Dari Gunung Pinang hingga Batu Kuwung, Ini 3 Legenda Banten yang Tak Lekang Waktu

Ilustrasi dongeng
Ilustrasi dongeng

 Cerita rakyat menjadi bagian penting dalam kekayaan budaya Indonesia. Di berbagai daerah, legenda tidak hanya diwariskan sebagai hiburan, tetapi juga menyimpan pesan moral, sejarah lokal, hingga identitas masyarakat setempat. Di Provinsi Banten, sejumlah legenda masih dikenal luas dan terus diceritakan lintas generasi.

Menariknya, kisah-kisah tradisional tersebut kini kembali diperkenalkan kepada generasi muda melalui berbagai kegiatan kreatif, salah satunya festival storytelling. Upaya ini dinilai mampu menjaga budaya tutur tetap hidup di tengah perkembangan era digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berikut tiga legenda terkenal dari Banten yang masih populer hingga sekarang.

1. Legenda Gunung Pinang

Legenda Gunung Pinang menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal dari Banten. Kisah ini mengangkat tema tentang bakti kepada orang tua dan akibat dari kesombongan.

Cerita tersebut mengisahkan Dampu Awang, seorang pemuda miskin yang merantau hingga sukses menjadi saudagar kaya. Namun setelah berhasil, ia justru malu mengakui ibunya yang sudah tua dan hidup sederhana. Saat kapalnya bersandar di pantai Banten, Dampu Awang berpura-pura tidak mengenali sang ibu.

Perasaan sakit hati sang ibu kemudian berubah menjadi doa agar anaknya mendapat hukuman atas perilakunya. Konon, doa tersebut dikabulkan. Badai besar datang menghancurkan kapal Dampu Awang hingga terbalik dan berubah menjadi Gunung Pinang.

Legenda ini sering dikaitkan dengan pesan moral mengenai pentingnya menghormati orang tua serta tidak melupakan asal-usul ketika telah meraih kesuksesan.

2. Legenda Asal-Usul Pandeglang

Kabupaten Pandeglang juga memiliki cerita rakyat yang cukup dikenal masyarakat. Legenda ini berkaitan dengan asal-usul nama Pandeglang yang dipercaya berasal dari kemampuan seorang penguasa sakti.

Kisah bermula dari Pangeran Pandeglang dan Putri Cadasari yang memimpin daerah makmur. Sang pangeran dikenal ahli menempa senjata dan pusaka. Dalam bahasa setempat, istilah “pandai” merujuk pada ahli besi, sedangkan “gelang” diartikan sebagai senjata atau perhiasan.

Dari gabungan istilah tersebut, lahirlah nama Pandeglang yang kemudian digunakan hingga saat ini. Selain menjadi legenda daerah, cerita ini juga menggambarkan kejayaan keterampilan tradisional masyarakat pada masa lampau.

3. Legenda Batu Kuwung

Legenda Batu Kuwung berkaitan dengan sebuah mata air panas yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Kisah ini menceritakan seorang pangeran yang tengah mencari obat untuk penyakit yang dideritanya.

Dalam perjalanan, sang pangeran melakukan pertapaan hingga menemukan sumber air panas ajaib. Setelah menggunakan air tersebut, penyakitnya dikabarkan sembuh. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Batu Kuwung.

Hingga kini, kawasan pemandian air panas Batu Kuwung masih dikenal sebagai salah satu destinasi wisata yang identik dengan relaksasi dan wisata alam di Banten.

Mengenal Legenda Banten Lewat Festival Storytelling

Upaya melestarikan cerita rakyat Banten kini dilakukan melalui pendekatan kreatif berbasis storytelling seperti dalam Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026. 

Babak final Suara Nusantara Banten 2026 digelar di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Minggu 17 Mei 2026. Mengusung tema besar “Menghidupkan Legenda Banten, Menginspirasi Masa Depan”, festival storytelling ini diikuti sekitar 500 peserta dari tingkat sekolah dasar hingga kategori umum.

Ketua panitia pelaksana Suara Nusantara sekaligus Managing Director Navaswara, Cahaya Manthovani, menjelaskan bahwa pemilihan Banten dilakukan karena potensi besar yang dimiliki daerah tersebut.

“Secara bisnis, Banten adalah daerah yang paling logis untuk menjadi lokasi kedua karena letaknya dekat dengan Jakarta. Melalui Suara Nusantara, saya justru melihat potensi luar biasa dari anak-anak hingga peserta umum di provinsi ini,” ujar Cahaya.

Ia juga menilai storytelling memiliki manfaat luas dalam membentuk kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri.

“Mendongeng sangat penting, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi untuk semua usia. Kegiatan ini melatih kita membaca, memahami, menghafal, dan menyampaikan cerita dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semakin sering berlatih, semakin percaya diri, dan manfaatnya bisa langsung dirasakan,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini juga berpotensi mendorong sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.

“Cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai moral, keberanian, dan identitas bangsa. Tugas kita adalah memastikan warisan ini tetap hidup dan relevan bagi generasi masa depan,” tutup Cahaya.