Buntut Kericuhan di Puncak Lawu, Pendaki Gunung Lawu Kini Wajib Pakai Pemandu Lokal
rombongan pendaki di puncak Gunung Lawu memicu aturan baru. Saat ini, pendaki tektok dari luar daerah wajib menggunakan pemandu atau porter lokal.
Hal ini disampaikan oleh pengelola Pos Pendakian Candi Cetho, Eko, seperti dikutip , Sabtu (2/5/2026).
“Kemarin sudah selesai. Ke depannya, pendaki dari luar yang tektok wajib menggunakan porter lokal dari Candi Cetho maupun Cemoro Kandang,” kata Eko.
Pendaki Gunung Lawu wajib pakai pemandu lokal
Berlaku untuk pendaki tektok
Puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah. Kericuhan antarrombongan pendaki di puncak Gunung Lawu memicu aturan baru. Pendaki tektok dari luar daerah wajib menggunakan pemandu lokal.
Aturan menggunakan pemandu atau porter lokal ini berlaku bagi pendaki tektok alias pendaki yang naik-turun puncak Gunung Lawu dalam satu hari, tanpa menginap atau berkemah.
Eko menjelaskan, aturan tersebut dibuat untuk meminimalisasi potensi konflik di jalur dan di puncak.
Kehadiran pemandu lokal diharapkan tidak hanya membantu navigasi, tapi juga menjaga ketertiban dan komunikasi antarpendaki.
“Ini untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Jadi kita mewajibkan porter lokal,” ujar Eko.
Terkait sanksi bagi yang melanggar aturan, Eko menyebut, kewenangan tersebut berada di kantor pengelola.
“Kalau untuk sanksi dan lain-lain, langsung ke kantor PUD Intan Pari di Karanganyar. Kami di lapangan tidak berwenang memberikan sanksi,” tutur Eko.
Kronologi pendaki Gunung Lawu rebutan spot foto
Tangkapan layar para pendaki di puncak Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terlibat kericuhan saat berebut spot untuk berfoto. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video dan viral di Instagram setelah dibagikan ulang oleh sejumlah akun. Salah satunya melalui akun Instagram pendaki @ginaadimulia yang telah ditonton lebih dari 718.000 kali dan 7.200 komentar hingga Rabu (29/4/2026).(DOK. Tangkapan layar Instagram @ginaadimulia)
Sebelumnya, video keributan antar-pendaki di puncak Gunung Lawu viral di media sosial dan memicu berbagai kritik dari warganet.
Rekaman video tersebut diunggah oleh akun Instagram pendaki @ginaadimulia dan telah ditonton lebih dari 741.000 kali hingga Sabtu (2/5/2026).
Diketahui terdapat dua rombongan pendaki yang terlibat dalam ketegangan tersebut gegara berebut spot foto.
Perselisihan lantas terjadi dipicu oleh faktor kelelahan dan kurangnya komunikasi di lokasi antara kedua rombongan tersebut.
"Berdasarkan laporan dari saat ini, kami berada (bersama) di sisi Mas Eko (pengelola basecamp Gunung Lawu via Cetho) dari jalur pendakian via Cetho, di mana kemarin terjadi kericuhan itu dan sudah terselesaikan secara kekeluargaan dari pendaki," kata Kepala Bidang Operasional dan Pengembangan PUD Aneka Usaha Karanganyar, Titin Riyadiningsih.
Salah satu pendaki asal Cimahi, Khoir, mengaku terlibat dalam kegaduhan dan meminta maaf kepada para pendaki yang terganggu.
"Mohon maaf kepada teman-teman pendaki yang ada di Hargo Dumilah maupun pencinta pendaki di media sosial yang merasa kurang nyaman dari sikap diri saya," kata Khoir.
"Saya dan saudara yang ada di video sudah saling memaafkan dan saling berpelukan sehingga tidak ada permasalahan secara internal," sambung dia.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, pengelola berharap kejadian serupa tidak terulang, seiring penerapan aturan baru yang mewajibkan penggunaan pemandu lokal di Gunung Lawu bagi pendaki tektok dari luar daerah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang