Solusi Tangani Anak Picky Eater yang Alergi Susu Sapi

Solusi Tangani Anak Picky Eater yang Alergi Susu Sapi

Menghadapi anak yang sangat pemilih terhadap makanan alias picky eater, sekaligus memiliki alergi susu sapi, jadi tantangan buat orangtua.

Kondisi ini menjadi semakin rumit ketika anak membutuhkan tambahan kalori, namun tidak bisa mengonsumsi Susu Tinggi Kalori (sutingkal) karena reaksi alergi seperti diare atau gangguan pencernaan lainnya.

Sutingkal masuk dalam kategori Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK). Berbeda dengan susu formula biasa, sutingkal memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan kalori anak yang tertinggal pertumbuhannya.

Menurut dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, dalam situasi ini, orangtua harus memulai dengan diagnosa yang sangat presisi sebelum melakukan intervensi nutrisi. Sebab, tidak semua klaim alergi susu sapi pada anak terbukti benar secara klinis.

"Nomor satu, benar-benar pastikan itu alergi susu sapi atau enggak. Banyak orang yang ngeklaim dia alergi susu sapi, tapi enggak semuanya benar-benar alergi susu sapi," ujar dr. Ian dalam acara Health Corner bertajuk "Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat" di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Cara memastikan alergi susu sapi pada anak

Solusi Tangani Anak Picky Eater yang Alergi Susu Sapi

dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A (ujung kanan) dalam acara Health Corner bertajuk Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh orangtua adalah melakukan uji eliminasi dan tantangan kembali (rechallenge). Proses ini membutuhkan waktu dan pengamatan yang konsisten untuk melihat apakah gejala yang muncul benar-benar dipicu oleh protein susu sapi.

Dokter Ian menjelaskan bahwa orangtua perlu menghentikan pemberian susu sapi selama dua hingga empat minggu dan memantau gejalanya, seperti ruam, mual, muntah, hingga batuk pilek. Jika gejala tersebut hilang permanen, maka langkah selanjutnya adalah memberikan kembali susu sapi sebagai pembuktian.

"Kalau begitu Anda coba lagi kasih susu sapi, di-rechallenge lagi, ternyata muncul gejala dalam satu sampai tiga hari, maka itu memang betul anaknya alergi susu sapi," jelas dr. Ian.

Menurut dokter spesialis anak yang berpraktik di Tzu Chi Hospital PIK ini, memastikan status alergi ini sangat penting agar anak tidak kehilangan kesempatan mendapatkan manfaat nutrisi dari susu, jika ternyata reaksinya disebabkan oleh faktor lain.

Strategi mengenalkan makanan pada anak yang pemilih

Apabila anak terbukti benar-benar memiliki alergi susu sapi, maka orangtua harus fokus memperbaiki perilaku makannya tanpa bergantung pada susu tambahan.

Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah melalui sensory play dengan berbagai tekstur, serta metode sensory food hierarchy.

Metode ini melatih anak untuk tidak lagi takut atau asing terhadap jenis makanan tertentu, misalnya daging. Dokter Ian menyarankan agar orangtua terus menyajikan makanan yang ditolak anak di atas piringnya setiap hari agar anak terbiasa melihatnya.

"Perkara dia enggak mau makan enggak apa-apa, yang penting setiap hari di biasain ada daging di situ. Lama-lama, anak terbiasa ngelihat. Anak tuh pasti penasaran. Berikutnya dia akan mungkin megang-megang dulu. Ya, enggak apa-apa biarin terus. Lama-lama dia pegang, dia sudah terbiasa megang," tutur dr. Ian.

"Lama-lama dia cuma nyium-nyium. Habis itu lama-lama ditempel-tempel, di jilat-jilat, enggak mau dikunyah. Berikutnya baru dia coba masukin ke mulut, cuma ngunyah-ngunyah saja, cuma mungkin akan dilepeh. Itu wajar, tetap normal. Lama-lama, baru dia bisa ngunyah dan ditelan," lanjut dia.

Melalui tahapan pengenalan tekstur yang sabar dan konsisten ini, orangtua diharapkan dapat membantu anak mengatasi ketakutannya terhadap makanan baru.

Dengan demikian, kecukupan nutrisi anak tetap dapat terpenuhi secara alami melalui sumber makanan padat, meskipun tanpa dukungan susu tambahan akibat kondisi alergi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang