Tim Anggar Putri Sumbang Dua Perunggu di ISG Riyadh 2025, Alma Fauziah Ungkap Tantangan Berat di Arena

Tim anggar putri meraih medali perunggu untuk menutup penampilan di ISG 2025
Tim anggar putri meraih medali perunggu untuk menutup penampilan di ISG 2025

 Tim anggar Indonesia menutup perjalanan mereka di Islamic Solidarity Games (ISG) Riyadh 2025 dengan torehan dua medali perunggu dari nomor sabel dan floret beregu putri, Jumat 21 November 2025.

Pada nomor sabel, tim yang diperkuat Alma Fauziah Ismail, Nissa Nazwa, dan Indah Nur Safarin harus mengakui keunggulan Uzbekistan usai kalah 13-35 di babak semifinal. Kekalahan tersebut membuat Alma dan rekan-rekan mengamankan perunggu bersama Turki. Sementara medali emas menjadi milik Azerbaijan yang mengalahkan Uzbekistan di final.

Pada nomor floret beregu putri, tim yang diisi Putri Yanti, Siti Putri Amalia, dan Jesyca Emilia, juga membawa pulang perunggu setelah kalah 33-45 dari Bahrain di semifinal. Oman tampil sebagai juara dengan meraih emas dan Bahrain membawa pulang perak.

Alma Fauziah: Bermain “Nothing to Lose”, Tapi Tetap Disiplin

Alma Fauziah menilai performa timnya sudah cukup baik, terutama jika melihat lawan-lawan yang memiliki jam terbang lebih tinggi di ajang multi cabang seperti ISG.

"Kami berusaha main nothing to lose tapi tetap disiplin dengan strategi pelatih," ujarnya dalam keterangan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

Meski demikian, Alma mengakui masih banyak aspek teknis yang perlu diperbaiki. Konsistensi menjadi pekerjaan rumah utama karena tim kerap unggul di awal pertandingan, namun kehilangan fokus pada poin-poin penting.

Dari sisi fisik, ritme pertandingan yang padat juga menjadi tantangan. Alma menuturkan bahwa program conditioning perlu dimatangkan demi menghadapi turnamen dengan intensitas tinggi di masa mendatang.

Jelang pertandingan, tim putri juga menghadapi masalah yang tidak ringan. Alma mengungkapkan bahwa beberapa peralatan mereka tidak lolos pemeriksaan teknis dan dinyatakan belum lengkap. Beruntung, koordinasi cepat antara ofisial, pelatih, panitia, serta dukungan penuh dari Chef de Mission Kontingen Indonesia untuk ISG Riyadh 2025, Endri Erawan, membuat seluruh peralatan bisa segera dilengkapi sesuai standar.

Alma menegaskan bahwa perunggu yang diraih bukan sekadar hasil pertandingan, tetapi wujud dari kerja keras yang terbayar. Ia berharap prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi para atlet anggar muda di Tanah Air.

Pengalaman bertanding di ISG, kata Alma, menjadi pelajaran penting bahwa hal sekecil apa pun dapat memberikan dampak besar di arena. Ia optimistis Indonesia akan tampil lebih matang dan meraih hasil lebih baik pada ajang berikutnya.

Tambahan dua perunggu dari cabang anggar menempatkan Indonesia di posisi ke-12 pada klasemen akhir ISG Riyadh 2025. Secara keseluruhan, Indonesia mengoleksi empat emas, 12 perak, dan sembilan perunggu, menjadi catatan penting untuk evaluasi sekaligus modal menuju event multi cabang selanjutnya. (Ant)