4 Gelar 1 Akar Sejarah: Ini yang Membedakan Hamengkubuwono, Pakubuwono, Paku Alam dan Mangkunegara

KGPAA Hamangkunegoro/Pakubuwono XIV, 1. Hamengkubuwono, Raja Kesultanan Yogyakarta, 2. Pakubuwono, Raja Kasunanan Surakarta, 3. Paku Alam, Adipati Kadipaten Pakualaman, 4. Mangkunegara, Adipati Kadipaten Mangkunegaran
KGPAA Hamangkunegoro/Pakubuwono XIV

 Dua kerajaan besar di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, merupakan warisan penting dari pecahan Kerajaan Mataram Islam. 

Dari dua kerajaan inilah lahir empat gelar kebangsawanan yang masih lestari hingga kini, yaitu Pakubuwono, Hamengkubuwono, Mangkunegara, dan Paku Alam.

Meski sama-sama berakar dari wangsa Mataram, keempat gelar tersebut memiliki sejarah, makna, serta garis keturunan yang berbeda.

1. Hamengkubuwono, Raja Kesultanan Yogyakarta

Sri Sultan Hamengkubuwono X

Gelar Hamengkubuwono berasal dari pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Pangeran Mangkubumi, putra Sunan Amangkurat IV dari selir Mas Ayu Tejawati.

Pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono III di Surakarta, Pangeran Mangkubumi melakukan pemberontakan menentang kerjasama Mataram dengan VOC. Perlawanan ini berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, yang secara resmi membagi Mataram menjadi dua wilayah:

  • Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Pakubuwono III
  • Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi

Pada 13 Maret 1755, ia dinobatkan sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar, Sri Sultan Hamengku Buwono I Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah.

Sejak saat itu, gelar Hamengkubuwono digunakan secara turun-temurun hingga kini, dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

2. Pakubuwono, Raja Kasunanan Surakarta

Gelar Pakubuwono lebih tua dibanding Hamengkubuwono. Gelar ini pertama kali digunakan oleh Pangeran Puger, putra Amangkurat I dan cucu Sultan Agung, yang naik takhta sebagai Sunan Pakubuwono I.

Awalnya, kerajaan berpusat di Kartasura, namun akibat pemberontakan, pusat kekuasaan dipindahkan ke Desa Sala (Solo) pada 1745 oleh cucunya, Sunan Pakubuwono II. Sejak itulah berdiri Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dalam Perjanjian Giyanti, Pakubuwono III diakui sebagai pewaris sah takhta Mataram bagian Surakarta. Gelar Pakubuwono pun menjadi simbol kekuasaan raja-raja Solo hingga Pakubuwono XIII, yang wafat pada 2 November 2025.

Kini, gelar tersebut diteruskan oleh Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Raden Mas Suryo Aryo Mustiko, putra Pakubuwono XIII dengan permaisuri Kanjeng Ratu Asih Winarni.

KGPAA Hamangkunegoro diangkat sebagai Putra Mahkota pada 2022, dan secara resmi mengucap ikras sebagai Pakubuwono XIV pada Rabu, 5 November 2025.

3. Paku Alam, Adipati Kadipaten Pakualaman

Wagub D.I. Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X, 1. Hamengkubuwono, Raja Kesultanan Yogyakarta, 2. Pakubuwono, Raja Kasunanan Surakarta, 3. Paku Alam, Adipati Kadipaten Pakualaman, 4. Mangkunegara, Adipati Kadipaten Mangkunegaran

Wagub D.I. Yogyakarta (DIY), Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X

Berbeda dari dua kerajaan besar di atas, gelar Paku Alam disandang oleh penguasa Kadipaten Pakualaman, wilayah kecil di dalam Kesultanan Yogyakarta. Kadipaten ini didirikan pada 17 Maret 1813 oleh Pangeran Notokusumo, putra Sri Sultan Hamengkubuwono I dan adik tiri Hamengkubuwono II.

Sebagai penghargaan atas loyalitasnya kepada Inggris, Pangeran Notokusumo diberi wilayah otonom di bagian selatan Kulon Progo dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.

Kini, kadipaten ini dipimpin oleh KGPAA Paku Alam X, yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY.

4. Mangkunegara, Adipati Kadipaten Mangkunegaran

Gelar Mangkunegara disandang oleh penguasa Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, lahir dari Perjanjian Salatiga 1757, dua tahun setelah Giyanti.

Perjanjian ini mengakhiri perlawanan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) dan menobatkannya sebagai penguasa mandiri bergelar KGPAA Mangkunegara I.

Kini, wilayah Mangkunegaran dipimpin oleh KGPAA Mangkunegara X, penerus langsung trah Pangeran Sambernyawa.

Empat Gelar, Satu Akar Sejarah

Keempat gelar kebangsawanan ini, Pakubuwono, Hamengkubuwono, Mangkunegara, dan Paku Alam, berakar dari Mataram Islam yang terpecah karena dinamika politik dan perjanjian kolonial abad ke-18.

Masing-masing gelar memiliki filosofi mendalam:

  • Hamengkubuwono berarti pemeluk dan pemangku dunia.
  • Pakubuwono bermakna paku dunia, simbol penyeimbang jagat.
  • Mangkunegara berarti pengatur negara.
  • Paku Alam bermakna paku jagat, simbol kestabilan dan keadilan.

Dari Yogyakarta hingga Surakarta, dari Pakualaman hingga Mangkunegaran, semuanya adalah penerus sah warisan Mataram Islam, dinasti yang membentuk wajah budaya Jawa hingga hari ini.