Lift Kaca dan Bayangan Pembangunan di Tebing Bali
DI atas tebing Kelingking yang menjulang di Nusa Penida, suara mesin dan palu kini bersahutan dengan desau angin laut. Sebuah lift kaca sedang dibangun proyek yang disebut akan memudahkan wisatawan menuruni tebing curam menuju pantai berpasir putih yang selama ini hanya bisa dicapai dengan napas tersengal dan lutut gemetar.
Di atas kertas, ini terdengar sebagai inovasi wisata: kemajuan, aksesibilitas, modernitas. Namun di balik dinding kaca itu, ada cerita lain yang lebih dalam tentang bagaimana kita memahami pembangunan, pariwisata, dan bahkan makna “kemajuan” itu sendiri.
Dalam kacamata antropologi pembangunan, proyek lift kaca ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia adalah bagian dari ritual besar bernama pembangunan sebuah upacara modern di mana negara, investor, dan publik menampilkan diri sebagai pelaku kemajuan.
Di sini, pembangunan bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan simbol status dan kekuasaan. Seperti yang dikatakan antropolog James Ferguson, proyek semacam ini seringkali berfungsi sebagai “mesin anti-politik” ia terlihat netral, tapi diam-diam menata ulang siapa yang berhak bicara atas ruang, alam, dan masa depan.
Tebing Kelingking yang dulu liar dan mistis kini dijinakkan oleh logika ekonomi. Alam yang sakral diubah menjadi panorama berbayar. Di sinilah kontradiksi pembangunan sering muncul: yang disebut “kemajuan” ternyata kerap berarti penjinakan terhadap alam dan masyarakat lokal. Mungkin inilah wajah baru pembangunan kita; indah di brosur, rumit di lapangan.
Dari sisi antropologi pariwisata, cerita ini menjadi lebih menarik lagi. Kelingking, dengan bentuk tebingnya yang menyerupai dinosaurus, telah lama menjadi ikon global. Orang datang bukan untuk memahami, tetapi untuk memotret. Ketika lift kaca dibangun, lanskap itu tak lagi hanya alam; ia menjadi panggung visual, dirancang agar pengalaman “alami” bisa dikonsumsi dengan mudah.
Pembangunan lift Pantai Kelingking dipertanyakan, DPRD Bali panggil Bupati Klungkung.
Dean MacCannell pernah menyebut fenomena ini sebagai staged authenticity, keaslian yang dikurasi, dipoles, lalu dijual kembali kepada kita. Di satu sisi, lift kaca menjanjikan inklusivitas: orang tua, anak kecil, siapa pun bisa menikmati pantai tanpa harus menempuh jalur berbahaya. Tapi di sisi lain, ia juga menandai hilangnya sesuatu: keaslian pengalaman.
Petualangan, perjuangan, rasa kagum yang datang dari peluh dan langkah pelan di tebing kini digantikan oleh pemandangan instan di balik kaca berpendingin udara. Mungkin di sanalah paradoks pariwisata modern bersembunyi, kita ingin “alami”, tapi tak mau bersusah payah.
Lalu bagaimana dengan masyarakat lokal? Dalam banyak studi antropologi, masyarakat di sekitar destinasi wisata sering terpinggirkan secara halus. Mereka tidak lagi menjadi tuan rumah budaya, melainkan pekerja dalam industri yang menggunakan citra tempat mereka sendiri. Di Kelingking, hal ini mulai terasa: antara harapan akan penghasilan baru dan rasa kehilangan atas ruang yang dulu menjadi bagian dari identitas.
Pada akhirnya, lift kaca di tebing Bali bukan hanya proyek infrastruktur; ia adalah cermin kecil dari arah pembangunan kita. Antara menjaga dan menjual, antara melindungi dan menata ulang. Pertanyaannya bukan semata apakah proyek ini indah atau tidak, tetapi apakah kita masih mampu melihat alam dan budaya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar latar bagi foto wisata.
Karena sejatinya, pembangunan termasuk pembangunan pariwisata tidak boleh hanya diukur dari seberapa cepat kita mendirikan gedung atau seberapa tinggi kita membangun lift kaca di tebing. Pembangunan yang sejati adalah yang menjaga denyut nilai asli daerah, yang menghormati kearifan lokal, lanskap budaya, dan hubungan manusia dengan alamnya.
Ketika arah pembangunan lebih berpihak pada manusia banyak, bukan hanya pada modal dan citra, maka kemajuan tidak akan kehilangan makna. Sebab pembangunan yang benar bukan tentang menaklukkan alam, melainkan tentang berjalan bersamanya dengan hormat, dengan hati, dan dengan kesadaran kemanusiaan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.