paris, Perancis, sejak Kamis (20/11/2025). Waktu tersebut bertepatan dengan momen penting dalam perjalanan hidup Diana.
“Lebih dari 28 tahun setelah kematiannya yang tragis di Paris, Diana tetap menjadi figur besar dalam budaya pop global, dirayakan karena gaya, kemanusiaan, dan kemandiriannya,” bunyi keterangan dari Museum Grevin, dilansir dari AFP, Sabtu (22/11/2025).
Figur tersebut menampilkan mendiang Putri Wales dalam gaun hitam berpotongan off the shoulder rancangan Christina Stambolian yang ia kenakan pada acara amal di Serpentine Gallery, London, Juni 1994.
Momen itu terjadi pada malam yang sama ketika Raja Charles III, yang saat itu masih bergelar Pangeran Charles, secara terbuka mengakui perselingkuhannya dengan Camilla Parker Bowles dalam sebuah wawancara yang disiarkan di televisi nasional Inggris, dikutip dari People.
Patung lilin ini dilengkapi dengan detail khas penampilan Diana pada momen tersebut, seperti perhiasan mutiara, tas genggam hitam, stoking tipis, serta sepatu hak tinggi.
Ekspresi wajahnya juga dibuat menyerupai gestur khas Diana yakni tatapan ke belakang dengan senyum lembut yang sering menjadi ciri penampilannya di depan publik.
Sejarah di balik revenge dress Putri Diana
Patung lilin Princess Diana mengenakan revenge dress (gaun balas dendam) dipamerkan di Grevin Museum, Paris, Perancis, pada Jumat (21/11/2025).
Istilah revenge dress merujuk pada gaun yang dikenakan Diana pada malam pengakuan perselingkuhan Pangeran Charles tersebut.
Penampilannya saat itu langsung menjadi perhatian dunia karena terjadi di tengah isu pernikahan yang sedang terbuka di hadapan publik.
Museum Grevin menyebut gaun ini sebagai simbol dari “penegasan diri yang direbut kembali” serta gambaran dari feminitas yang tegar dan kepercayaan diri yang bangkit kembali.
Oleh sebab itu, pemilihan revenge dress untuk patung lilin Diana dipandang sebagai langkah yang berani, sebab secara langsung membawa kembali salah satu bagian paling sensitif dalam sejarah keluarga kerajaan Inggris.
Konteks busana ini juga berkaitan erat dengan wawancara kontroversial Diana bersama BBC Panorama pada tahun 1995, dilansir dari situs web resmi Museum Grevin.
Dalam wawancara tersebut, Diana menyatakan bahwa “ada tiga orang dalam pernikahan ini, jadi agak ramai”, merujuk pada hubungan Charles dengan Camilla Parker Bowles.
Pernyataan itu menjadi titik penting dalam cara publik memahami posisi dan luka batin Diana di tengah pernikahan yang retak.
Dengan latar itu semua, revenge dress tidak hanya dipahami sebagai busana ikonis, tetapi juga sebagai simbol visual dari posisi Diana di tengah konflik personal yang disorot dunia.
Makna di balik tanggal 20 November
Tanggal peresmian patung pada 20 November juga dipilih secara sadar. Museum Grévin menyebut tanggal ini bertepatan dengan 30 tahun sejak wawancara Panorama tersebut ditayangkan pada 1995.
Wawancara itu kemudian diketahui diperoleh melalui metode yang tidak etis, sesuatu yang kemudian dikecam oleh putra-putra Diana, Pangeran William dan Pangeran Harry, serta saudara laki-laki Diana, Charles Spencer.
Meski kontroversial, wawancara tersebut tetap menjadi salah satu momen televisi paling berpengaruh dalam sejarah modern monarki Inggris.
Waktu peresmian ini juga beriringan dengan perilisan buku Dianarama karya Andy Webb di Inggris pada 20 November, serta rencana rilis di Amerika Serikat pada 25 November.
Buku tersebut mengulas dampak dari wawancara Panorama terhadap arah hidup Diana hingga akhirnya berujung di Paris.
Dikerjakan berbulan-bulan di Bengkel Grevin
Putri Diana dalam acara Royal Ascot 1988.
Patung lilin Putri Diana dipahat oleh pematung asal Paris, Laurent Mallamaci, dan diproduksi oleh bengkel kreatif Museum Grevin.
Proses pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan dengan fokus pada detail busana dan ekspresi wajah Diana.
Museum menyatakan bahwa tim mereka berusaha “mereproduksi pakaiannya secara identik dan menangkap ekspresi uniknya sedekat mungkin”.
Saat ini, patung Putri Diana dipajang di bawah kubah Museum Grévin, di ruang khusus fashion dan hiburan, bersama patung tokoh seperti Beyonce, Jean Paul Gaultier, Marie Antoinette, dan Chantal Thomass.
Putri Diana lebih dari sekadar bangsawan
Selain dikenal karena gaya berbusananya, Diana juga dikenang karena kiprahnya di bidang kemanusiaan. Ia aktif memperjuangkan isu AIDS dan kusta dengan mengunjungi serta menyentuh para pasien di masa ketika stigma masih sangat kuat.
Ia juga memperjuangkan isu anak-anak yang sakit, kaum muda tunawisma, serta korban ranjau darat.
Aksinya membantu mengubah cara publik memandang kelompok-kelompok yang selama ini sering terpinggirkan.
Putri Diana meninggal dunia pada Agustus 1997 dalam kecelakaan mobil di terowongan Pont de l’Alma, Paris, pada usia 36 tahun, hanya setahun setelah resmi bercerai dari Pangeran Charles pada bulan Agustus 1996.
Hingga saat ini, Putri Diana dikenang bukan hanya sebagai bangsawan, tetapi sebagai simbol empati dan keberanian yang pengaruhnya masih terasa di budaya populer dan dunia mode.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.