Cerita Fan Tuna Netra Persebaya: Saat Laga Hidup dari Sentuhan dan Kata-kata

Persebaya, suporter, bonek, Cerita Fan Tuna Netra Persebaya: Saat Laga Hidup dari Sentuhan dan Kata-kata

Tak ada batas dalam sepak bola. Keseruan laga tetap bisa dinikmati oleh siapa saja, termasuk suporter tuna netra Persebaya.

Pekan ke-31 Super League 20252-2026 jadi momen Persebaya memberikan pengalaman menikmati sepak bola secara lebih inklusif kepada suporter tuna netra.

Langkah ini menghadirkan warna berbeda saat Persebaya menjamu PSBS Biak di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (2/5/2026) sore.

Dalam laga yang berakhir meyakinkan dengan skor 4-0 untuk tuan rumah tersebut, suporter tuna netra tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar diajak “merasakan” pertandingan secara utuh.

Bertempat di ujung kanan royal box stadion, suasana terasa berbeda. Kalimat-kalimat deskriptif mengalir tanpa henti, bukan dari layar televisi, melainkan langsung dari para pendamping yang duduk berdampingan dengan bonek tuna netra.

"Rivera menggiring bola dioper ke Gali (Freitas) tapi sayang terlalu jauh. Sementara tendangan pojok untuk Persebaya, pemain sudah bersiap-siap di depan gawang PSBS..."

Kalimat sederhana itu menjadi jembatan antara apa yang terjadi di lapangan dengan pemahaman mereka yang tidak dapat melihat.

Selama 90 menit, Azel Raoul Reginald bersama dua rekannya terus mendampingi, mengarahkan, sekaligus menerjemahkan jalannya pertandingan dengan penuh perhatian.

Jari mereka saling terhubung, mengikuti pergerakan bola yang diwakili oleh alat peraga. Sesekali, percakapan kecil terjadi, memperkuat pemahaman sekaligus menghadirkan kehangatan di tengah atmosfer kompetitif.

“Jadi kami diundang Persebaya untuk menyaksikan Persebaya vs PSBS bersama tiga bonek tuna netra. Ada Dewa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, lalu ada Ade Mahasiswa UPN Surabaya dan Brian mahasiswa Unesa,” ujar suporter yang biasa disapa Azel itu kepada KOMPAS.com.

“Kami difasilitasi alat oleh manajemen Persebaya untuk menginterpretasikan bagaimana kondisi permainan di lapangan sebenarnya jadi teman-teman tuna netra ini mengerti posisi bola ada di mana saat lihat langsung di stadion,” imbuhnya.

Alat bantu yang digunakan pun tergolong sederhana, berupa papan berbentuk lapangan lengkap dengan bola magnet kecil seperti yang sering digunakan pelatih.

Namun, dari kesederhanaan itulah pengalaman kompleks dapat tercipta. Pendamping hanya perlu mengarahkan tangan suporter mengikuti pergerakan bola di atas papan, sehingga alur pertandingan dapat dipahami secara real-time.

Persebaya, suporter, bonek, Cerita Fan Tuna Netra Persebaya: Saat Laga Hidup dari Sentuhan dan Kata-kata

Pendamping bonek tuna netra memberi penjelasan jalannya pertandingan dengan alat peraga saat menyaksikan laga pekan ke-31 Super League 2025-2026 Persebaya Surabaya melawan PSBS Biak yang berakhir dengan skor 4-0 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (2/5/2026) sore.

Pengalaman Berbeda

Menariknya, pengalaman ini bukan hanya baru bagi suporter tuna netra, tetapi juga bagi para pendamping, yakni Azel Raoul Reginald dkk. Meski mereka sudah beberapa kali menyaksikan laga home Persebaya, peran sebagai “penerjemah pertandingan” menjadi pengalaman pertama yang benar-benar berbeda.

“Kami tidak pernah melakukan hal ini tapi ada kesempatan dan ini baru pertama kali. Katanya selanjutnya akan ada lagi kegiatan ini,” kata suporter yang berprofesi sebagai pengusaha itu.

Meski demikian, proses adaptasi berjalan relatif cepat. Tanpa pelatihan panjang, para pendamping mampu memahami cara kerja alat sekaligus ritme mendampingi selama pertandingan berlangsung.

“Alhamdulilah alatnya cukup mudah tinggal teman-teman tinggal bantu mengarahkan dengan memegang jarinya ke mana magnet berbentuk bola sesuai pergerakan di lapangan,” ujar Azel Raoul Reginald.

“Misal bola di depan gawang ditendang ke bek lalu ketengah dan ke depan. Jadi teman-teman tuna netra ini mengerti posisi bola di mana,” sambungnya.

Kesederhanaan metode ini justru menjadi kekuatan utama. Tidak diperlukan teknologi canggih untuk menghadirkan pengalaman menonton yang setara.

Dengan pendekatan yang tepat, akses terhadap pertandingan bisa dibuka lebih luas bagi siapa saja.

“Tidak ada belajar khusus ini, kami dipinjami alat manajemen untuk berlatih dulu sebentar satu jam sebelum laga dimulai,” ujarnya lagi. 

Persebaya, suporter, bonek, Cerita Fan Tuna Netra Persebaya: Saat Laga Hidup dari Sentuhan dan Kata-kata

Pendamping bonek tuna netra memberi penjelasan jalannya pertandingan dengan alat peraga saat menyaksikan laga pekan ke-31 Super League 2025-2026 Persebaya Surabaya melawan PSBS Biak yang berakhir dengan skor 4-0 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (2/5/2026) sore.

Dari Rasa Penasaran Jadi Gerakan Kepedulian

Bagi pria berusia 34 tahun itu, keterlibatannya dalam kegiatan ini berawal dari rasa penasaran sederhana bagaimana seorang tuna netra memahami jalannya pertandingan sepak bola yang selama ini identik dengan visual.

“Kebetulan saya tergabung dalam komunitas mereka, ada yayasan orang kebaikan yang mengembangkan teman-teman tuna netra,” katanya.

Rasa ingin tahu tersebut perlahan berubah menjadi pengalaman yang membuka perspektif baru.

Saat terjun langsung mendampingi suporter tuna netra, ia menyadari bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang inklusif, di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan atmosfer pertandingan tanpa terkecuali.

Bersama Persebaya, pengalaman itu tidak lagi sekadar aktivitas menonton, tetapi menjadi langkah kecil menuju perubahan yang lebih besar dalam cara klub membuka akses bagi semua kalangan.

“Harapannya ini sebagai gebrakan Persebaya dan semua klub Super League bisa membantu teman-teman tuna netra untuk mengakses kondisi real di lapangan seperti apa dengan papan berbentuk lapangan dan bola magnet ini,” ujar Azel Raoul Reginald.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini tidak memerlukan keahlian khusus. Dengan alat sederhana dan kemauan untuk terlibat, siapa pun bisa menjadi jembatan yang menghubungkan pertandingan di lapangan dengan pemahaman suporter tuna netra.

“Insya Allah mudah siapa pun bisa mendampingi teman-teman tuna netra sebagai interpreter kondisi real di lapangan menggunakan papan ini. Semoga lebih banyak lagi difabel atau tuna netra yang datang ke stadion,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang