Tekanan untuk Menikah Saat Belum Siap Justru Bikin Orang Enggan dengan Pernikahan

Banyak orang masih menganggap menikah sebagai pencapaian penting dalam hidup.
Jadi, tidak heran jika pernikahan menjadi tuntutan dan tekanan dari keluarga atau lingkungan untuk menikah pada usia tertentu.
Namun, tekanan untuk menikah justru bisa membuat stres.
Psikolog klinis Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., yang berpraktik di RS DR Oen Solo Baru mengatakan, tekanan menikah zaman dahulu dan zaman sekarang berbeda.
Harus mapan dan memiliki segalanya
Sekarang ini, orang lebih sulit dituntut untuk menikah cepat, karena menurutnya, banyak orang di zaman sekarang yang berpikir bahwa mereka harus mapan dan punya segalanya saat menikah.
“Orang-orang sekarang berpikir bahwa ketika mereka menikah nanti, mereka harus punya semuanya,” ungkap dia saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.
Joko merujuk pada teori hierarki kebutuhan Maslow yang diperkenalkan oleh seorang tokoh psikolog asal Amerika Serikat bernama Abraham Maslow.
Dalam teori itu, ada aktualisasi diri yang merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki kebutuhan manusia.
“Aktualisasi diri tidak semuanya pasti sudah berhenti di situ. Misalnya, punya HP merek tertentu. Lalu ada HP dari merek lain yang ingin dibeli, bukan karena HP yang ada sudah rusak, tapi karena HP dari merek lain ada fitur menarik,” terang dia.
Hal seperti itu bisa membuat seseorang menginginkan sesuatu yang lebih.
Dengan kata lain, ketika sudah mapan, sebenarnya tidak ada seorang pun yang benar-benar mapan, jika mengikuti gengsi dan standar mapan yang ditentukan oleh orang lain.
Menjadi mapan memang diperlukan sebelum menikah. Namun, seseorang bisa tertekan dan menjadi takut untuk menikah jika merasa belum mapan saat mencapai usia yang sudah ditentukan untuk menikah oleh keluarga atau lingkungan.
Ekspektasi kesiapan diri yang tidak realistis
Menikah adalah membangun kehidupan baru dari awal. Inilah mengapa seseorang harus sudah siap secara finansial, mental, dan emosional sebelum membangun rumah tangga.
“Tapi, bukan berarti ketika menikah, kita sudah siap 100 persen. Kadang orang takut menikah juga bisa disebabkan karena sudah punya pola pikir yang salah terkait dengan harus punya uang sekian,” tutur Joko.
Pola pikir seperti itu bisa terbentuk ketika seseorang terus-menerus terpapar oleh “standar” kesiapan diri dalam keluarga atau lingkungan yang mengharuskannya menikah di usia tertentu.
Padahal, kesiapan diri untuk menikah tidak bisa dibangun dalam sekejap.
Belum lagi, di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini, seseorang harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup sehari-hari.
Tidak jarang pula ada yang memanfaatkan waktu luang untuk terus bekerja agar bisa lekas mengumpulkan uang, sehingga menikah pun tidak terpikirkan.
“Lingkungan dan orangtua seharusnya memahami hal tersebut,” imbau Joko.
“Jadi, tentu tekanan ini bisa memicu stres karena terkadang individu belum siap menikah karena merasa belum mapan dan lain sebagainya, tapi dipaksa menikah. Keadaan semakin stres ini menimbulkan resistensi; dia akan melawan atau menghindar,” lanjut dia.
Ketika seseorang memilih untuk menghindar, mereka bisa saja merasa malas ketika harus bertemu dengan orang-orang yang memaksanya untuk menikah di usia tertentu.
Perlu saling memahami
Perilaku menghindar itu terkadang bisa membentuk pola pikir negatif, yakni melihat pernikahan sebagai sebuah beban, bukan jalan hidup yang dipilih secara sadar dan sukarela.
Tekanan untuk menikah di usia tertentu memang seringkali datang dari orangtua, jika berbicara dari segi keluarga, dan tetangga jika berbicara dari segi lingkungan.
Joko menyoroti tekanan dari orangtua untuk segera menikah. Menurut dia, orangtua dan anak harus saling memahami.
“Anak harus memahami keinginan orangtua untuk bisa memiliki cucu, dan orangtua harus memahami anaknya,” ujar dia.
Orangtua harus memahami apabila anak belum ingin menikah, dan belum menikah saat mencapai “batas” usia yang telah mereka tentukan.
Kunci dari saling memahami adalah berkomunikasi.
Anak harus mengomunikasikan mengapa ia belum ingin atau belum siap menikah, dan orangtua harus mengkomunikasikan mengapa mereka ingin anaknya menikah di usia tertentu.
Siapa tahu, kedua belah pihak menemukan jalan tengah yang dapat membuat hubungan tetap harmonis.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.