Apakah Obat Herbal Bisa Gantikan Obat Medis TBC? Ini Penjelasan Peneliti UGM

obat herbal, Apakah Obat Herbal Bisa Gantikan Obat Medis TBC? Ini Penjelasan Peneliti UGM, Herbal Belum Bisa Gantikan Obat TBC, Herbal untuk DBD Bersifat Pendukung, Obat Herbal Juga Bisa Menimbulkan Efek Samping, Masyarakat Diminta Cek BPOM

Klaim mengenai obat herbal yang disebut dapat mencegah hingga mengobati tuberkulosis (TBC) ramai beredar di media sosial dalam beberapa waktu terakhir.

Menanggapi hal tersebut, peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai klaim herbal sebagai pengganti pengobatan medis untuk penyakit menular seperti TBC.

Peneliti Pusat Kedokteran Herbal Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Dr. rer. nat. Apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc, mengatakan hingga kini obat herbal belum bisa digunakan sebagai terapi utama TBC.

"Posisi herbal saat ini lebih sebagai terapi pendukung atau imunomodulator untuk membantu meningkatkan sistem imun pasien, bukan sebagai lini pertama pengobatan TBC," jelas Arko dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Herbal Belum Bisa Gantikan Obat TBC

Menurut Arko, sejumlah penelitian memang menunjukkan beberapa bahan herbal memiliki potensi menghambat pertumbuhan bakteri tuberkulosis.

Namun, bukti ilmiah yang ada saat ini dinilai belum cukup kuat untuk menjadikan herbal sebagai pengganti obat anti tuberkulosis (OAT).

Karena itu, pasien TBC tetap harus menjalani pengobatan medis sesuai pengawasan tenaga kesehatan.

Ia mengingatkan penggunaan obat yang tidak teratur, termasuk menghentikan pengobatan tanpa pendampingan medis, dapat meningkatkan risiko resistensi obat.

Kondisi tersebut membuat TBC menjadi semakin sulit disembuhkan.

Herbal untuk DBD Bersifat Pendukung

Dalam kesempatan yang sama, Arko juga menyinggung penggunaan bahan alami dalam membantu pemulihan penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD).

Menurut dia, beberapa penelitian menunjukkan jus jambu dapat membantu meningkatkan kadar trombosit pasien DBD.

Meski demikian, manfaat tersebut bersifat suportif dan bukan untuk mengatasi infeksi virus dengue secara langsung.

"Supporting therapy seperti ini memang dibutuhkan tubuh, tetapi bukan sebagai pengobatan lini utama pada penyakit menular," ujarnya.

Obat Herbal Juga Bisa Menimbulkan Efek Samping

Arko juga meluruskan anggapan bahwa obat herbal selalu lebih aman dibanding obat sintetis.

"Baik herbal maupun obat medis sama-sama memiliki potensi efek samping apabila digunakan tidak sesuai aturan," jelasnya.

Ia menegaskan obat herbal tetap mengandung senyawa aktif yang dapat menimbulkan risiko bagi tubuh apabila digunakan berlebihan atau tanpa pengawasan.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap produk herbal yang diklaim memberikan efek instan.

Menurut Arko, produk semacam itu berpotensi mengandung bahan kimia obat (BKO) yang tidak dicantumkan dalam komposisi.

Masyarakat Diminta Cek BPOM

Arko menjelaskan Indonesia telah memiliki sistem klasifikasi herbal yang diatur Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mulai dari jamu, obat herbal terstandar, hingga fitofarmaka.

Ia mengimbau masyarakat selalu memeriksa legalitas dan registrasi produk herbal sebelum dikonsumsi melalui layanan “Cek BPOM” yang dapat diakses secara daring.

Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat mengecek nomor registrasi, nama produk, komposisi, hingga kesesuaian izin edar produk herbal yang beredar di pasaran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang