Liverpool Butuh Keajaiban di Anfield, Arne Slot Siapkan Strategi Agresif
Manajer Liverpool, Arne Slot, menaruh harapan besar pada tuah Stadion Anfield untuk membalikkan keadaan saat bersua Paris Saint-Germain pada leg kedua perempat final Liga Champions 2025-2026.
Kekalahan 0-2 di markas lawan pada leg pertama membuat langkah The Reds semakin berat.
Namun, sang juru taktik meyakini bahwa atmosfer kandang yang legendaris akan menjadi faktor krusial bagi timnya untuk mengejar ketertinggalan margin dua gol tersebut.
Dalam pernyataannya pasca-pertandingan, Arne Slot mengakui bahwa skuad asuhannya memerlukan dorongan moral dari para pendukung fanatik di Merseyside untuk menghadapi kekuatan PSG di ajang UEFA Champions League.
Ia optimis sejarah kebangkitan di Anfield dapat terulang kembali.
“Penggemar kami selalu bisa memberikan perbedaan yang besar untuk kami dan kami membutuhkan itu karena saya pikir sudah jelas bahwa kami memerlukan dukungan penggemar untuk menghadapi tim sekelas PSG,” ujar pelatih asal Belanda tersebut, dikutip dari laman resmi klub.
Kritik Pedas Terhadap Formasi Lima Bek
Keputusan strategi pada leg pertama di Stadion Parc des Princes menuai sorotan tajam.
Liverpool dinilai tampil terlalu bertahan dengan menurunkan skema lima bek yang diisi oleh Joe Gomez, Ibrahima Konate, dan Virgil van Dijk, serta didukung Milos Kerkez dan Jeremie Frimpong.
Dampaknya, The Reds gagal melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang laga—sebuah catatan buruk yang tidak pernah terjadi sejak November 2020.
Mantan penjaga gawang timnas Inggris, Paul Robinson, memberikan kritik keras atas pendekatan pasif tersebut.
Kepada BBC, ia menyebut perubahan sistem tersebut sebagai sinyal menyerah sejak awal.
"Liverpool tampil buruk, benar-benar buruk. Mereka mengubah sistem, mereka bermain dengan 5 pemain belakang," kata Robinson.
"Dari peluit pertama, mereka tunduk pada PSG, mereka menyerahkan kendali kepada lawan."
Penyerang Paris Saint-Germain, Khvicha Kvaratskhelia, melewati kiper Liverpool Giorgi Mamardashvili, untuk mencetak gol kedua PSG lawan The Reds. Laga Liga Champions PSG vs Liverpool berlangsung di Parc de Princes, Kamis (9/4/2026) dini hari WIB.
Robinson menambahkan bahwa formasi itu justru mengaburkan identitas permainan tim.
"Liverpool tidak terlihat kohesif dengan sistem itu. Segera setelah Anda memakai 5 bek, aromanya langsung menyerah dan Anda menjadi tim yang hanya akan bertahan," lanjutnya.
Dominasi Total Le Parisiens di Paris
Sepanjang pertandingan, Paris Saint-Germain memang tampil sangat dominan.
Tim tuan rumah tercatat menguasai bola hingga 74 persen dengan total 733 operan, berbanding jauh dengan tim tamu yang hanya mengemas 255 operan.
Ketidakmampuan untuk keluar dari tekanan membuat lini depan mereka tumpul.
Kapten tim, Virgil van Dijk, mengakui bahwa strategi bertahan di area kotak penalti belum cukup untuk membendung serangan lawan, terutama setelah gol pertama tercipta akibat bola yang berbelok arah.
Mengenai performa tim yang menurun, sang kapten berharap ada perbaikan signifikan pada penguasaan bola di leg kedua nanti.
"Kerja yang berat. Kami sudah memperkirakannya. Saya pikir kami bertahan dengan banyak orang di sekitar kotak penalti," ujar Van Dijk.
Ia juga menyayangkan beberapa peluang transisi yang terbuang percuma.
"Kami mendapatkan beberapa momen kecil dalam kesempatan serangan balik yang mana kami harus lebih baik dalam menyelesaikannya."
"Mudah-mudahan kami bisa melakukan lebih baik di Anfield nanti terutama dalam hal penguasaan bola," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang