Mengapa Backpacker Australia hingga Eropa Jatuh Cinta pada Kuta? Ini Sejarahnya

Array,Mengapa Backpacker Australia hingga Eropa Jatuh Cinta pada Kuta? Ini SejarahnyaBadung

Kuta hingga saat ini masih menarik banyak wisatawan backpacker dari seluruh dunia. Backpacker asal Australia, Rusia, Eropa Timur dan AS menjadikan Kuta sebagai tujuan pertama di Bali karena letaknya yang dekat dengan bandara, budaya selancar, semua akses dapat dicapai dengan berjalan kaki, penginapan yang terjangkau serta kehidupan malamnya.

Pada tahun 1972, Kuta pernah dilanda gelombang kedatangan backpacker hippies. Bagi kaum hippies, hidup adalah tentang kebebasan, bepergian semurah mungkin, menjelajah dunia tanpa batas, lalu membanggakan pengalaman tersebut.

Hippies sebagian besar adalah kelompok remaja kelas menengah kulit putih yang berusia dua puluh tahun dan termasuk dalam apa yang disebut oleh para demografi sebagai generasi baby-boom.

Mereka merasa terasing dari masyarakat kelas menengah, yang mereka lihat didominasi oleh materialisme dan penindasan. Hippies mengembangkan gaya hidup khas mereka sendiri, di mana mereka membangun rasa marjinalitas.

Hippie, selama tahun 1970-an, merupakan bagian dari gerakan kontra budaya yang menolak adat istiadat kehidupan arus utama Amerika. Gerakan ini berasal dari kampus-kampus perguruan tinggi di AS, dan menyebar ke Kanada, Inggris dan Australia.

Oleh pemerintah Orde Baru waktu itu, keberadaan hippies dianggap tidak menguntungkan dan lebih banyak menimbulkan masalah. Keberadaan para hippies merupakan penyakit masyarakat yang perlu segera ditangani.

Mereka jarang sekali mengeluarkan uang, dan dalam beberapa kasus, mereka bahkan tidak memiliki uang sama sekali. Dengan penampilan layaknya gelandangan, backpacker hippies dikenal sebagai turis kere atau turis gembel.

Hippies di Kuta mempopulerkan konsumsi jamur tahi sapi (jamur magic mushroom) serta seks bebas, atau disebut dengan istilah "sun, sea, sex and smoke".

Tetapi keberadaan turis kere ini, tahun 1972, justru menghidupkan geliat pariwisata Kuta. Warga sekitar, yang awalnya berprofesi sebagai petani dan nelayan, mulai membangun homestay atau penginapan yang menyatu dengan rumah untuk backpacker, dengan harga yang terjangkau.

Ini juga mendorong harga tanah di wilayah Kuta mulai meroket, dan investasi pariwisata di wilayah ini tumbuh pesat. Berbagai art shop, restoran, kios pedagang kaki lima dan pedagang asongan, tumbuh dan bermunculan di Kuta.

---

Hari Suroto

Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara