Bagaimana Cara Menghadapi Anak yang Picky Eater?
Picky eater atau pilih-pilih makanan adalah salah satu masalah yang paling sering dialami orang tua terutama mereka yang memiliki balita. Padahal di masa tumbuh kembang, asupan gizi yang cukup dan seimbang sangat memengaruhi tinggi badan, daya tahan tubuh hingga kemampuan kognitif anak. Melihat permasalahan itu, penting bagi orang tua untuk menyiasatinya sehingga kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.
Lantas bagaimana menghadapi anak yang pickye eater? Pendekatan apa yang bisa dilakukan oleh orang tua agar anak mau makan dan tidak lagi pilih-pilih makanan? Terkait hal ini, dokter spesialis gizi klinis, dr. Juwalita Surapsari menjelaskan bahwa pendekatan utama yang dilakukan adalah tidak boleh memaksa anak. Dijelaskannya bahwa semakin anak dipaksa semakin dia tidak mau makan.
“Pendekatan pertama ga boleh dipaksa. Anak-anak makin dipaksa makin nggak mau. Bahkan ada yang dramatis ‘ayo dong satu lagi, nanti mama sedih’ nggak boleh kayak gitu. Jadi drama-drama seperti itu mudah-mudahan nggak dilihat anak ya. Pendekatannya kembali lagi kepada nggak boleh ada paksaan,” kata dia saat ditemui awak media di Jakarta, Kamis 12 Februari 2026.
Selain itu, orang tua juga perlu memerhatikan aturan jam makan anak. Menurut Juwalita, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kembali frekuensi menawarkan makanan pada anak hingga perhatikan asupan yang dimakan setelah jam makan utama.
“Kan dia lambungnya masih kecil. Jangan-jangan saat kita tawari dia makan setiap 1 jam, 2 jam itu dia sudah kenyang. Jadi ketika jam makan yang sebenarnya dia tidak ingin makan. Atau misalnya ketika jadwal makan utama, jam makan pagi jam 07.00 jam makan siang jam 12.00 terus ada snack jam 10.00 coba liat dari jam 7 ke jam 10 anak ini setelah selesai makan pagi dia ada asupan lain jangan-jangan pas papanya makan pisang dikasih dikit terus makan akhirnya dia kenyang di jam makan itu,” kata dia.
Selain itu, kata Juwalita, penting juga untuk memperhatikan jeda antara makan utama dan camilan. Pastikan tidak terlalu berdekatan agar anak tidak merasa terlalu kenyang dan tetap berselera saat waktu makan utama tiba.
“Jadi hati-hati di dengan pengaturan jam makan. Kan anak kadang makan bisa lama cuma kita punya waktu Cuma boleh 30 menit. Kalau dia makan siang jam 12.00 berarti dia selesai makan 12.30 jangan atur snacknya jam 14,00 kedeketan dari 12.30 harusnya jam 15.00 atau 14.30,” kata dia.
Terakhir, Juwalita menekankan agar anak mengonsumsi makanan yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Berdasarkan pengalamannya, masih ada anak berusia di atas satu tahun yang makanannya berbeda dari menu keluarga. Padahal, menurut Juwalita, makanan yang dikonsumsi anggota keluarga justru bisa terlihat lebih menarik bagi anak.
“Ketiga anak umur di atas satu tahun makannya harus dibedakan dengan makanan keluarga. Padahal sebetulnya apa yang kita makan sebetulnya akan tampak menarik juga buat dia. Jadi daripada kita bedakan seperti itu mendingan kita samakan namun mungkin teksturnya yang kita sesuaikan. Ketika dia liat role modelnya misalnya mamanya makan bareng makan yang sama, mungkin dia akan lebih senang makan,” kata dia.