Kenapa Disebut Seblak? Makanan Khas Bandung Viral hingga ke Thailand

jawa barat, Seblak, makanan khas bandung, sejarah seblak, lokalpedia, kenapa disebut seblak, Kenapa Disebut Seblak? Makanan Khas Bandung Viral hingga ke Thailand

Siapa sangka, makanan khas Sunda yang dulu hanya dikenal sebagai jajanan kaki lima di Bandung kini tengah jadi sensasi baru di Thailand.

Seblak—hidangan pedas, gurih, dan beraroma kencur ini—ramai diburu warga Negeri Gajah Putih yang penasaran dengan rasanya.

Awalnya, seblak hanyalah makanan sederhana yang terbuat dari kerupuk basah dimasak bersama bumbu halus seperti bawang putih, kencur, dan cabai rawit. Namun seiring waktu, kreasi seblak berkembang pesat. Kini, aneka topping seperti mi, makaroni, bakso, hingga aci menambah kekayaan rasa kuliner khas Bandung ini.

Popularitas seblak di Thailand mulai mencuat setelah akun TikTok @TheChanisara membagikan video dirinya saat mencicipi seblak pada Kamis (4/9/2025). Dalam unggahan itu, ia tampak antusias menikmati setiap suapan.

“Saya pertama kali menemukannya di sini. Rasanya enak sekali, saya tidak bisa berhenti memakannya,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, TikToker @bbeqq11 turut mempopulerkan tren ini dengan memborong seblak instan dari Indonesia untuk dijadikan oleh-oleh. Fenomena ini pun membuat warganet Tanah Air merasa bangga karena salah satu kuliner Nusantara berhasil mencuri perhatian dunia.

Di platform X, pembahasan soal seblak yang kini viral di Thailand juga ramai diperbincangkan. Berdasarkan penelusuran Kompas.com, tren ini bermula dari influencer Thailand bernama Chanisara—akrab disapa Oon—yang mengunggah video saat menyantap seblak dengan penuh semangat. Ia bahkan berkali-kali menyebut kata “Aroi” yang berarti enak. Tak lama, banyak pengguna TikTok lain mengikuti jejaknya dengan mencoba seblak instan atau membuatnya sendiri berdasarkan resep dari media sosial.

Kenapa Disebut Seblak?

Tren kuliner pedas memang sedang digandrungi masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Sensasi “menantang lidah” membuat banyak orang gemar mencoba berbagai level pedas. Dari sekian banyak pilihan, seblak menjadi salah satu yang paling populer.

Makanan ini dikenal berasal dari Jawa Barat dan dibuat dari campuran bumbu cikur (kencur), cabai, serta aneka isian seperti kerupuk kuning kenyal, mi, makaroni, bakso, dan aci.

Kata seblak sendiri ternyata berasal dari bahasa Sunda, yakni “segak” atau “nyegak”, yang berarti menyengat—menggambarkan aroma kuat dari kencur sebagai bumbu utama.

Asal-usul Seblak

Sejarawan kuliner Fadly Rahman menyebut tidak ada catatan tertulis yang pasti mengenai asal mula seblak.

“Tidak ada bukti tertulisnya, ada yang mengatakan (seblak) dari Bandung, ada yang mengatakan asalnya dari Cianjur. Tapi yang pasti memang seblak lahir atau muncul pertama kali di beberapa daerah di wilayah Jawa Barat,” kata Fadly saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Jumat (25/2/2022).

Menurut Fadly, seblak merupakan hasil kreativitas masyarakat Jawa Barat dalam mengolah berbagai bahan makanan yang ada di sekitar mereka.

“Bahkan kalau dilihat dari buku resep masakan Sunda zaman dahulu, tidak ada seblak. Ini memang murni hasil dari kreativitas generasi muda zaman dulu,” ujarnya.

Ia menambahkan, seblak mulai muncul di Jawa Barat sejak era 1990-an dan mulai populer pada awal 2000-an hingga kini.

Kerupuk Aci dan Melimpahnya Produksi Tapioka

Salah satu komponen penting dalam seblak adalah kerupuk aci, yang ternyata berkaitan dengan melimpahnya produksi tapioka di Jawa Barat.

“Jawa Barat itu sentra produksi tepung tapioka, makanya banyak sekali ragam kuliner aci-acian yang populer,” kata Fadly.

Dari bahan dasar yang sama, masyarakat Jawa Barat juga menciptakan beragam makanan seperti cireng (aci digoreng), cilok (aci dicolok), bakso aci, hingga kerupuk aci yang menjadi topping khas seblak.

“Jadi, kalau ditanya komposisi seblak Bandung, tidak ada jawaban yang pasti karena setiap pelaku usaha seblak punya versinya masing-masing dalam memodifikasi aci dan topping seblak,” ujar Fadly.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.