Stok Pupuk Menipis, India-Sri Lanka di Ambang Krisis Pangan
Gejolak geopolitik global kembali menunjukkan dampak nyatanya terhadap sektor ekonomi riil, khususnya pertanian. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah kini mulai merembet hingga ke rantai pasok pangan di berbagai negara berkembang.
Dampak tersebut terasa semakin nyata setelah jalur distribusi energi dan bahan baku pupuk terganggu. Negara-negara yang bergantung pada impor mulai merasakan tekanan, baik dari sisi harga maupun ketersediaan.
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Asia Selatan, terutama India dan Sri Lanka. Kedua negara ini sangat bergantung pada impor pupuk dan energi untuk mendukung sektor pertanian mereka.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran luas, karena sektor pertanian menjadi tulang punggung ketahanan pangan sekaligus sumber penghidupan jutaan masyarakat. Seorang petani di Punjab, Gurvinder Singh, mengungkapkan kecemasannya terhadap situasi yang berkembang.
“Kami sudah kesulitan mendapatkan keuntungan. Jika kami tidak mendapatkan pupuk, hasil panen akan berkurang. Itu akan memengaruhi seluruh keluarga saya dan seluruh wilayah, karena kami sepenuhnya bergantung pada pertanian,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari The Guardian, Sabtu, 4 April 2026.
Sebagaimana diketahui, krisis ini dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS), yang berdampak pada jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz, salah satu rute penting pengiriman minyak dan gas dunia. Gangguan di jalur ini menyebabkan pasokan energi terganggu dan harga melonjak.
Namun dampaknya tidak berhenti pada sektor energi. Para analis memperingatkan bahwa krisis ini dapat meluas menjadi krisis pangan global. World Food Programme memperkirakan hingga 45 juta orang tambahan bisa terdorong ke kondisi kerawanan pangan akut jika konflik tidak segera berakhir.
India sendiri merupakan konsumen pupuk terbesar kedua di dunia setelah China, dengan kebutuhan lebih dari 60 juta ton per tahun. Sebagian besar pasokan tersebut bergantung pada impor, terutama dari kawasan Teluk.
“Pertanian India masih sangat bergantung pada pupuk kimia. Setiap gangguan dengan cepat menciptakan kecemasan,” kata Devinder Sharma, seorang ekonom pertanian.
Salah satu jenis pupuk yang paling dikhawatirkan adalah urea, yang menjadi komponen utama dalam produksi pertanian. Produksi urea domestik juga bergantung pada gas impor, yang kini pasokannya mulai menurun hingga sekitar 30 persen.
Akibatnya, petani mulai mengambil langkah antisipatif. Banyak yang mulai menimbun pupuk lebih awal meskipun masa tanam belum dimulai. Situasi ini bahkan disebut belum pernah terjadi sebelumnya oleh pelaku industri.
“Dalam 35 tahun saya menjalankan bisnis ini, saya belum pernah melihat kepanikan seperti ini,” ujar Prakash Limbuyya Swami, seorang pengecer pupuk.
Meski pemerintah India menyatakan bahwa stok pupuk masih dalam kondisi aman dan bahkan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, kecemasan di tingkat petani belum mereda. Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat sektor ini sangat rentan terhadap gejolak global.
Di sisi lain, kondisi di Sri Lanka dinilai lebih mengkhawatirkan. Negara tersebut sebelumnya pernah mengalami krisis serupa beberapa tahun lalu, yang berujung pada penurunan produksi dan kelangkaan pangan.
Seorang petani di Monaragala, P Amila, bahkan memutuskan untuk tidak menanam padi pada musim berikutnya. “Ini adalah situasi paling tidak stabil yang saya hadapi dalam 30 tahun bertani. Saya khawatir, apa yang akan dilakukan orang ketika mereka tidak punya beras untuk dibeli?” katanya.
Peringatan juga datang dari Anuradha Tennakoon, ketua organisasi pertanian nasional di Sri Lanka. Ia menilai kondisi pupuk saat ini bahkan lebih serius dibanding krisis bahan bakar.
“Pemerintah dan pejabat terus mengatakan bahwa pupuk cukup. Itu kebohongan besar. Tidak ada stok. Jika musim tanam ini terganggu, maka ada masalah serius pada ketahanan pangan,” ungkapnya.