Cerita Sakanti dan Chenny Mengungkap Cara Perempuan Mengekspresikan Diri Lewat Lukisan
- Mengulik keperempuanan lewat karya visual
- Pengaruh masa kecil pada ekspresi diri perempuan
- Ekspresi diri yang terus berkembang
- Merawat diri, dimulai dengan bersikap baik pada diri sendiri
- Fase-fase yang dialami perempuan dalam karya visual
- Kesadaran merawat tubuh yang makin kuat
- Nilai yang diturunkan dari sesama perempuan
— Setiap perempuan memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan diri dan merawat tubuhnya. Tidak ada satu standar yang berlaku untuk itu semua, sebab pengalaman tumbuh, lingkungan, dan perjalanan menerima diri membentuk pilihan yang berbeda.
Hal ini tampak dalam karya dan cerita dua ilustrator, Saskia Gita Sakanti dan Chenny Aviana, yang sama-sama mengangkat tema perempuan dan hubungan mereka dengan tubuh melalui ilustrasi.
Mengulik keperempuanan lewat karya visual
Sakanti menjelaskan bahwa eksplorasi mengenai perempuan dan keperempuanan menjadi inti dari karya yang ia hadirkan.
“Kalau aku tuh emang sekarang lagi sering mengulik tema womanhood (keperempuanan),” ujarnya Sakanti saat ditemui dalam acara Museum Speaking of Skin di Bintaro Jaya Xchange Mall, Tangerang Selatan, Jumat (14/11/2025).
Tema tersebut ia pilih karena melihat bahwa perempuan memiliki perjalanan yang beragam dalam membentuk identitas dan cara mengekspresikan diri.
Pengaruh masa kecil pada ekspresi diri perempuan
Baginya, cara perempuan mengekspresikan diri tidak terlepas dari pengalaman masa kecil. Ia bercerita bahwa sejak kecil tidak merasa cocok dengan gambaran perempuan yang feminin.
“Karena aku tuh pribadi enggak pernah merasa aku tuh cewek yang feminin gitu loh. Aku merasa lebih dulu lebih lain dengan cewek-cewek. Tomboy,” kata Sakanti.
Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang didominasi sepupu laki-laki, sehingga kebiasaan merawat diri tidak menjadi bagian dari kesehariannya.
“Apalagi dulu sepupu aku cowok semua. Jadi aku tuh enggak biasa untuk merawat diri, kayak aku skincare enggak mau, dress up juga enggak,” tambahnya.
Dari pengalamannya itu, Sakanti ingin menghadirkannya ke dalam karya.
Ia menerjemahkan perjalanan tersebut ke dalam visual yang menampilkan fase-fase kehidupan yang mungkin dialami sebagian perempuan.
Fase pertama dimulai dari rasa bingung di masa kecil, perubahan minat terhadap merawat diri, hingga sikap lain yang muncul pada masa remaja menuju dewasa.
Ekspresi diri yang terus berkembang
Namun seiring bertambahnya usia, cara pandangnya berubah. Ia mulai menyadari bahwa perempuan bisa mengekspresikan diri dengan cara apa pun yang membuat mereka nyaman.
“Tapi semakin dewasa aku tuh makin kayak, mungkin sebenarnya itu apa yang aku suka. Dan perlahan aku belajar untuk menerima diriku sebagai perempuan utuh. Boleh feminin juga, boleh tomboy juga gitu,” jelas Sakanti.
Perjalanan menerima diri juga muncul dalam karya Chenny Aviana, yang memulai proses kreatifnya dengan bertanya pada diri sendiri.
Bagi Chenny, seni adalah cara memahami hubungan seseorang dengan tubuh dan identitas. Ia menegaskan bahwa tema penerimaan diri bisa menjadi bagian dari sebuah karya.
“Kalau aku sendiri, karya aku sendiri itu mau menceritakan tentang bagaimana berdamai dengan diri sendiri, dengan kulit sendiri, dengan appearance (penampilan) dirinya sendiri,” tuturnya dalam kesempatan yang sama.
Merawat diri, dimulai dengan bersikap baik pada diri sendiri
Dalam proses kreatif pembuatan karyanya, Chenny juga menyoroti pentingnya sikap lembut terhadap diri. Ia melihat bahwa proses merawat diri dapat dimulai dari memaklumi hal-hal kecil.
“Mencoba untuk belajar lebih gentle (lembut) ke diri sendiri aja sih. Kalau aku biasanya lebih ke memaklumi (diri sendiri),” tambahnya.
Fase-fase yang dialami perempuan dalam karya visual
Di sisi lain, Sakanti menggambarkan beberapa fase perempuan dalam karya visualnya, mulai dari kecil hingga dewasa.
“Kalau misalnya di gambarku itu kan ada beberapa fase,” ucapnya.
Fase pertama menampilkan tokoh perempuan kecil yang belum memahami cara merawat diri. Pada fase berikutnya, tokoh mulai suka berdandan.
“Ceweknya tuh ada yang dari kecil, yang dia bingung, berantakan. Dia tuh bingung cara merawat dirinya sendiri. Terus ada fase di mana anak kecil lagi suka dandan-dandan. Itu aku juga pernah mengalaminya,” jelas Sakanti.
Perubahan-perubahan yang ia tuangkan pada karyanya ini menunjukkan bahwa ekspresi diri perempuan tidak statis dan dapat bergeser dari waktu ke waktu.
Kesadaran merawat tubuh yang makin kuat
Di samping itu, Chenny juga mengaitkan perjalanan tubuh perempuan yang ada di dalam karyanya dengan cara merawat diri, terlebih kulit.
“Dan kulit itu penting banget,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa perawatan diri penting dilakukan oleh seseorang, terutama perempuan yang menjadi pemeran utama dalam karyanya.
“Jadi cara merawatnya juga harus enggak boleh macam-macam dan harus lebih aware (perhatian) sama apa yang kita makan dan produk yang kita pakai,” ujarnya.
Baginya, merawat tubuh bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kesadaran terhadap kebutuhan diri.
Nilai yang diturunkan dari sesama perempuan
Selain pengalaman personal, Sakanti juga menyoroti peran figur lain dalam membentuk cara perempuan merawat tubuh dan mengekspresikan diri.
“Karena mau gimana pun juga mungkin kalau cewek, kita punya figur ibu, maupun itu ibu kita, nenek kita, tante kita kan biasanya ngajarin tuh sesama perempuan,” ujarnya.
Nilai-nilai yang memengaruhi pilihan perempuan dalam merawat diri tersebut diturunkan secara alami lewat sebuah karya visual
Melalui karya dan cerita keduanya, tampak bahwa perempuan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri dan merawat tubuh sesuai kenyamanan dan pengalaman hidup mereka.
Tidak ada standar mengenai bagaimana perempuan seharusnya tampil atau merawat diri. Baik feminin, minimalis, atau penuh ekspresi, semua bentuknya valid. Seni menjadi medium yang menegaskan bahwa pengalaman perempuan dapat bersifat berlapis, berubah, dan sangat personal.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.