Terungkap! Ini Alasan UEA Keluar dari OPEC, Terkait Arab Saudi dan Pakistan

Logo OPEC.
Logo OPEC.

Setelah hampir 60 tahun menjadi anggota dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan untuk keluar. Keputusan UEA keluar dari OPEC berpotensi menjadi pukulan besar bagi OPEC dan Arab Saudi sekaligus berdampak pada Pakistan.

Keputusan EUA keluar dari keanggotaan OPEC disebut-sebut dipengaruhi Arab Saudi terkait dengan pembatasan produksi minyak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Uni Emirat Arab tidak senang harus membatasi produksi mereka, apalagi ketika mereka ingin meningkatkan produksi, sementara Arab Saudi justru ingin menguranginya,” kata Firas Maksad, Direktur Timur Tengah di Eurasia Group, kepada Financial Times.

UEA juga merasa kecewa terhadap Pakistan. Selain karena hubungan Islamabad yang semakin erat dengan Arab Saudi, UEA menilai peran Pakistan sebagai mediator antara AS dan Iran terlalu lemah, serta tidak cukup tegas dalam meminta pertanggungjawaban Teheran atas serangan ke kawasan Teluk selama perang.

Peran Pakistan sebagai mediator ini juga membuat UEA kesal. Menurut Neil Quilliam dari Chatham House, UEA melihat situasi saat ini secara hitam-putih. “Dari sudut pandang UEA, tidak ada posisi netral. Tidak ada jalan tengah. Kalau Anda menjadi mediator, berarti Anda berada di tengah,” ujarnya.

Namun di sisi lain, dengan keluarnya UEA dari OPEC disebut dapat menguntungkan negara tersebut. Kok bisa? Melansir laman NDTV, Rabu 29 April 2026, UEA, yang merupakan produsen terbesar ketiga di OPEC, bergabung dengan organisasi tersebut pada 1967. Namun, selama ini kuota produksi OPEC banyak dikendalikan oleh Arab Saudi, sehingga membatasi kemampuan UEA untuk meningkatkan ekspor minyaknya.

Dalam jangka pendek, keluar dari OPEC memberi Abu Dhabi kebebasan untuk merespons peluang pasar, terutama saat pasokan global diperkirakan terbatas, sekaligus memaksimalkan keuntungan.

Langkah ini juga menjadi pukulan bagi prestise Arab Saudi karena melemahkan kemampuan Riyadh dalam mengendalikan harga minyak. Selain itu, keputusan ini membantu UEA mendekatkan diri dengan Presiden AS Donald Trump, yang sejak lama dikenal sebagai pengkritik OPEC.

Kekecewaan UEA terhadap Negara Teluk

UEA mengumumkan keputusan besar ini tanpa konsultasi sebelumnya, bahkan saat Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggelar pertemuan darurat di Jeddah yang pertama sejak serangan Iran.

Sebagai negara Teluk yang paling dekat secara politik dengan Israel dan paling keras menentang Iran, UEA juga menjadi target terbesar serangan Iran di kawasan, dengan lebih dari 2.200 drone dan rudal berhasil ditangkis, sebagian karena letak geografisnya yang dekat.

Menurut laporan The Guardian, Abu Dhabi secara diam-diam mendorong Arab Saudi dan Qatar untuk melakukan serangan balasan bersama terhadap Iran. Namun, meskipun ada laporan bahwa Riyadh mendesak AS untuk mengalahkan Iran, tidak ada kesepakatan bersama GCC untuk mengambil langkah berisiko tinggi tersebut. Langkah itu bisa dianggap bukan hanya sebagai pembelaan diri, tetapi juga sebagai keberpihakan pada Israel.

Lantaran tidak mendapatkan dukungan politik dari negara-negara Teluk lainnya, UEA akhirnya meninggalkan solidaritas ekonomi dan memilih berjalan sendiri.

Pukulan bagi Arab Saudi

Menurut perusahaan energi milik negara UEA, Adnoc, keluarnya Abu Dhabi dari OPEC diperkirakan akan meningkatkan produksi minyak dari 3,4 juta barel per hari sebelum perang Iran menjadi 5 juta barel per hari pada 2027.

Di sisi lain, sejak Iran menutup Selat Hormuz, produksi minyak negara itu anjlok 44 persen menjadi 1,9 juta barel per hari pada Maret, dan kemampuannya untuk meningkatkan produksi masih diperdebatkan. Secara keseluruhan, perang telah menghapus 7,88 juta barel per hari produksi OPEC pada bulan tersebut, menyebabkan penurunan 27 persen menjadi 20,79 juta barel per hari penurunan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Presiden Emirates Policy Centre di Dubai, Dr. Ebtesam Al-Ketbi, mengatakan langkah ini merupakan bentuk kepentingan nasional UEA.

“UEA sedang mendefinisikan ulang perannya, dari sekadar anggota blok produsen menjadi produsen penyeimbang yang bisa berkontribusi langsung terhadap stabilitas pasar,” ujarnya.

Ia menambahkan, langkah ini memang bisa melemahkan kekompakan OPEC secara bertahap, tetapi sekaligus memperkuat posisi UEA sebagai aktor yang mampu memengaruhi dinamika pasokan global secara langsung.

Selain itu, keputusan keluar dari OPEC juga berpotensi membuat UEA semakin dekat dengan Trump secara diplomatik, yang bisa membawa keuntungan investasi. Trump sendiri dikenal sebagai pengkritik keras OPEC.

Faktor Pakistan

Bahkan sebelum keluar dari OPEC, UEA sudah menunjukkan pengaruhnya. Awal bulan ini, Abu Dhabi menarik dana simpanan sebesar 3,5 miliar dolar AS dari Pakistan atau sekitar seperlima dari cadangan devisa negara tersebut. Langkah ini dianggap sebagai bentuk ketidakpuasan UEA terhadap sikap netral Pakistan terhadap Iran, sehingga memaksa Arab Saudi turun tangan membantu sekutunya di Asia Selatan.

Persaingan antara kekuatan besar di Teluk sebenarnya sudah berlangsung lama, tetapi semakin terbuka pada akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, terutama terkait perbedaan sikap dalam perang sipil di Yaman, di mana mereka mendukung faksi yang berbeda.

Analis juga menilai bahwa Arab Saudi kini lebih dekat dengan Pakistan, Turki, dan Mesir dibandingkan dengan UEA.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Retakan itu masih ada, dan Pakistan menjadi salah satu titiknya. Selain itu, UEA juga lebih banyak berinvestasi di India. UEA melihat hubungan yang semakin erat antara Arab Saudi dan Pakistan sebagai konflik kepentingan bagi Abu Dhabi,” kata dia.

Dengan keluar dari OPEC, UEA tidak hanya ingin memastikan keterlibatan AS, tetapi juga berupaya memutus kedekatan antara Arab Saudi dan Pakistan.