Candi Sukuh: Sejarah, Relief Erotis, dan Misteri Peninggalan Majapahit di Gunung Lawu

Candi Sukuh merupakan salah satu situs peninggalan bersejarah Kerajaan Majapahit yang berdiri di lereng Gunung Lawu. Berada sekitar 20 kilometer dari Kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta, candi ini menjadi tujuan populer wisata sejarah dan wisata ziarah di Jawa Tengah.
Akses menuju Candi Sukuh cukup menantang. Pengunjung harus melewati jalan berkelok, licin, dan menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat.
Karena itu, kendaraan yang digunakan harus dalam kondisi prima dan terisi bahan bakar penuh.
Candi Hindu dengan Relief Erotis yang Kontroversial
Dikutip dari buku Wisata Ziarah: 90 Destinasi Wisata Ziarah & Sejarah di Jogja, Solo, Magelang, Semarang, Cirebon, Candi Sukuh berdiri pada ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut, lebih rendah dari Candi Cetho yang berada di jalur yang sama.
Candi Hindu ini dikenal kontroversial karena banyaknya relief lingga dan yoni yang melambangkan kesuburan dan kehidupan manusia.
Bentuk bangunannya pun tidak lazim untuk candi-candi di Jawa, bahkan sering disebut mirip piramida Suku Maya di Guatemala atau candi-candi peninggalan Suku Inca di Peru.
Sejak 1995, Candi Sukuh telah diusulkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Sejarah Penemuan dan Pemugaran Candi Sukuh
Situs ini pertama kali dilaporkan pada era pemerintahan Inggris di Jawa tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta.
Ia menjalankan tugas dari Thomas Stamford Raffles untuk mengumpulkan data bagi penyusunan buku terkenal The History of Java.
Setelah kekuasaan Inggris berakhir, penelitian lanjutan dilakukan oleh arkeolog Belanda, Van der Vlis, pada tahun 1842.
Pemugaran pertama kemudian dilakukan pada 1928 untuk menyelamatkan struktur dan relief yang mulai rusak.
Struktur Candi: Tiga Teras dan Relief Erotis
Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah.
Candi Sukuh terdiri dari tiga teras. Pada teras pertama, terdapat gapura dengan relief kelamin pria (lingga) dan kelamin perempuan (yoni). Karena dianggap sakral, relief tersebut kini ditutup agar tidak terinjak pengunjung.Peziarah harus memutari gapura sebelum naik ke teras kedua.
Di teras ketiga, bagian paling sakral, berdiri candi utama berbentuk trapesium setinggi sekitar 6 meter dengan luas 15 meter persegi. Dindingnya dipenuhi berbagai relief yang menggambarkan filosofi kehidupan.
Selain relief erotis, terdapat juga pahatan misterius yang menggambarkan arak-arakan prajurit bersenjata tombak, penunggang kuda, dua ekor badak, sepasang kerbau, hingga sosok yang mengendarai gajah.
Makna dari relief-relief ini hingga kini belum dapat dipastikan oleh para arkeolog.
Relief Pernah Dipamerkan ke Amerika Serikat dan Belanda
Salah satu relief paling unik adalah pahatan Ganesha yang berdiri dengan satu kaki di atas besalen (tempat penempaan besi) sambil memegang ekor anjing.
Pada bagian lain, tampak seseorang sedang mengipasi api dan figur lain yang memamerkan hasil karya penempaan seperti keris, tombak, palu, dan cangkul.
Pahatan besar berbobot 12 ton ini pernah dibawa ke Amerika Serikat untuk pameran budaya Indonesia-Amerika (KIAS) selama setahun.
Setelah itu, karya ini juga dipamerkan kembali di Belanda.
Namun, hingga kini, kisah wayang atau narasi yang menjadi dasar pembuatan relief tersebut belum terungkap.
Karena banyaknya relief lingga dan yoni, masyarakat kerap menyebutnya sebagai candi erotis atau candi porno. Namun para ahli sejarah menegaskan bahwa simbol-simbol ini merupakan lambang kesuburan dan proses kehidupan manusia pada masa Hindu Jawa kuno.
Menurut Narto, juru kunci Candi Sukuh, pengunjung banyak berasal dari Bali, terutama pada hari-hari suci umat Hindu seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Banyu Pinaruh.
Pada momen tersebut, peziarah biasanya melaksanakan ritual di area candi.
Dari puncak candi, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Solo, hamparan sawah, dan hutan hijau di lereng Gunung Lawu.
Tips Berkunjung ke Candi Sukuh
Peziarah atau wisatawan disarankan menghubungi juru kunci terlebih dahulu jika ingin melakukan ritual, termasuk menyiapkan dupa, kembang, tirta, atau tumpeng.
Di sekitar candi, tersedia kios yang menjual makanan khas seperti sate kelinci dan sate landak serta sate ayam. Ada pula penjual sayuran segar dari petani lokal seperti wortel, kentang, hingga ubi ungu.
Tersedia pula fasilitas pendopo dan toilet bagi pengunjung.
Medan menuju Candi Sukuh cukup berat karena berupa jalan aspal licin, berkelok, dan menanjak hingga 45 derajat, mirip rutenya menuju Candi Cetho. Karena itu, kondisi kendaraan harus benar-benar diperhatikan.
Dari Bandara Adi Soemarmo Solo, Candi Sukuh dapat ditempuh dalam waktu sekitar 60 menit. Rutenya adalah:
- Arah timur menuju Kabupaten Karanganyar
- Melalui Jalan Ahmad Yani dan Jalan Ki Hajar Dewantoro
- Lanjut ke arah Tawangmangu hingga simpang Tugu Lilin
- Belok utara menuju Tawangmangu
- Di pertigaan Desa Kemuning, belok kanan
Candi Sukuh berada sekitar 5 kilometer dari titik ini
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.