Penjelasan Ilmiah di Balik Sensasi Butterfly in Stomach Saat Jatuh Cinta
Bayangkan perasaanmu saat bersiap menghadiri kencan pertama, atau ketika bertatapan dengan orang yang paling disayangi.
Dalam momen romantis tersebut, kamu mungkin merasakan sensasi seperti ada kupu-kupu di perut, yakni semacam gejolak yang tiba-tiba muncul saat hati berdebar.
Fenomena manis ini sangat familiar di awal hubungan asmara. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh dan otak? Berikut penjelasannya, mengutip Real Simple, Minggu (7/6/2026).
Penjelasan di balik sensasi butterfly
Asal mula munculnya sensasi seperti ada kupu-kupu di perut
Penjelasan fisiologis di balik munculnya rasa kupu-kupu di perut berkaitan erat dengan respons lawan-atau-lari yang dimiliki tubuh.
Respons ini merupakan proses pertahanan diri yang otomatis diaktifkan oleh sistem saraf simpatik manusia saat menghadapi situasi pemicu stres, termasuk antisipasi asmara.
Amigdala, yaitu bagian otak yang bertugas mengenali ancaman dan memproses emosi, memegang peranan besar memicu gejolak tersebut.
"Amigdala memberi sinyal kepada tubuh untuk bersiap mengambil tindakan, memicu respons lawan-atau-lari seperti detak jantung yang lebih cepat dan otot perut yang menegang," ungkap seorang neurosaintis sekaligus Presiden dan CEO Anavex Life Sciences, Christopher U. Missling, PhD, MS.
"Sementara itu, saraf usus bereaksi terhadap berkurangnya aliran darah dan peningkatan pergerakan, sehingga menghasilkan sensasi kepakan," lanjut dia.
Sensasi menyerupai kepakan sayap ini merupakan contoh nyata cara kerja poros usus dan otak. Pakar meyakini ada jalur komunikasi dua arah antara pikiran dan lambung.
Otak mengirimkan sinyal ke usus demi kelancaran pencernaan, sedangkan usus mengirimkan sinyal balasan yang memengaruhi suasana hati atau reaksi tubuhmu terhadap tekanan.
Keterikatan biologis ini menjelaskan alasan mengapa kamu tiba-tiba mengalami kram perut sebelum kencan penting, atau alasan pasien sindrom iritasi usus besar menyadari gejalanya memburuk saat emosi bergejolak.
"Usus dan otak berkomunikasi secara terus-menerus melalui saraf vagus dan chemical messenger, yang berarti keadaan emosional dapat memengaruhi aktivitas usus secara langsung," papar Missling.
"Sistem dua arah inilah yang menjadi alasan saluran pencernaan bereaksi begitu cepat terhadap perubahan suasana hati atau stres," sambung dia.
Kaitan emosi asmara dengan reaksi tubuh
Dalam keseharian, banyak orang mengaitkan sensasi kupu-kupu dengan asmara. Contohnya terlihat jelas pada awal terjalinnya hubungan, saat menyentuh tangan kekasih, atau ketika mengejar peluang baru.
Namun, sensasi kupu-kupu sebenarnya belum tentu merupakan akibat langsung emosi romantis tertentu, melainkan wujud nyata dari respons fisiologis tubuh terhadap situasi mendebarkan.
"Secara psikologis, sensas kupu-kupu disebabkan oleh otak yang mengidentifikasi hal-hal yang penting, tidak diketahui, atau cukup signifikan secara emosional bagi kita hingga memicu respons dari tubuh," kata seorang psikolog klinis, Carolina Estevez, PsyD.
"Penelitian psikologis menunjukkan, tubuh akan bereaksi dengan cara yang sama terlepas dari apakah ia merasa cemas atas ancaman yang dirasakan atau bersemangat tentang sebuah peluang," jelasnya.
Pada akhirnya, kata Estevez, cara seseorang menafsirkan sensasi tersebut akan menentukan apakah hal itu terasa seperti kegembiraan atau kecemasan.
Dampak jangka panjang pada tubuh
Meski sensasi kupu-kupu sering dikaitkan dengan indahnya jatuh cinta, poros usus dan otak (gut-brain axis) yang teraktivasi secara tidak wajar bisa membuatmu rentan mengalami masalah pencernaan atau kecemasan.
Karenanya, mengembangkan strategi pengelolaan stres atau emosi yang berlebihan guna menenangkan saraf saat menghadapi situasi intens, menjadi langkah preventif yang membantu.
Pada sebagian besar waktu, sensasi kupu-kupu ini sama sekali tidak berbahaya bagi tubuh.
Jika mencoba mengenang kembali momen istimewa dalam hidup saat merasakan sensasi tersebut, kamu kemungkinan besar akan langsung mengaitkannya dengan pengalaman romantis dan positif.
Momen indah seperti detik-detik sebelum melakukan ciuman pertama dengan pasangan impian, atau hari pertama merintis karier idaman, membuktikan sensasi ini hadir sebagai penanda kebahagiaan.
"Sebagian besar waktu, sensasi kupu-kupu berfungsi sebagai indikator positif bahwa kita terlibat, fokus, dan berinvestasi secara emosional pada apa yang sedang kita alami," tutup Estevez.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang