Gareth Bale Ungkap Rahasia Zinedine Zidane di Real Madrid, Tak Banyak Taktik
Mantan pemain Real Madrid, Gareth Bale, membagikan cerita menarik mengenai pengalamannya bekerja di bawah arahan Zinedine Zidane.
Gareth Bale menyinggung masa-masa keemasan Real Madrid saat berhasil meraih hattrick tiga gelar juara Liga Champions (UEFA Champions League) secara beruntun (2015-2016,2016-2017, dan 2017-2018.
Menurut Gareth Bale, keberhasilan Real Madrid di panggung Liga Champions dianggap berkat strategi yang rumit, tetapi kenyataannya justru sebaliknya.
Meskipun sang pelatih pernah dinobatkan sebagai pelatih terbaik dunia versi FIFA pada tahun 2017 dan meraih penghargaan IFFHS dua tahun berturut-turut, Bale menyebut bahwa metode pendekatannya cenderung sangat sederhana dan efisien.
Fokus pada Kemampuan Individu dan Sesi Latihan Singkat
Dalam perbincangan di siniar Stick to Football bersama para legenda sepak bola Britania Raya, pria yang kini menginjak usia 36 tahun itu membeberkan bahwa porsi latihan taktikal sangat terbatas.
Instruksi strategi bertahan biasanya hanya diberikan dalam durasi yang singkat, itu pun hanya dilakukan ketika tim akan menghadapi lawan-lawan tangguh di kompetisi domestik maupun Eropa.
Hal ini menjadi fakta unik mengingat citra pelatih modern yang biasanya sangat terobsesi dengan detail visual dan analisis mendalam.
Mengenai rutinitas latihan di Valdebebas, ia memberikan kesaksian langsung:
"Zidane sebagai pelatih? Sejujurnya, dia tidak melakukan banyak hal (dalam melatih)," kata Bale.
"Kami akan membahas beberapa taktik sebelum pertandingan melawan Barcelona atau Bayern (Muenchen), 15 menit latihan defensif."
"Selain itu, (menu latihan) hanya permainan penguasaan bola, latihan menembak, lalu kami pulang," lanjutnya.
Karisma Sang Legenda dan Rumor Menuju Timnas Perancis
Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, berselebrasi bersama Cristiano Ronaldo seusai juara Liga Champions 2018. Real Madrid juara setelah mengalahkan Liverpool di Stadion Olimpiyskiy, Ukraina, Sabtu (26/5/2018). Terkini, Ronaldo dikabarkan terlibat dalam proses penawaran agar Zidane bisa melatih Al Nassr. (Foto oleh FRANCK FIFE / AFP)
Walau jarang memberikan arahan taktikal yang panjang lebar, rasa hormat para pemain terhadap sosok pria asal Perancis itu tidak pernah luntur.
Pengaruh besar tersebut justru lahir dari kemampuan teknis luar biasa yang masih dimiliki sang pelatih meski sudah lama gantung sepatu.
Bahkan, sang pelatih sering kali ikut terjun langsung dalam sesi latihan bersama para pemain bintang lainnya.
"Namun, ia mendapatkan rasa hormat berkat kualitasnya sebagai pemain. Ia ikut berlatih, bahkan beberapa kali mengalahkan saya," imbuhnya.
Kini, setelah hampir lima tahun memilih untuk menjauh dari kursi kepelatihan, sosok yang akrab disapa Zizou tersebut santer dikabarkan akan segera kembali.
Ia diprediksi akan mengisi posisi pelatih tim nasional Perancis pasca-Piala Dunia 2026, menyusul kabar mundurnya Didier Deschamps dari jabatan pelatih Timnas Perancis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang