Kenapa Disebut Madura? Ini Asal Usul Nama Pulau Garam yang Legendaris

trunojoyo, Madura, Pulau Madura, asal usul nama Madura, legenda asal usul nama madura, asal usul nama kota madura, sejarah Pulau Madura, sejarah terbentuknya pulau madura, egenda Madura, Kerajaan Mendangkawulan, trunojoyo madura, Kenapa Disebut Madura? Ini Asal Usul Nama Pulau Garam yang Legendaris

Pulau Madura, yang terletak di sebelah timur laut Provinsi Jawa Timur, dikenal luas dengan sebutan Pulau Garam.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa nama “Madura” ternyata berakar dari sebuah kisah legenda kuno yang sarat makna dan keajaiban.

Letak dan Pembagian Wilayah Madura

Pulau Madura berada sekitar 70 derajat selatan garis khatulistiwa, di antara 112° dan 114° bujur timur. Pulau ini dipisahkan dari Pulau Jawa oleh Selat Madura yang menghubungkan Laut Jawa dan Laut Bali.

Secara administratif, Madura termasuk wilayah Provinsi Jawa Timur dan terbagi menjadi empat kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Dikutip buku berjudul "Ayo Mengenal Indonesia: Madura". luas Pulau Madura mencapai sekitar 5.300 kilometer persegi dengan panjang sekitar 190 kilometer dan lebar terbesarnya mencapai 40 kilometer.

Untuk mencapai Madura, wisatawan biasanya menyeberang melalui Selat Madura dari Surabaya menuju Pelabuhan Kamal di Kabupaten Bangkalan, atau menggunakan Jembatan Suramadu, yang kini menjadi ikon penghubung dua pulau tersebut.

Selain pulau utamanya, Madura juga dikelilingi hampir 50 pulau kecil, baik berpenghuni maupun tidak.

Beberapa yang terkenal antara lain Kepulauan Kangean, Sapudi, Raas, Sapeken, Pulau Genteng, Pulau Iyang, dan Pulau Puteran. Di bagian utara juga terdapat pulau-pulau kecil seperti Masalembu, Masakambing, dan Keramian, yang menjadi penghubung antara Madura dan Kalimantan.

Legenda Madura, sari Madu Oro

Nama “Madura” dipercaya berasal dari kisah kuno kerajaan Mendangkawulan yang diperintah oleh Raja Sanghiang Tunggal.

Dikisahkan, putri Sang Raja suatu malam bermimpi mulutnya kemasukan rembulan. Beberapa bulan kemudian, sang putri diketahui mengandung tanpa mengetahui siapa ayah dari bayi tersebut.

Merasa malu, Sang Raja memerintahkan Patih Pranggulang untuk mengasingkan putrinya ke dalam hutan dan mengakhiri hidupnya. Namun, ketika sang patih mencoba menjalankan perintah, terjadi keajaiban: pedang yang diayunkan tidak mampu melukai sang putri.

Patih pun sadar bahwa kehamilan putri bukanlah kesalahan manusiawi.

Ia mengganti namanya menjadi Kiai Poleng, mengenakan kain bermotif poleng khas Madura, dan membuat getek atau rakit dari bambu untuk menyelamatkan sang putri.

Dengan kesaktiannya, Kiai Poleng menendang getek itu hingga meluncur jauh menyeberangi laut dan akhirnya berhenti di sebuah daratan yang disebut Madu Oro.

Dalam bahasa setempat, “Madu Oro” berarti “pojok dari tempat luas”. Dari nama inilah kemudian muncul sebutan Madu Ro, yang lama-kelamaan berubah menjadi Madura.

Versi lain menyebutkan bahwa nama Madura berasal dari kata “Lemah Dhuro”, yang berarti tanah

yang tidak sesungguhnya.

Hal ini merujuk pada kondisi pulau yang kadang tidak tampak saat air laut pasang, dan baru terlihat kembali saat air laut surut.

Sejarah Panjang Pulau Madura

trunojoyo, Madura, Pulau Madura, asal usul nama Madura, legenda asal usul nama madura, asal usul nama kota madura, sejarah Pulau Madura, sejarah terbentuknya pulau madura, egenda Madura, Kerajaan Mendangkawulan, trunojoyo madura, Kenapa Disebut Madura? Ini Asal Usul Nama Pulau Garam yang Legendaris

Foto: Kondisi penyeberangan di Pelabuhan Jangkar.

Secara historis, Madura telah dikenal sejak abad ke-17.

Pada masa itu terdapat lima kerajaan di pulau ini. Tahun 1624, wilayah Madura ditaklukkan oleh Sultan Agung dari Mataram, dan sebagian besar penguasanya tewas, kecuali Pangeran Cakraningrat dari Sampang.

Tokoh legendaris Trunojaya kemudian memimpin perlawanan terhadap Mataram pada tahun 1672, dengan dukungan dari VOC (Belanda).

Pada masa-masa inilah wilayah Madura timur mulai terlihat perannya. Perang antara Madura timur dengan Mataram berakhir dengan kemenangan Madura karena bekerja sama dengan VOC.

Tahun 1705 Sultan Mataram berusaha merebut wilayah Sumenep dan Pamekasan dari VOC, namun gagal.

Pada tahun 1743 Madura Barat akhirnya masuk dalam kekuasaan VOC hingga  pertengahan abad ke-19.

Menariknya, pada masa penjajahan Belanda, Madura tidak termasuk wilayah Tanam Paksa. Sebagai gantinya, para penguasa lokal diwajibkan menyuplai hasil bumi dan serdadu bagi stabilitas politik kolonial.

Namun, kemiskinan dan kelaparan melanda Madura pada awal abad ke-20.

Pemerintah kolonial sempat menyalurkan dana Madura Welvaartsfonds (Dana Kesejahteraan Madura), tetapi program ini berhenti setelah Jepang menduduki Indonesia pada 1942.

Pada masa pendudukan Jepang, kondisi semakin memburuk. Banyak rakyat Madura yang meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan kerja paksa (romusha).

Setelah proklamasi kemerdekaan, Madura sempat direncanakan menjadi negara bagian sendiri dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), namun gelombang demonstrasi besar di Pamekasan pada 1950 membuat rencana itu dibatalkan.

Sejak saat itu, Madura resmi menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur, terdiri atas empat kabupaten besar seperti saat ini.

Kini, Madura bukan hanya dikenal karena produksi garamnya, tetapi juga karena warisan budayanya yang kuat, seperti karapan sapi, batik khas Madura, hingga tradisi sape sonok.

Di balik kerasnya karakter masyarakat Madura, tersimpan kisah panjang tentang kesetiaan, perjuangan, dan kekuatan moral, yang berakar dari legenda “Madu Oro” itu sendiri.

Nama Madura bukan sekadar penanda geografis, ia adalah simbol dari sebuah asal-usul sakral, perpaduan antara legenda, sejarah, dan kekuatan budaya yang masih hidup hingga kini.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.