Mengenal Fungsi Cloudflare yang Terancam Diblokir Komdigi
Di era serba digital seperti sekarang, keamanan internet menjadi salah satu pilar penting yang menentukan kenyamanan masyarakat dalam mengakses informasi. Pemerintah, platform global, hingga pengguna individu memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga ruang digital tetap aman dan bebas dari konten berbahaya, termasuk perjudian online.
Di tengah berbagai upaya yang dilakukan, nama Cloudflare sering muncul sebagai salah satu perusahaan teknologi yang paling banyak digunakan berbagai situs, termasuk yang berpotensi melanggar hukum.
Cloudflare pada dasarnya dikenal luas sebagai perusahaan penyedia layanan keamanan dan percepatan internet yang membantu jutaan situs di seluruh dunia. Namun, popularitasnya ini juga membawa tantangan tersendiri. Infrastruktur yang kuat dan teknologi yang mampu menyembunyikan alamat IP, misalnya, membuat sebagian situs ilegal justru memanfaatkannya untuk menghindari pemblokiran pemerintah.
Hal inilah yang membuat Cloudflare kembali menjadi sorotan dalam diskusi mengenai pemberantasan judi online di Indonesia.
Direktur Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Alexander Sabar, meminta penyedia layanan infrastruktur internet Cloudflare untuk bersikap lebih kooperatif dalam membantu pemerintah memberantas situs perjudian daring.
"Cloudflare yang harusnya bisa bekerja sama. (Seharusnya) tidak semua permintaan layanan jaringan pengiriman konten itu dia terima. Kalau yang merugikan Indonesia ya jangan diterima. Ini kan jadi konteksnya moderasi, dia harusnya filtering," kata Alexander saat ditemui di Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Menurut Kemkomdigi, sebagian besar situs perjudian daring yang ditangani ternyata memanfaatkan infrastruktur Cloudflare. Dari 10.000 data sampling situs judi online periode 1–2 November 2025, lebih dari 76 persen di antaranya menggunakan layanan Cloudflare, termasuk fitur penyamaran IP dan percepatan perpindahan domain untuk menghindari pemblokiran.
Alexander juga menyoroti bahwa Cloudflare termasuk dalam 25 Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) yang belum terdaftar seperti diwajibkan oleh PM Kominfo 5/2020 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Privat. Platform tersebut diberi waktu 14 hari kerja untuk memenuhi kewajiban.
Jika tidak, Kemkomdigi akan menjatuhkan sanksi administratif hingga pemutusan akses sebagaimana diatur dalam Pasal 7 regulasi tersebut.
Mengingat banyaknya situs web yang memakai layanan Cloudflare, pemerintah pun mengimbau pemilik situs legal agar menyiapkan alternatif jika akses ke layanan tersebut harus ditutup.
"Dengan kami memberikan warning seperti ini setidaknya mereka yang menggunakan Cloudflare sudah harus mencari alternatif lain," ujar Alexander.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pada prinsipnya terbuka untuk bekerja sama dengan platform global selama mereka menunjukkan kepatuhan. “Kami terbuka dan selalu siap untuk kerja sama, tapi kepatuhan kepada peraturan dan undang-undang tetap jadi garis merah. Menjaga ruang digital Indonesia tetap bersih dan aman adalah tanggung jawab bersama,” ucapnya.
Mengenal Cloudflare, Fungsi dan Cara Kerjanya
Melansir dari The Guardian, Jumat, 21 November 2025, cloudflare adalah perusahaan layanan cloud dan keamanan siber global yang menyediakan berbagai fitur, mulai dari pusat data, keamanan situs web dan email, perlindungan dari kehilangan data, hingga pertahanan terhadap ancaman siber.
Mereka menggambarkan diri sebagai “immune system for the internet” karena teknologi yang ditempatkan di antara klien dan publik mampu memblokir miliaran ancaman setiap hari.
Selain fokus keamanan, Cloudflare juga memiliki fungsi percepatan lalu lintas internet melalui jaringan globalnya. Perusahaan ini menghasilkan lebih dari $500 juta per kuartal dari hampir 300.000 pelanggan di 125 negara.
Mengapa Cloudflare Penting?
Cloudflare merupakan bagian dari “sistem saraf” internet dunia. Ketika layanannya mengalami gangguan, berbagai situs bisa ikut down. Beberapa layanan besar yang pernah terdampak saat Cloudflare down antara lain ChatGPT dan platform X milik Elon Musk.
Diperkirakan, Cloudflare menyediakan layanan untuk satu dari lima situs di seluruh dunia. Angka ini menunjukkan betapa dominannya perusahaan ini dalam arsitektur internet global.