Komunikasi Global Persib

komunikasi, Persib, Komunikasi Global Persib

SEKITAR sepekan dari penobatan pencapaian prestius nan langka Persib, Juara Super League berturut tiga kali (hattrick) 2024-2026, serta klub pertama tanah air juara lima kali sejak era sepakbola Indonesia profesional tahun 1994.

Apabila mayoritas pihak mengupas dari sisi teknis lapangan hijau, penulis sebagai bobotoh cum dosen ilmu kehumasan, sepatutnya tahu diri: Akan mengupasnya dari sisi komunikasi publik di balik keberhasilan, yakni penerapan komunikasi global!

“Makhluk” apakah itu? Mari ikuti telaahannya dalam dua poin singkat berikut.

Pertama, kemenangan Persib kemarin tidak hanya disambut fans Persib yang mayoritas masyarakat Jawa Barat khususnya serta diaspora Sunda di seluruh dunia umumnya.

Lebih jauh dari itu, antusiasme dan ucapan selamat pada komunikasi media sosial datang dari banyak figur penting di dunia sepakbola global.

Masyarakat tanah air memperhatikan, misalnya, laku pemain kelas dunia di Manchester City, Inggris, yakni Tijjani Reijnders.

Selain menyemangati dan mengucapkan selamat atas hattrick tersebut kepada adiknya yang bermain di Persib, Elliano Reijnders. Tijjani dalam beberapa pertandingan sebelumnya, juga kerap membubuhkan emoticon penyemangat seperti ke akun Instagram pemain Persib lainnya, seperti ke Wakil Kapten Persib pituin Sunda, Beckham Putra.

Demikian pula akun resmi Liga Perancis, @Ligue1mcdonalds, yang tak perlu lama sontak memberi ucapan selamat seraya men-tagg akun Persib dan salah satu pemain kelas dunia asal Perancis di klub tersebut, Layvin Kurzawa.

Bahkan terpantau, @Ligue1mcdonalds sebelumnya saat pertandingan regular Super League serta ACL (Asian Champion League)-2 yang melibatkan Persib, melakukan interaksi komunikasi serupa, bahkan secara khusus menyematkan sejumlah kata dalam Bahasa Sunda.

Dengan posisi mereka sebagai akun resmi kompetisi sepakbola bergengsi di dunia, sangat menarik melihat upayanya terus menciptakan keterkaitan (engagement) dengan bobotoh dari negara yang sulit tembus Piala Dunia.

Tak hanya itu. Kurzawa saat resmi menjadi penggawa Persib pada putaran II Super League lalu, gegap gempita pemberitaan media massa dan media sosial terjadi. Sebab, dua pesepakbola kelas dunia yang sarat prestasi, Kylian Mbappe dan Neymar, juga turut berkomentar.

Pada level pemengaruh (selebgram, selebtok, youtuber, dst) juga tak terhitung diaspora Sunda yang selalu menonjolkan konten Persib.

Bahkan, dua selebgram asal Inggris dan Perancis, BlackLad Travel serta Mathias IDFR, tak mau ketinggalan aktif bahas Persib, serta semuanya selalu menangguk trafik, impresi, dan monetisasi tinggi melalui cara tersebut.

Singkatnya, aktivitas keseharian serta prestasi hattrick Persib tak hanya beresonansi pada komunikasi penggemar Persib yang notabene berdarah Sunda. Namun, juga melampaui batasan sekat ikatan etnis, geografis, bangsa, profesi, bahkan kasta kompetisi sepakbola global!

Bisnis Global

Kedua, Persib tak hanya menjadi magnet dari sisi komunikasi publik, apalagi media sosial semata. Namun, juga menyangkut sisi komersial yang sangat diperlukan dalam menjaga level profesional kompetisi olahraga.

Pada helatan kompetisi musim ini, merek garmen skena culture asal Inggris, secara khusus bekerjasama dengan PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), guna merilis dua item model.

Keduanya selalu habis diborong dalam hitungan hari sekalipun relatif mahal (setengah juta rupiah) untuk sebuah ukuran kaos!

Hal ini meneruskan kerja sama jenama asing sebelumnya seperti dengan fan engagement platform berbasis blockchain asal Malta, perusahan minyak asal Amerika Serikat, hingga vendor penyedia jersey utama asal Amerika Serikat.

Perusahaan asing yang menjalin ikatan bisnis inipun bukan perusahaan kaleng-kaleng dan atau newbie. Mereka relatif eksis sejak lama dalam menjual jasa dan produknya, bahkan khusus penyedia jersey telah jadi sponsor seragam timnas sepakbola dunia.

Belum dengan menghitung jemana nasional di Persib yang terbanyak di antara klub Super League lainnya, maka hukum dasar dunia bisnis pun seutuhnya terjadi. Yakni semut-semut (se-dunia) otomatis mengerubungi gula terlegit yang paling nyata beri benefit.

Dan, kedua argumen dan eviden ini, sejatinya selaras dengan yang diinginkan manajemen Persib.

Dalam banyak kesempatan, Deputi CEO PT PBB Adhitia Putra Herawan, selalu menyampaikan visi klub semakin dikenal dan diperbincangkan di kancah internasional.

Tak hanya dalam konteks olahraga, tapi juga menjadi fesyen keseharian yang keren dan relate --sebagaimana beberapa selebritis Indonesia bangga mengenakan atribut Liverpool/MU dalam kegiatan mereka.

Memang, fenomena komunikasi ini kemudian menciptakan ekses minor. Contohnya kian kecil kesempatan pesepakbola berdarah Sunda bertempur habis membela panji Persib seperti skuad juara Liga Indonesia tahun 1994.

Namun percayalah, kompetisi sepakbola dunia tak lagi sama seperti tahun itu; Membanggakan ke-suku-an di zaman AI seperti sekarang justru membuat klub tak lagi kompetitif, Persib malah bisa jadi meredup setelah juara.

Akhir kata, fenomena komunikasi global di atas sejauh ini selaras teori participatory culture (Jenkins, 2006), dan juga global media & cultural proximity (Straubhaar, 1991).

Keduanya menekankan perlunya aktor/entitas internasional guna membangun kedekatan simbolik dengan audiens, serta menempatkan audiens digital sebagai aktor aktif penciptaan, penyebaran, dan perkuatan makna dari value Persib melalui jejaring media baru.

Hal ini pula yang membuat manajemen dan pemain Persib otomatis selalu berusaha memberi upaya terbaiknya, karena memang tak hanya tanah air memantau, dunia pun turut awasi. Bravo Persib!

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang