Riset Soroti 3 Hal terkait Kinerja BUMN, Tidak Hanya Soal Keuangan
Kinerja perusahaan pelat merah menjadi sorotan publik. Tidak hanya karena skala bisnisnya yang besar, tetapi juga karena kontribusinya terhadap perekonomian nasional. The Asian Post Research baru saja merilis hasil kajian bertajuk “Rating 160 BUMN Versi The Asian Post 2025” dengan menilai kinerja BUMN sepanjang 2023–2024.
Sebanyak 160 perusahaan masuk dalam pemeringkatan The Asian Post. Proses ini dilakukan melalui kurasi dan pengelompokan ke dalam tiga klaster, yaitu BUMN, BUMN di bawah Kementerian Keuangan, dan anak perusahaan BUMN. Hasil penelitian ini memberikan gambaran menarik tentang bagaimana BUMN menghadapi tantangan ekonomi.
1. Keterkaitan dengan Misi Pembangunan Nasional
Riset The Asian Post menyinggung bagaimana keberhasilan program perusahaan negara sejalan dengan misi pembangunan pemerintah dan Asta Cita. Dalam konteks ini, penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pembangunan desa menjadi tolok ukur penting, bukan hanya sekadar laba atau pendapatan.
2. Akses Pembiayaan untuk Kelompok Rentan
Salah satu sorotan adalah pentingnya pemerataan akses pembiayaan, khususnya bagi masyarakat prasejahtera dan kelompok unbankable. Hal ini memperlihatkan peran BUMN sebagai agen pembangunan, yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga berupaya memperluas jangkauan layanan keuangan.
3. Manfaat dan Dampak Sosial
Sejak lama, beberapa BUMN didirikan dengan mandat ganda, yaitu memberi dukungan finansial sekaligus nilai tambah sosial dan intelektual. Penekanan pada pemberdayaan, pembinaan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan plat merah.
Menariknya, bukan hanya BUMN besar yang bersinar, melainkan juga anak perusahaan. Dari riset tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dinobatkan sebagai The Best State Owned Enterprise (SOE) 2025 dengan predikat “Sangat Baik”.
PNM Meraih Penghargaan The Best State Owned Enterprise (SOE) 2025
Kinerja keuangan PNM, dinilai sehat dan mampu memberikan kontribusi nyata di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. Ini menjadi bukti bahwa anak perusahaan BUMN bisa memainkan peran strategis, bukan sekadar pendukung.
Keberhasilan program PNM juga selaras dengan misi Asta Cita dalam penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pembangunan desa. Sejak didirikan pada tahun 1999, PNM mengemban tugas yang mulia sebagai jasa keuangan non bank yang bukan sekadar memberikan modal finansial namun juga memberikan nilai tambah intelektual dan sosial.
Direktur Utama PNM Arief Mulyadi menegaskan untuk terus mengoptimalkan pemerataan akses pembiayaan kepada lapisan masyarakat prasejahtera.
“PNM akan terus memberikan modal usaha dan mengelola portofolio bisnis secara baik agar dapat terus menyalurkan pembiayaan kepada mereka yang unbankable, karena di sana banyak perempuan yang punya mimpi untuk memperbaiki kehidupannya," ujar jelas Arief yang dikutip dari keterangan resminya.
Kampanye tagar #PNMuntukUMKM dan #PNMPemberdayaanUMKM Program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif serupa tahun lalu. Pada tahun sebelumnya, anak ush BUMN mengusung tagar bertajuk #CariTauLangkahBaru demi memperluas dampak dan membina nasabah unggulan agar semakin berkembang.
Laporan The Asian Post 2025 menegaskan bahwa kinerja BUMN tidak bisa hanya diukur dari sisi finansial. Kontribusi sosial, pemerataan akses ekonomi, dan keselarasan dengan misi pembangunan nasional juga menjadi indikator penting. Dari sini, publik dapat melihat bahwa perusahaan pelat merah, baik induk maupun anak usaha, punya tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara profit dan manfaat sosial.