Bahan Bakar Jerami Bobibos Jadi Sorotan, Kapan Mulai Bisa Digunakan Massal?

Ilustrasi BBM Bobibos
Ilustrasi BBM Bobibos

 Inovasi bahan bakar alternatif terus bermunculan. Salah satu yang paling menarik perhatian dalam beberapa pekan terakhir adalah Bobibos atau singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos. 

Berasal dari limbah jerami yang selama ini dibakar pascapanen, Bobibos digadang-gadang sebagai terobosan baru yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil serta membuka nilai ekonomi untuk petani. 

Namun, sebelum melangkah lebih jauh, pemerintah dan kalangan akademisi menegaskan perlunya kajian komprehensif. Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menjadi salah satu pejabat yang merespons viralnya teknologi ini.

Ia menyatakan, Bobibos harus melalui verifikasi ilmiah sebelum dipertimbangkan untuk digunakan secara luas. “Kita ingin lihat dulu kajiannya. Karena kita ingin semua ini betul-betul yang diutamakan agar ramah lingkungan,” kata Erwan, sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa, 18 November 2025.

Erwan juga menyampaikan bahwa hingga kini dirinya belum menerima laporan teknis resmi terkait Bobibos. “Jadi apakah ini juga sudah betul-betul melalui kajian yang baik, bagaimana lingkungannya terutama untuk lingkungan, apakah ini ramah lingkungan atau tidak,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Bobibos sendiri merupakan inovasi dari PT Inti Sinergi Formula dan diperkenalkan kepada publik pada 2 November 2025 di Jonggol, Kabupaten Bogor. Produk ini dikembangkan oleh M. Ikhlas Thamrin bersama tim risetnya. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari akun resmi mereka, jerami diproses melalui teknologi bioenergi dan serum khusus hingga menjadi bahan bakar berperforma tinggi, diklaim setara dengan Research Octane Number (RON) 98. Selain itu, Bobibos diklaim mampu menekan emisi gas buang hingga mendekati nol.

Kehadiran Bobibos dinilai memiliki potensi besar, apalagi bahan bakunya merupakan limbah pertanian yang ketersediaannya melimpah di Indonesia. Jika produksi bisa dilakukan secara terdesentralisasi, biaya distribusi dapat ditekan dan petani bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari limbah jerami yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual.

Kapan Bisa Digunakan Massal? 

Ilustrasi bahan bakar dari jerami Bobibos

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa semua klaim tersebut membutuhkan pembuktian oleh lembaga independen. Pakar energi Universitas Islam Riau (UIR) Ira Herawati menilai Bobibos sebagai inovasi yang patut diapresiasi, namun harus tetap diuji. 

“Jadi, saya pikir ini sesuatu hal yang angin segar dan perlu diberi ruang untuk apresiasi, tetapi juga memang perlu pembuktian lebih lanjut," ujar Ira, sebagaimana dikutip dari Antara. 

Pandangan serupa disampaikan ekonom Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI) Riyadi Mustofa, yang menilai Bobibos sebaiknya melewati serangkaian uji sebelum dipasarkan resmi. 

“Kalau sudah komersial, memiliki nilai ekonomis, ya harus diurus izinnya. Harus ada izin operasional, tata cara pembuatannya, maupun izin edar karena itu barang dijual,” katanya. 

Ia menilai uji laboratorium dari Kementerian ESDM akan menjadi pembuktian paling objektif mengenai performa dan dampak lingkungan Bobibos.

Dari pemerintah pusat, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah menanggapi kehadiran bahan bakar ini. Ia menyebut kementeriannya akan mempelajari dulu teknologi Bobibos sebelum mengambil keputusan lanjutan.

Adanya perhatian pemerintah daerah, kementerian, hingga kalangan ahli, masa depan Bobibos kini menunggu hasil kajian ilmiah yang kredibel.