dr. Aisah Dahlan Ungkap Perempuan Kini Tak Takut Untuk Bercerai, Kenapa?
Tingkat perceraian di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung, tercatat ada 446.359 kasus perceraian pada 2024. Jumlah ini naik cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya, yakni 408.347 kasus pada 2023.
Lalu, apa sebenarnya penyebab utama pasangan suami istri memutuskan untuk berpisah? Dokter sekaligus pakar neurosains, dr. Aisah Dahlan, mengungkap bahwa akar dari banyak perceraian justru bukan hal besar seperti perselingkuhan, melainkan pertengkaran kecil yang terjadi setiap hari.
“Satu kemarahan-kemarahan kecil yang setiap hari terjadi karena perbedaan. Itu nomor satu (penyebab perceraian) malah,” kata dia dikutip dari tayangan YouTube Denny Sumargo, Kamis 13 November 2025.
Menurut dr. Aisah, pertengkaran kecil itu muncul karena kurangnya pemahaman antara suami dan istri. Pasangan sering kali tidak belajar untuk memahami karakter satu sama lain, sehingga perbedaan kecil pun bisa memicu konflik.
“Keributan kecil karena perbedaan yang tidak bisa dipahami karena nggak belajar. Nggak paham gitu banyak istri-istri bilang ’aku nggak paham banget suami aku’ suami juga gitu ’aku tuh nggak paham istriku maunya apa’ itu tiap hari kan,” kata dia.
Lebih lanjut, dr. Aisah menjelaskan bahwa perselingkuhan yang selama ini sering dianggap penyebab utama perceraian, ternyata bukan faktor terbesar. Dalam pengamatannya, masalah ekonomi justru menempati posisi kedua, disusul oleh kasus selingkuh di posisi ketiga.
“Perselingkuhan nomor tiga. Kedua masalah ekonomi, ketiga perselingkuhan. Baru yang lain lah KDRT lah, ikut campur mertua lah, suami mabok lah,” kata dia.
Meski begitu, dr. Aisah menekankan bahwa setiap pasangan sebenarnya masih memiliki peluang untuk memperbaiki hubungan, asalkan keduanya sama-sama mau mencari solusi. Namun dari pengalamannya sebagai konsultan, tidak semua pasangan memiliki kemauan yang sama untuk mempertahankan rumah tangga.
“Itu (mencari solusi) prinsip itu yang harusnya ada di setiap individu untuk mencari solusi. Ada yang mau cari solusi pasangannya, ada yang bodo amat ah, itu yang sulit. Jadi kami yang tenaga konsultan ini kalau ada yang datang saya tanya istrinya ’kamu mau pertahankan rumah tangga dari skala 1-10 berapa?’ suaminya juga kita tanya. Kalau misalkan sama-sama 9, itu oke kita bisa lanjutkan konselingnya. Kalau yang satu 9, yang satu 2 aja, ada itu,” jelas dia.
Dr. Aisah, juga mengungkap temuannya, yang mana perempuan di masa kini lebih banyak mengambil keputusan untuk tidak mempertahankan rumah tangga, terutama karena semakin banyak wanita yang mandiri secara finansial.
“Tergantung juga. Kalau bicara sering yang tidak mau mempertahankan era sekarang perempuan. Iya karena perempuan sudah bisa mandiri, nggak takut lagi soal perekonomian ’saya bisa kerja sendiri’. (Rasa percaya dirinya sudah ketopang dengan keadaan sekarang) ya betul terus takut apa lagi. Nggak diantar suami, ada yang nganterin,” kata dia.
dr. Aisah mengingatkan bahwa sebelum mengambil keputusan untuk bercerai, sebaiknya pasangan tetap berikhtiar secara spiritual, memohon petunjuk dari Tuhan agar langkah yang diambil tidak salah arah.
“Makanya kenapa kita soal rumah tangga saya banyak yang datang ’tanya Tuhan dulu ya’. Karena memang soal rumah tangga ini panjang. Kita nggak tau nextnya bakal jadi kayak apa kita nggak tau kan ya. Jadi nggak bisa ditinggalkan ikhtiar spiritual,” kata dia.