Kisah Alysa Liu, Sang Juara Olimpiade AS dengan Latar Ayah Pembangkang Tiongkok

Alysa Liu, atlet muda ice skating AS yang meraih emas di Olimpiade Musim Dingin
Alysa Liu, atlet muda ice skating AS yang meraih emas di Olimpiade Musim Dingin

 Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina telah usai. Namun di balik sorotan arena dan gemerlap medali, tersimpan kisah yang jauh melampaui skor dan rekor. Kisah itu berpusat pada Alysa Liu, atlet muda Amerika Serikat yang meraih emas, sementara seorang pria yang diduga pernah disewa pemerintah Tiongkok untuk memata-matai keluarganya tengah menjalani proses hukum di negaranya sendiri.

Liu, kini 20 tahun, dikenal dengan gerakannya yang ringan di atas es. Namun, di luar arena, ia memikul beban sejarah dan politik yang tak kasatmata. Jauh sebelum berdiri di podium di Milan, ia adalah putri seorang pembangkang Tiongkok yang melarikan diri setelah tragedi Pembantaian Lapangan Tiananmen. Dan sebelum tampil di panggung Olimpiade, keluarganya lebih dulu menjadi sasaran pengawasan lintas negara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ayahnya, Arthur Liu, merupakan pemimpin mahasiswa di Guangzhou pada 1989. Ia mengorganisir demonstrasi dan mogok makan untuk mendukung mahasiswa di Beijing yang kemudian dibantai. Saat gelombang penindakan dimulai, namanya masuk daftar buronan. Ia diinterogasi, diancam, dan terus diawasi hingga akhirnya memilih melarikan diri.

Pelariannya dramatis: berlari menuju pelabuhan kecil di malam hari, menaiki perahu penyelundup yang melaju lebih cepat dari kapal patroli, menembus perairan selama dua jam hingga lampu-lampu Hong Kong tampak di kejauhan. Tempat itu, yang ia sebut sebagai "surga di bumi," menjadi pintu keluar menuju kehidupan baru. Dari sana ia berangkat ke Amerika Serikat, meraih gelar sarjana hukum, dan membesarkan lima anak sebagai ayah tunggal.

Namun masa lalu tak sepenuhnya tertinggal.

Pada 2022, menjelang Olimpiade Musim Dingin Beijing, Arthur menerima telepon dari pria yang mengaku sebagai pejabat Olimpiade AS dan meminta salinan paspor keluarga—permintaan yang ia tolak. Belakangan, jaksa federal AS mendakwa lima pria atas tuduhan bekerja untuk pemerintah Tiongkok guna memata-matai dan mengintimidasi para pembangkang di Amerika. Salah satu terdakwa, Matthew Ziburis, diduga ditugaskan memantau keluarga Liu.

Dalam dokumen pengaduan pidana, Arthur disebut sebagai "Pembangkang 3." Alysa dicatat hanya sebagai "anggota keluarga."

Bagi remaja yang tengah mempersiapkan diri ke Olimpiade pertamanya, kenyataan itu terasa ganjil. Ia sempat bercanda bahwa situasinya seperti acara lelucon, meski faktanya jauh dari lucu. Peristiwa tersebut menegaskan bahwa kampanye pemerintah Tiongkok terhadap para pembangkang tidak berhenti di dalam negeri dan tak mengecualikan keluarga mereka.

Ada pula detail lain yang jarang disorot: pemerintah Tiongkok mengetahui unggahan Instagram Alysa mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur. Bagi rezim yang sensitif terhadap kritik, terlebih dari figur publik, itu cukup untuk menempatkannya dalam radar pengawasan.

Saat tampil di Olimpiade Beijing 2022, Liu finis di urutan keenam—pencapaian impresif bagi atlet muda. Namun di luar arena, bayang-bayang pengawasan tetap ada. Ayahnya mengakui ia kembali ke Tiongkok saat itu dengan memahami risiko yang mungkin dihadapi—negara yang pernah ia tinggalkan demi menghindari penjara.

Empat tahun kemudian, pada Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026, Liu datang dengan kematangan dan ketenangan baru. Ia tampil gemilang di program pendek dan memukau di program bebas, membuat penonton berdiri memberi aplaus. Ketika skor akhir diumumkan, ia resmi menjadi juara Olimpiade.

Ironisnya, pada saat yang hampir bersamaan, pria yang diduga pernah ditugaskan memata-matai keluarganya tengah menghadapi persidangan di Amerika Serikat.

Jarang sekali medali emas Olimpiade bersinggungan langsung dengan perkara pidana federal. Lebih jarang lagi atletnya adalah putri seorang mantan buronan politik yang melarikan diri dengan perahu penyelundup. Namun Liu memilih merespons kisah itu dengan nada ringan. Saat ditanya bagaimana ia membayangkan kisahnya difilmkan, ia berkata ingin menjadi "pahlawan super keren,"  tetapi menegaskan bahwa tokoh utama sejatinya adalah ayahnya.

Baginya, perjalanan sang ayah—bukan pengawasan, bukan intimidasi—yang paling layak dikenang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kisah Alysa Liu memperlihatkan bagaimana dinamika politik global dapat menjangkau kehidupan pribadi hingga ke lintas generasi. Ia juga menunjukkan bahwa keberanian hadir dalam berbagai bentuk: mahasiswa yang menolak tunduk pada 1989, pria yang berpegang pada sisi perahu dalam gelap demi kebebasan, dan atlet muda yang tetap meluncur di atas es meski mengetahui keluarganya pernah diawasi.

Di Milan, Alysa Liu memang memenangkan medali emas. Namun di balik itu, ada kemenangan lain—milik sebuah keluarga yang bertahan menghadapi tekanan, dan seorang putri yang mengubah kisah pengawasan menjadi simbol ketahanan.