Dari Klub Serie D ke Papan Atas Serie A, Mirwan Suwarso Ungkap Rahasia Kebangkitan Como 1907

Pemain Como 1907
Pemain Como 1907

  Como 1907 kembali mencuri perhatian publik sepak bola Eropa setelah memastikan tiket Liga Champions musim 2026/2027. Klub milik Hartono bersaudara itu sukses menembus empat besar Serie A meski baru promosi ke kasta tertinggi Italia dalam beberapa tahun terakhir.

Kepastian lolos ke Liga Champions diraih Como setelah mengalahkan Cremonese 4-1 pada pekan terakhir Serie A 2025/2026. Hasil tersebut dibarengi kekalahan AC Milan 1-2 dari Cagliari, sementara Juventus gagal meraih kemenangan usai ditahan Torino 2-2.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Como pun menutup musim di peringkat keempat dengan koleksi 71 poin, unggul satu angka atas AC Milan dan dua poin dari Juventus. Pencapaian ini menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya klub asal Lombardia tersebut berhasil tampil di kompetisi elite Eropa.

Skuda Como 1907

Keberhasilan Como semakin mengesankan karena diraih tanpa mengandalkan anggaran gaji pemain yang besar. Klub yang kini dilatih oleh Cesc Fabregas itu justru membangun fondasi secara bertahap sejak diambil alih oleh Grup Djarum pada 2019.

Di balik kesuksesan tersebut, Presiden Como 1907, Mirwan Suwarso, mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi saat pertama kali mengambil alih klub yang kala itu masih berada di divisi keempat sepak bola Italia.

Menurut Mirwan, salah satu masalah terbesar bukanlah soal prestasi tim, melainkan minimnya basis pendukung klub.

"Kalau Como itu kan waktu kita take over di divisi 4, fansnya juga sudah menjadi fans Inter Milan atau AC Milan, yang jaraknya cuman setengah jam dari sini," ungkapnya dalam wawancara di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.

Kondisi tersebut membuat Como kesulitan mengandalkan pemasukan dari sepak bola semata karena masyarakat setempat lebih banyak mendukung klub-klub besar Italia.

"Sehingga untuk kita mencoba mencari pemasukan susah dong dari klub bolanya, orang kita nggak punya fans. Jadi yang paling mudah menggunakan apa yang paling terkenal yaitu danaunya sendiri yaitu Lake Como," lanjut Mirwan.

Alih-alih hanya berfokus pada pengembangan tim, Como memilih memanfaatkan potensi wisata yang dimiliki wilayah tersebut, khususnya Danau Como yang telah mendunia.

Mirwan menjelaskan bahwa sejak awal mereka membangun ekosistem yang menggabungkan olahraga dan pariwisata.

"Karena kita memang mencoba mengembangkan industri turisme lah, sports tourism, perlahan-lahan sepakbolanya naik," ujarnya.

Menurutnya, strategi tersebut dilakukan agar klub memiliki fondasi bisnis yang kuat sembari menunggu perkembangan tim di lapangan.

"Sambil menunggu sepakbolanya naik, ekosistem tourism dan ritelnya udah kita bangun duluan. Jadi orang lalu bilang kita ngebangun kota," tuturnya.

Meski banyak pihak menilai Como turut membangun kota, Mirwan menegaskan bahwa fokus utama mereka sebenarnya adalah menciptakan ekosistem sport tourism yang berkelanjutan.

"Seputar usaha kita, tapi namanya juga ekosistem, berarti orang-orangnya juga harus terlibat ya, warganya harus terlibat dan harus mendukung kita. Jadi kita bekerja sama pemerintah setempat dan juga warga setempat."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain menggandeng pemerintah daerah, Como juga melibatkan berbagai komunitas lokal dan institusi pendidikan agar pertumbuhan klub dapat berjalan beriringan dengan perkembangan wilayah sekitar.

Pendekatan itulah yang kini mulai membuahkan hasil. Dari klub yang pernah bermain di divisi keempat dan minim pendukung, Como 1907 kini menjelma menjadi salah satu peserta Liga Champions musim depan.