Sedihnya Persebaya Saat Dominasi Tak Berujung Tiga Angka

Kekalahan di kandang pada pekan ke-28 Super League 2025-2026 kembali menyisakan pekerjaan rumah besar bagi Persebaya Surabaya.
Tim berjulukan Bajul Ijo harus mengakui keunggulan Madura United dengan skor 1-2, meski tampil dominan sepanjang pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Jumat (17/4/2026) lalu.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, pun angkat bicara, menyoroti satu masalah klasik yang kembali muncul, yakni penyelesaian akhir.
“Ya, jika tidak mencetak gol, itu adalah masalah. Tapi kami menciptakan peluang."
"Akurasi tembakan kami mencoba memperbaikinya. Saya pikir di babak kedua kami menciptakan banyak peluang, kami menciptakan dinamika yang bagus," kata pelatih asal Portugal itu.
Namun, ia menyayangkan kurangnya keberuntungan dalam sejumlah situasi di dalam kotak penalti, di mana banyak tembakan terblokir atau meleset.
Secara statistik, Persebaya memang tampil dominan. Penguasaan bola Bajul Ijo mencapai 71 persen, dengan total 23 tembakan dan 10 peluang tercipta.
Namun efektivitas menjadi pembeda, di mana Madura United mampu memaksimalkan peluang terbatas menjadi gol.
"Seperti ini melihat tim-tim besar di Eropa juga yang menguasai bola lebih banyak, tembakan lebih banyak, lalu tim lawan menyerang satu atau dua kali, melakukan satu atau dua tembakan ke gawang dan mencetak gol dan Madura melakukan itu,” imbuhnya.
Kekecewaan Tavares
Pelatih berlisensi UEFA Pro itu memahami kritik yang muncul dan mengaku juga merasakan kekecewaan yang sama, seperti halnya pemain dan suporter.
“Saya setuju. Saya juga kecewa, para pemain juga kecewa. Saya setuju dan saya sudah minta maaf karena saya tidak suka kalah dari siapa pun," kata Bernardo Tavares.
Pemain Persebaya Surabaya Riyan Ardiansyah dijaga pemain Madura United saat laga pekan ke-28 Super League 2025-2026 yang berakhir dengan skor 1-2 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026) malam.
Kendati demikian, Tavares tetap mengapresiasi perjuangan para pemain yang telah memberikan segalanya.
Ia juga menilai lawan cukup beruntung karena pada momen pertama melewati garis serang di babak pertama, mereka langsung mencetak gol fantastis.
"Lulinha pemain bagus, tapi saya yakin dari 100 tembakan, dia tidak akan bisa mencetak gol seperti itu lagi. Dan pada gol kedua, menurut pendapat saya, Lulinha tidak punya izin, tidak boleh masuk ke lapangan," ujar mantan pelatih PSM Makassar itu.
"Dan jika dia tidak boleh masuk, dia tidak mungkin bisa memotong operan (Francisco) Rivera ke Risto (Mitrevski). Ini sudut pandang saya dalam menganalisis pertandingan," sambungnya.
Tantangan Berat Menanti Bajul Ijo
Meski, permainan Persebaya menunjukkan perkembangan, terutama di babak kedua, hasil akhir tetap tidak berpihak. Masalah akurasi di depan gawang menjadi faktor utama yang membuat dominasi Persebaya terasa sia-sia.
"Saya yakin suporter sedih, tapi saya dan para pemain juga sangat sedih karena ini adalah hidup kami. Dan rasanya sangat berbeda saat kami menang dan bermain bagus, dibandingkan saat kami bermain lumayan tapi kalah," pungkas Bernardo Tavares.
Kekalahan ini memperpanjang tren negatif klub berjuluk Bajul Ijo itu setelah sebelumnya juga kalah dari Persija Jakarta.
Persebaya kini menghuni posisi enam klasemen sementara Super League 2025-2026 dengan perolehan 42 poin.
Bajul Ijo pantang larut dalam kekecewaan, sebab mereka dinanti dua laga berat selanjutnya, yakni tandang melawan Malut United dan Arema FC.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang