Polytron Superliga Junior 2025, Fondasi Menuju Thomas-Uber dan Kejuaraan Dunia Bergengsi
Malam itu, 17 Oktober 2021, gema “Indonesia! Indonesia!” memenuhi Ceres Arena, Aarhus, Denmark.
Tim bulu tangkis putra Indonesia mengakhiri penantian panjang 19 tahun dengan menjuarai Piala Thomas 2020. Para pemain muda dan senior saling bahu-membahu. Mereka mempersembahkan supremasi beregu yang lama dirindukan.
Kemenangan tersebut bukan sekadar soal teknik atau strategi. Lebih dari itu, kemenangan ini merupakan buah dari mental beregu—sebuah kekuatan kolektif yang membuat atlet tidak hanya bertanding untuk diri sendiri, tetapi juga untuk bendera, tim, dan bangsa.
Kekuatan beregu itu kini coba dipupuk sejak dini melalui ajang bergengsi, seperti Polytron Superliga Junior 2025. Ajang ini digagas sebagai fondasi yang menanamkan nilai solidaritas, kerja sama, serta tanggung jawab kolektif.
Diinisiasi oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation dan Polytron, ajang bergengsi itu diikuti oleh 654 peserta dari delapan negara.
Dalam bulu tangkis, sebagian besar turnamen bersifat individual. Namun, saat tampil di ajang beregu, seperti Thomas Cup, Uber Cup, atau Sudirman Cup, mental seorang atlet diuji dengan cara berbeda.
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Hartono menegaskan hal itu saat ditemui di sela-sela perhelatan Polytron Superliga Junior 2025 di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (20/9/2025).
“Kami punya iktikad agar pemain Indonesia sejak kecil sudah terbiasa bermain dalam format beregu sehingga pada saatnya nanti mereka benar-benar siap menghadapi turnamen, mulai dari Asia Junior Championships, World Junior Championships, hingga level tertinggi, seperti Piala Thomas, Uber, dan Sudirman,” jelas Victor.
Polytron Superliga Junior 2025, lanjut dia, bukan semata ajang mencari juara, melainkan laboratorium pembentukan mental juara.
anak yang masih berusia belasan tahun dilatih untuk memahami arti pengorbanan bagi tim. Mereka belajar bahwa kemenangan personal tidak ada artinya jika tim kalah. Sebaliknya, kegagalan individu masih bisa ditebus rekan-rekan setim.
Polytron Superliga Junior 2025 menjadi laboratorium pembentukan mental pemain untuk menghadapi kejuaraan dunia bergengsi.
Nilai-nilai kebersamaan ini pula yang pernah dialami Tontowi Ahmad—peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 di ganda campuran bersama Liliyana Natsir. Saat ditemui di tempat yang sama, Owi mengingat masa-masa awalnya bergabung di PB Djarum.
Menurutnya, sistem pembinaan beregu sejak usia dini—seperti yang dipraktikkan di Polytron Superliga Junior 2025—sangat penting.
“Kalau mereka kelak main di Thomas Cup atau Uber Cup, mentalnya sudah terbentuk (sejak sekarang). Mereka akan paham rasanya bertanding untuk tim, bukan hanya untuk diri sendiri,” ujarnya.
Ajang beregu yang langka dan penting
Hal senada disampaikan Pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Pengurus Kabupaten (Pengkab) Kudus Revindra Raynaldi.
Ia menilai, format beregu di Polytron Superliga Junior 2025 memberikan pengalaman berharga yang jarang ditemukan di turnamen lain.
“Di Indonesia, pertandingan beregu masih jarang. Mungkin hanya satu atau dua kali dalam setahun. Padahal, kalau kita bicara Thomas atau Uber Cup, itu soal kekuatan beregu. Jadi, ajang seperti ini memainkan peran penting (untuk mempersiapkan diri),” ujarnya.
Revindra menambahkan, ajang U-19 di Polytron Superliga Junior 2025 bahkan bisa disebut sebagai cikal bakal tim nasional.
“Dari sini kita bisa melihat calon-calon pemain masa depan. Mereka masih harus melewati beberapa tahapan, tapi pengalaman beregu ini jadi fondasi yang sangat berharga,” kata Revindra.
PBSI sendiri menaruh perhatian besar pada pembinaan sejak usia dini. Kejuaraan kabupaten (Kejurkab) dan provinsi (Kejurprov) disebutnya sebagai ujung tombak program pembinaan.
Ajang bergengsi dengan format internasional
Di lapangan, suasana Polytron Superliga Junior 2025 memang berbeda dari turnamen biasa. Teriakan penyemangat, tepuk tangan, dan nyanyian dukungan membahana saat rekan setim berlaga. Anak-anak yang biasanya hanya fokus pada diri sendiri, kini belajar arti kebersamaan.
Mereka juga belajar menekan ego. Dalam beregu, kemenangan pribadi tidak otomatis membawa pulang piala, sedangkan kekalahan pribadi tidak selalu berarti kiamat. Semangat itu ditegaskan Owi.
“Dalam beregu, enggak bisa egois. Menang sendiri belum tentu tim menang, kalah pun belum tentu tim kalah. Itu yang membedakan,” katanya.
Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal penting saat kelak mereka membela Merah Putih di ajang internasional.
Tontowi Ahmad, peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 di ganda campuran bersama Liliyana Natsir saat ditemui di ajang Polytron Superliga Junior 2025 yang digelar di GOR Jati, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (21/9/2025).
Polytron Superliga Junior 2025 mempertemukan klub-klub besar dengan format beregu yang mirip dengan kejuaraan dunia, mulai dari nomor tunggal putra, tunggal putri, hingga ganda.
Dengan format itu, pemain dipaksa tampil all out karena hasil pertandingan bukan hanya milik dirinya, melainkan milik tim. Atmosfernya serupa dengan Thomas Cup atau Uber Cup.
Hal ini membuat Polytron Superliga Junior 2025 dipandang sebagai turnamen bergengsi, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di kancah bulu tangkis internasional.
Klub-klub dari luar negeri pun kerap tertarik untuk ikut serta, menambah warna kompetisi sekaligus meningkatkan kualitas lawan tanding.
“Saya lihat semua peserta sangat bersemangat, baik tim dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini yang kita harapkan. Saya juga ingin melihat klub-klub dari daerah mampu bersaing dengan klub-klub besar yang sudah lebih dulu eksis,” ujar Victor.
Meski ada beberapa negara yang terpaksa mundur karena kendala jadwal dan situasi, Victor tetap optimistis partisipasi akan terus bertambah.
“Ke depan, mungkin bisa 12 sampai 15 negara yang ikut. Semoga Jepang, Korea, Singapura, bahkan India bisa hadir. Melawan pemain luar tentu memberikan pengalaman berbeda,” katanya.
Regenerasi tak pernah putus
Indonesia dikenal sebagai kiblat bulu tangkis dunia. Namun, kejayaan itu tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa peremajaan. Regenerasi atlet menjadi kunci agar tradisi juara tetap terjaga.
Owi optimistis dengan generasi muda. Ia menyebut sejumlah nama yang mulai bersinar di ganda campuran maupun ganda putra.
“Kalau latihan mereka dijaga, disiplin, dan non-teknisnya baik, saya rasa lima tahun ke depan Indonesia tetap kuat,” ujarnya.
Optimisme serupa diungkapkan Revindra. Menurutnya, bibit-bibit pemain di U-13 dan U-15 sudah menunjukkan potensi yang cerah. Tantangannya adalah mengawal mereka hingga masuk ke level nasional dan internasional.
Bahkan, Victor menyebut Polytron Superliga Junior 2025 lebih dari sekadar turnamen, tetapi juga ekosistem pembinaan.
Di dalamnya terdapat klub besar yang menyiapkan pemain dengan manajemen profesional, PBSI yang melakukan pemantauan dan seleksi, sponsor yang mendukung keberlanjutan, serta masyarakat yang memberi dukungan moral.
Ekosistem itu yang membuat bulu tangkis Indonesia terus melahirkan juara. Polytron Superliga Junior 2025 berperan sebagai kawah candradimuka tempat para atlet muda mengasah kemampuan sekaligus membentuk mental beregu.
“Polytron Superliga Junior 2025 membuktikan bahwa prestasi dunia tidak lahir dalam semalam. Prestasi dibangun melalui proses panjang, sistematis, dan kolektif. Lebih dari sekadar mencari pemenang, turnamen ini menanamkan nilai solidaritas, kerja sama, dan tanggung jawab,” tegas Victor.
Sebagaimana Thomas Cup 2020 telah menunjukkan kekuatan beregu Indonesia, Polytron Superliga Junior 2025 hadir sebagai jembatan yang akan memastikan kejayaan itu terus berlanjut.
Dari Kudus, semangat kebersamaan itu disemai, tumbuh, dan suatu hari akan mekar di panggung dunia.