Seleksi Paskibraka Pemprov Sulsel Viral, Muncul Dugaan Rasisme dan Diskriminasi

Ilustrasi Seleksi Paskibraka
Ilustrasi Seleksi Paskibraka

Seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026 mendadak viral di media sosial setelah muncul dugaan diskriminasi hingga rasisme dalam proses penentuan peserta nasional.

Kejanggalan Ajang Pemilihan Seleksi Paskibraka 2026

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Polemik ini mencuat usai seorang siswi asal Makassar bernama Cathlyn Yvaine Lesmana disebut gagal lolos ke tingkat pusat meski dikabarkan memiliki nilai seleksi yang tinggi.

Perdebatan publik semakin meluas karena Cathlyn disebut merupakan peserta keturunan Tionghoa. Sejumlah akun media sosial hingga komunitas Purna Paskibraka Indonesia (PPI) mempertanyakan transparansi proses seleksi dan menduga adanya kejanggalan pada tahap akhir penentuan peserta.

Diragkum VIVA Selasa, 26 Maret 2026, polemik bermula ketika nama Cathlyn yang sebelumnya disebut masuk kandidat kuat delegasi Sulsel ke tingkat nasional justru tidak tercantum dalam daftar akhir peserta yang akan berangkat ke Jakarta.

Informasi yang beredar menyebut Cathlyn memperoleh nilai sangat tinggi pada tes akademik, termasuk wawasan kebangsaan dan intelegensi umum. Hal itu membuat banyak pihak mempertanyakan alasan dirinya tidak dipilih sebagai wakil Sulawesi Selatan.

Di media sosial, muncul berbagai narasi yang menyebut adanya pergantian peserta secara mendadak. Bahkan, beberapa unggahan menuding peserta unggulan dianulir dan digantikan oleh kandidat lain yang sebelumnya tidak masuk jajaran teratas hasil seleksi.

Kasus ini semakin sensitif setelah berkembang isu bahwa Cathlyn menjadi satu-satunya peserta keturunan Tionghoa dalam seleksi tersebut. Dugaan adanya diskriminasi rasial pun mulai ramai diperbincangkan publik.

Akun resmi Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar juga sempat mengunggah pernyataan yang menegaskan bahwa segala bentuk diskriminasi dan rasisme bertentangan dengan nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan.

Dalam unggahan tersebut ditegaskan bahwa Paskibraka seharusnya menjadi simbol persatuan, bukan ruang yang membuka peluang diskriminasi terhadap peserta berdasarkan latar belakang tertentu.

Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Makassar turut menyoroti sejumlah dugaan kejanggalan selama proses seleksi berlangsung. Dalam kronologi yang beredar, PPI menyebut proses penentuan akhir dilakukan tertutup dan memunculkan pertanyaan terkait transparansi penilaian.

Mereka juga menyinggung adanya tahapan penilaian kepribadian yang disebut tidak pernah dibuka secara rinci kepada peserta maupun pendamping daerah. Selain itu, muncul dugaan adanya tes tambahan seperti kemampuan bahasa daerah yang disebut tidak tercantum dalam panduan resmi pusat.

Isu tersebut memicu reaksi besar di media sosial dengan munculnya berbagai tagar yang meminta proses seleksi diaudit ulang dan dibuka secara transparan kepada publik.

Menanggapi polemik yang berkembang, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membantah adanya diskriminasi maupun penggantian peserta secara sepihak dalam seleksi Paskibraka nasional.

Kepala Kesbangpol Sulsel, Bustanul Arifin, menegaskan bahwa seluruh tahapan seleksi dilakukan secara profesional dan melibatkan tim pusat dari BPIP, DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden.

Menurutnya, penilaian peserta tidak hanya berdasarkan nilai akademik, tetapi juga mencakup kesamaptaan, peraturan baris-berbaris, keterampilan, hingga aspek kepribadian secara menyeluruh. Ia juga menegaskan tidak ada pertimbangan suku maupun ras dalam proses penilaian peserta.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, ikut menyoroti polemik tersebut. Ia meminta seluruh proses seleksi dilakukan secara objektif dan adil demi menjaga mental para peserta yang sudah berjuang panjang mengikuti tahapan seleksi.

Munafri mengaku prihatin karena polemik ini berpotensi memberi dampak psikologis bagi siswa yang telah menjalani latihan dan pembinaan selama berbulan-bulan. Ia juga berharap mekanisme seleksi ke depan bisa lebih transparan agar tidak menimbulkan spekulasi liar di masyarakat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sosok Cathlyn Yvaine Lesmana

Sosok Cathlyn Yvaine Lesmana

Hingga kini, polemik seleksi Paskibraka Sulsel 2026 masih terus menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak pihak berharap proses klarifikasi dapat segera dilakukan agar kepercayaan publik terhadap ajang pembinaan generasi muda tersebut tetap terjaga.