Tekan Angka Kematian Ibu, POGI Luncurkan Gerakan SPRIN

Perempuan Indonesia, Tekan Angka Kematian Ibu, POGI Luncurkan Gerakan SPRIN, Ancaman kesehatan reproduksi, Ironi fasilitas medis dan lambatnya rujukan, Intervensi melalui 10 program SPRIN, Rumah Perempuan Indonesia demi target SDG 2030

 Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi persoalan pelik bagi kesehatan perempuan Indonesia. Saat ini, tingkat kematian maternal berada di kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup.

Menghadapi situasi darurat ini, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) meluncurkan inisiatif nasional Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN).

"Bahwa setiap satu jam, saat ini satu ibu wafat dalam proses hamil maupun proses persalinan," kata Ketua Umum Pengurus Pusat POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, dalam konferensi pers di Rumah POGI Nasional, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Strategi SPRIN mengatasi kematian ibu

Ancaman kesehatan reproduksi

Selain AKI, perempuan Indonesia juga dihadapkan pada ancaman kanker serviks yang merenggut nyawa setiap 25 menit. Transformasi layanan kesehatan menjadi kebutuhan mendesak untuk mengatasi beban ganda ini.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menilai perlindungan kesehatan perempuan adalah investasi masa depan.

"Ibu yang kuat akan membesarkan anak-anak yang berkualitas, dan keluarga yang berkualitas adalah fondasi untuk mencapai Indonesia Emas 2045," ujar Isyana.

Perempuan Indonesia, Tekan Angka Kematian Ibu, POGI Luncurkan Gerakan SPRIN, Ancaman kesehatan reproduksi, Ironi fasilitas medis dan lambatnya rujukan, Intervensi melalui 10 program SPRIN, Rumah Perempuan Indonesia demi target SDG 2030

Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, dalam konferensi pers gerakan Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN) di Rumah POGI Nasional, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Ironi fasilitas medis dan lambatnya rujukan

Fakta di lapangan menunjukkan 80 persen kematian ibu justru terjadi di dalam fasilitas kesehatan, terutama rumah sakit. Kondisi ini dipicu keterlambatan rujukan dari layanan primer, sehingga pasien tiba dalam kondisi kritis.

"Sebagian besar kemungkinan rujukannya terlambat, ya, kasusnya sudah tidak bagus, sudah berat," kata dr. Budi.

Pendarahan hebat menjadi penyebab utama yang merenggut nyawa dalam hitungan menit jika tidak ditangani dengan bedah emergensi berstandar respons 30 menit.

Sayangnya, masalah ini diperburuk oleh ketimpangan distribusi spesialis obgyn. Jakarta memiliki sekitar 1.000 dokter, sementara wilayah seperti Papua hanya 30 hingga 40 dokter.

Intervensi melalui 10 program SPRIN

Untuk mencegah risiko sejak dini, SPRIN merumuskan sepuluh langkah strategis dari hulu, seperti pendidikan kesehatan reproduksi remaja, skrining anemia, dan pemberian suplementasi sebelum menikah.

Program ini juga mencakup pengawalan kehamilan, persalinan aman, pendampingan menopause, hingga vaksinasi HPV nasional untuk mencegah kanker serviks.

Perempuan Indonesia, Tekan Angka Kematian Ibu, POGI Luncurkan Gerakan SPRIN, Ancaman kesehatan reproduksi, Ironi fasilitas medis dan lambatnya rujukan, Intervensi melalui 10 program SPRIN, Rumah Perempuan Indonesia demi target SDG 2030

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, dalam konferensi pers gerakan Selamatkan Perempuan Indonesia (SPRIN) yang digelar oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) di Rumah POGI Nasional, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Dengan mencegah anemia sejak remaja, risiko pendarahan hebat saat persalinan di kemudian hari dapat ditekan secara efektif.

"Langkah yang dilakukan oleh POGI hari ini menunjukkan bahwa organisasi profesi memiliki peran yang sangat penting," ujar Isyana.

Rumah Perempuan Indonesia demi target SDG 2030

POGI turut mencanangkan Rumah Perempuan Indonesia (RPI) yang berfungsi sebagai pusat inovasi dan pemberdayaan.

RPI dirancang untuk menjadi tempat lahirnya ide-ide pemecahan masalah kesehatan, pusat pelatihan, hingga pengembangan usaha rintisan di bidang kesehatan perempuan.

"Di sini lah, lahir ide-ide tentang bagaimana memecahkan masalah kesehatan reproduksi, pelatihan, pendidikan, dan startup," ucap dr. Budi.

Gerakan ini juga melibatkan kader-kader muda yang disebut sebagai "Sprinter" untuk membangun kesadaran publik melalui pendekatan modern seperti podcast dan media sosial.

Seluruh rangkaian inisiatif ini bertujuan untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDG) pada tahun 2030, yaitu menekan AKI hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup.

Untuk memotivasi pemerintah daerah, POGI akan memberikan National SPRIN Award bagi wilayah yang paling inovatif dalam menekan kematian ibu dan stunting.

"Harapannya ini menjadi National SPRIN Award yang mudah-mudahan tidak kalah bergengsi dengan penghargaan Adipura," pungkas dr. Budi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang