Legenda Terpopuler dari Sumatera Barat, dari Mentawai hingga Malin Kundang

Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya, alam, dan tradisi lisan. Berbagai legenda Sumatera Barat menjadi cerita turun-temurun yang hingga kini masih hidup dan diceritakan masyarakat dari Mentawai hingga Minangkabau.
Mulai dari legenda buah Sipeu, asal-usul Kerajaan Pagaruyung, terbentuknya Danau Singkarak, hingga kisah Malin Kundang si Anak Durhaka, seluruh cerita rakyat ini menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas budaya Minang dan Mentawai.
Berikut rangkuman legenda-legenda populer dari Sumatera Barat beserta kisah lengkapnya dikutip dari buku Kumpulan Legenda Nusantara
1. Legenda Buah Sipeu di Mentawai
Legenda dari Kepulauan Mentawai ini mengisahkan tentang kejujuran, keserakahan, dan awal mula pendirian Tuapejat, ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Di sebuah hutan di Mentawai, terdapat pohon buah khas bernama Sipeu.
Suatu hari, saat pohon itu berbuah, seorang warga bernama Taku yang sedang mencari kayu menemukan pohon tersebut. Ia membuat lingkaran di tanah dengan harapan bahwa buah yang jatuh ke dalam lingkaran itu menjadi miliknya.
Tak lama, datang tetangganya, Yuta. Ia membuat lingkaran yang lebih besar. Keesokan paginya, Yuta datang lebih awal dan menemukan dua buah Sipeu jatuh.
Buah kecil jatuh di lingkarannya, sedangkan buah besar jatuh di lingkaran yang dibuat Taku. Karena sifat serakah, Yuta diam-diam menukar buahnya dengan buah yang lebih besar.
Saat Taku datang, ia curiga. Jejak buah tak sesuai dengan ukuran buah yang ada di tangan Yuta.
Untuk membuktikannya, keesokan hari Taku datang lebih cepat, memanjat pohon Sipeu, dan menaruh buah yang besar di lingkarannya serta buah kecil di lingkaran Yuta. Ia lalu bersembunyi di balik semak-semak.
Seperti yang diduga, Yuta kembali menukar buah. Melihat itu, Taku mengetahui bahwa tetangganya berlaku curang. Ternyata selain soal buah, Yuta juga sering mencurangi keluarga Taku dalam banyak hal.
Untuk menghindari konflik, Taku dan keluarganya memilih meninggalkan pulau tersebut dan mencari tempat baru. Mereka kemudian menemukan sebuah pulau bernama Tuapejat di kawasan Pulau Sipora.
Di sana mereka hidup damai bersama para tetangga yang jujur dan tidak mencurangi mereka. Hingga kini, Tuapejat menjadi ibu kota Kepulauan Mentawai.
Fakta Mentawai:
- Kepulauan Mentawai terdiri dari gugusan pulau besar dan kecil.
- Empat pulau utamanya adalah Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.
2. Legenda Kerajaan Pagaruyung
Istana Pagaruyung.
Legenda ini bercerita tentang perjalanan Adityawarman, sosok penting dalam sejarah Minangkabau.Setelah Raja Majapahit Raden Wijaya meninggal, terjadi perselisihan antara Adityawarman dan Mahapatih Gajah Mada. Perselisihan itu membuat Adityawarman diusir dari istana Majapahit.
Ia kemudian pergi ke kerajaan ibunya di Melayu Darmasyaraya dan diangkat menjadi raja.
Karena takut serangan dari Majapahit, Adityawarman memindahkan pusat pemerintahan ke Siguntur, lalu kemudian ke kawasan Minangkabau di kaki gunung yang tanahnya subur dan kaya emas.
Hingga kini, daerah itu dikenal dengan Tanjung Emas, tempat warga masih mendulang emas secara tradisional.
Pada masa itu, istana sering diganggu binatang buas. Untuk melindungi istana dan desa, warga biasanya membuat pagar bambu berduri, namun penanamannya memakan waktu lama.
Adityawarman kemudian membuat pagar dari pohon uyung, pohon berkayu keras yang menyerupai palem dan memiliki ijuk sebagai bahan atap rumah gadang.
Karena hanya istana itulah yang memiliki pagar pohon uyung, nama Pagaruyung pun lahir.
Fakta Pagaruyung:
- Istana Pagaruyung juga disebut Istano Basa.
- Merupakan kediaman raja Pagaruyung pada masa itu.
3. Legenda Danau Singkarak
Pemandangan Danau Singkarak, Sumatera Barat.
Kisah terbentuknya Danau Singkarak bermula dari seorang anak rajin bernama Indra yang hidup dengan orangtuanya yang miskin. Meski taat dan rajin bekerja, Indra memiliki nafsu makan yang besar.Musim paceklik panjang membuat keluarga itu kesulitan makan. Indra selalu membantu orangtuanya mencari ikan dan umbi-umbian di hutan. Setiap hari, sebelum berangkat, ia memberi makan ayam kesayangannya, Taduang, yang selalu menyapanya saat pulang.
Suatu hari, ayahnya pulang membawa ikan yang cukup. Ibunya memasak pangek, tetapi Indra tak kunjung pulang. Karena lapar, kedua orangtuanya makan lebih dulu dan tertidur. Ketika Indra pulang, ia mendapati pangek dan nasi habis tanpa sisa.
Sedih dan terluka, Indra duduk di atas batu bersama Taduang. “Ibu dan Ayah tidak menyayangiku. Mereka tega tak menyisakan sedikit pun makanan, padahal aku sangat lapar,” keluhnya.
Taduang kemudian mengepakkan sayap, dan ajaibnya, ayam itu bisa terbang, membawa Indra dan batu yang didudukinya. Semakin tinggi terbang, batu itu semakin besar. Hingga akhirnya Indra melemparkan batu itu.
Batu itu jatuh dan membentur bukit di tepi laut, membentuk cekungan besar berair. Cekungan itu kini dikenal sebagai Danau Singkarak. Tidak ada yang tahu ke mana Indra pergi setelah itu.
Fakta Danau Singkarak:
1. Terletak di Kabupaten Solok dan Tanah Datar, Sumatera Barat.
2. Merupakan hulu sungai Batang Ombilin yang mengalir hingga wilayah Riau.
4. Legenda Nagari Koto Nan Ampek
Panorama Gunung Singgalang di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Minggu (19/2/2012). Daerah ini merupakan salah satu lokasi di Sumatera Barat yang dilalui Sesar Sumatera.
Legenda ini berawal dari sayembara seorang raja yang ingin mencari lima ekor kerbau besar sebagai jamuan pernikahan putrinya.“Aku akan memberikan hadiah kepada siapa pun yang bisa melakukannya,” kata sang raja.
Rombongan rakyat dipimpin tetua desa bernama Sekartaji berangkat mencari kerbau. Masa itu adalah musim kemarau panjang sehingga banyak hewan mati dan sulit ditemukan.
Suatu ketika, saat rombongan beristirahat, salah satu anggota berteriak, “Koto nan gadang! (Ini yang besar!)” Setelah berhasil menemukan empat kerbau, rombongan dibagi dua: satu menjaga kerbau, satu lagi melanjutkan pencarian.
Sekartaji akhirnya menemukan kerbau kelima yang sangat besar sambil berteriak, “Koto nan gadang!”
Lima kerbau itu diserahkan kepada raja yang sangat senang. Raja memberikan hadiah tanah satu hektare untuk setiap anggota rombongan, sementara Sekartaji mendapat dua hektare.
Kini, daerah itu dikenal sebagai Nagari Koto Nan Ampek dan Nagari Koto Nan Gadang, masuk dalam Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Fakta Nagari:
- “Nagari” berarti desa.
- Dipimpin oleh wali nagari, dipilih langsung oleh penduduk.
- Dahulu dibantu wali jorong; sekarang dibantu ASN/PNS.
5. Legenda Asal-usul Minangkabau
Rumah Gadang di Nagari Sumpur. Wisatawan dapat menginap di sini saat berkunjung.
Legenda ini berkaitan dengan strategi kerajaan untuk menghindari perang dengan Majapahit.Ketika tentara Majapahit tiba, mereka disambut para wanita cantik dan diberi jamuan lezat. Pada saat itu, terjadi perundingan antara pemimpin Majapahit dan Raja Pagaruyung.
“Kami ingin mengajak pasukan Majapahit mengadu kerbau daripada berperang. Jika kerbau kami kalah, kami akan tunduk kepada Majapahit,” kata Prabu Pagaruyung.
Majapahit setuju dan menghadirkan kerbau besar. Sementara itu, Pagaruyung justru menyiapkan anak kerbau yang dipasangi besi runcing di mulutnya dan dibuat lapar.
Saat pertandingan dimulai, anak kerbau itu mengira kerbau besar sebagai induknya. Ia mencoba menyusu dan melukai perut kerbau besar Majapahit hingga roboh berlumuran darah.
Rakyat bersorak, “Manang kabau! Manang kabau! (Kerbaunya menang!)”. Kata itu kemudian berubah menjadi “Minang Kabau”.
Untuk mengenang kemenangan itu, dibangunlah rumah dengan atap menyerupai tanduk kerbau, yang kini dikenal sebagai Rumah Gadang.
Fakta Rumah Gadang:
- Berbentuk persegi panjang dengan dua bagian utama.
- Bangunan dapur terpisah dari bangunan utama.
- Di depan rumah biasanya terdapat Rangkiang, tempat menyimpan padi.
6. Legenda Danau Maninjau
Pemandangan Danau Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dari ketinggian, Sabtu (13/4/2024).
Di kaki Gunung Tinjau, hiduplah sepuluh bersaudara yatim piatu bernama Bujang Sembilan, bersama adik perempuan mereka, Sani. Paman mereka, Datuk Limbatang, sering datang mengajari mereka bertani. Ia memiliki anak bernama Giran, yang baik hati.Giran dan Sani akhirnya saling jatuh cinta namun tidak diketahui saudara laki-lakinya.
Dalam sebuah laga silat, Giran berhadapan dengan Kukuban, salah satu Bujang Sembilan. Kukuban kalah dan menyimpan dendam.
Ketika Giran datang melamar Sani, Kukuban menolaknya. Keesokan hari, Sani dan Giran bertemu diam-diam untuk mencari jalan damai.
Namun warga dan saudara-saudaranya datang, menuduh mereka melanggar adat, dan membawa keduanya ke tepi kawah Gunung Tinjau.
Giran berdoa, “Ya Tuhan, Engkau Maha Tahu. Jika kami bersalah, biarlah kawah panas ini menghancurkan tubuh kami. Tapi jika tidak, maka meletuslah gunung ini.”
Mereka terjun ke kawah. Setelah itu, gunung meletus hebat dan membentuk sebuah danau besar yang sekarang disebut Danau Maninjau.
Fakta Danau Maninjau:
1. Terletak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
2. Merupakan danau terluas ke-11 di Indonesia.
7. Legenda Malin Kundang, Si Anak Durhaka
Kenampakan Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis, Kota Padang, Sumatera Barat.
Ini merupakan legenda paling terkenal dari Sumatera Barat.Malin Kundang hidup bersama ibunya yang miskin. Ketika dewasa, ia merantau untuk mengubah nasib. Ia bekerja keras sebagai pedagang dan akhirnya menjadi saudagar kaya raya. Namun ia tidak pernah kembali menjenguk ibunya.
Sang ibu menunggu setiap hari di pantai, berharap Malin pulang.
Suatu hari, sebuah kapal mewah berlabuh. Itu adalah kapal Malin Kundang dan istrinya. Sang ibu mendekati mereka dan memanggil Malin.
Sebenarnya, Malin mengenali ibunya, namun karena malu pada istrinya dan gengsi, ia menolak mengakui ibunya. Hal inilah yang membuat kutukan terjadi.
Akibat durhaka kepada ibunya, Malin Kundang dikutuk menjadi batu.
Hingga kini, di Pantai Air Manis, Padang, terdapat batu menyerupai manusia bersujud. Batu itu dikenal sebagai Batu Malin Kundang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang