Top 6+ Kisah Juara di Meja Hijau: Calciopoli, 'Poin Gratis' Bhayangkara FC, hingga Timnas Maroko Tiba-tiba Juara
Sejarah sepak bola tidak hanya ditulis di atas rumput hijau, tetapi juga di ruang-ruang sidang komite disiplin. Pelanggaran aturan, pengaturan skor, hingga kesalahan administratif seringkali membuat trofi yang sudah diangkat harus berpindah tangan atau bahkan dikosongkan.
Berikut adalah deretan kasus ikonik "Juara Meja Hijau" di dunia sepak bola:
1. Drama Piala Afrika 2025: Mengapa Timnas Maroko Menggantikan Timnas Senegal?
Timnas Senegal Sadio Mane mengangkat piala usai mengalahkan Timnas Maroko dalam final Piala Afrika 2025
Keputusan CAF mencabut gelar Senegal hanya 57 hari setelah mereka berpesta menjadi sorotan dunia.Keputusan ini merupakan buntut dari insiden dramatis yang terjadi di partai final. Laga yang sejatinya dimenangi Senegal dengan skor 1-0 kini resmi dihapus dari catatan sejarah dan diubah menjadi kemenangan 3-0 untuk Maroko.
Kejadian bermula tepat di akhir waktu normal saat pertandingan masih berlangsung tanpa gol. Wasit memberikan hadiah penalti kepada Maroko, sebuah keputusan yang memicu kemarahan luar biasa dari kubu Senegal. Para pemain Senegal melakukan aksi mogok dan keluar lapangan (walk-off) yang menyebabkan pertandingan terhenti selama hampir 20 menit sebagai bentuk protes. Keputusan mogok dari pemain Senegal ini dianggap CAF menyalahi regulasi dan akhirnya memberikan gelar Piala Afrika kepada Maroko.
2. Marseille 1993: Gelar Dicabut dan "Lubang" di Arsip Sejarah
Kasus Olympique de Marseille pada musim 1992/93 adalah salah satu yang paling sinis di Eropa. Mereka berhasil juara di lapangan, namun gelar Ligue 1 tersebut dicabut setelah terungkapnya skandal suap.
Uniknya, gelar tersebut tidak diberikan kepada siapapun. Paris Saint-Germain (PSG) yang merupakan runner-up saat itu menolak untuk menerima lungsuran gelar tersebut. Hasilnya, musim 1992/93 resmi berakhir tanpa juara, menciptakan "lubang" permanen dalam arsip sejarah sepak bola Prancis.
3. Shanghai Shenhua (China) & Skandal Match-Fixing
Di Asia, China pernah mengalami hal serupa. Shanghai Shenhua dinyatakan sebagai juara Liga China tahun 2003. Namun, bertahun-tahun kemudian, penyelidikan mendalam mengungkap adanya praktik match-fixing atau pengaturan skor yang sistematis. Sebagai konsekuensi, gelar juara mereka dicabut meski kejadiannya sudah lama berlalu.
4. Liga Yugoslavia 1985/86: Penolakan Replay Partizan
Sebuah contoh klasik keputusan administratif terjadi di Yugoslavia. Pada pekan terakhir musim 1985/86, muncul dugaan pengaturan skor massal. Otoritas liga memerintahkan pertandingan ulang (replay) di pekan terakhir. Namun, Partizan Belgrade menolak untuk bermain ulang. Akibat pembangkangan tersebut, Partizan dinyatakan kalah 0-3, dan gelar juara liga pun otomatis berpindah ke tangan Red Star Belgrade.
5. Inter Milan dan Berkah Calciopoli
Inter Milan meraih Scudetto musim 2005/2006 setelah Juventus (sang juara di lapangan) terbukti terlibat skandal pengaturan wasit dalam kasus Calciopoli. Juventus didegradasi dan gelarnya dicabut, sementara Inter yang berada di posisi bawahnya naik takhta secara administratif.
6. Liga 1 2017: "Poin Gratis" Bhayangkara FC
Bhayangkara FC Juara Liga 1
Di Indonesia, Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1 2017 setelah mendapat tambahan poin dari Komdis PSSI. Hal ini terjadi karena Mitra Kukar memainkan Mohamed Sissoko yang sedang dalam masa sanksi saat melawan Bhayangkara. Laga yang berakhir 1-1 diubah menjadi kemenangan 3-0 untuk Bhayangkara FC, yang akhirnya membuat mereka unggul head-to-head atas Bali United di klasemen akhir.
Kisah-kisah di atas membuktikan bahwa kepatuhan terhadap regulasi administratif dan kode etik adalah hal mutlak. Di lapangan hijau mereka boleh menang, tapi di mata hukum sepak bola, satu kesalahan dokumen atau perilaku tidak sportif bisa menghanguskan kerja keras sepanjang musim.