Kenapa Menghadapi Tuntutan Keluarga Terasa Lebih Berat Dibanding di Kantor
Momen silaturahmi bersama keluarga besar saat Lebaran sering membawa tantangan emosional tersendiri yang tidak mudah dihadapi oleh sebagian orang.
Tingginya ekspektasi dan tuntutan dari kerabat mengenai pencapaian hidup lewat pertanyaan tentang pekerjaan, status pernikahan, hingga bentuk fisik, terasa begitu membebani pikiran.
Tak jarang orang yang tangguh di kantor justru jadi sangat tertekan akan ekspektasi dan tuntutan dari keluarga besar.
"Kenapa ekspektasi keluarga besar rasanya lebih membebani kita dibandingin tuntutan profesional karena tuntutan profesional itu biasanya terjadinya lebih pendek waktunya secara durasi," jelas Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, dalam webinar KALM Counseling, Sabtu (14/3/2026).
Pekerjaan memiliki batas waktu dan kompromi
Wenny memaparkan, salah satu perbedaan mendasar antara lingkungan kerja dan keluarga terletak pada durasi dan kejelasan aturan mainnya.
Di lingkungan kerja, interaksi antara satu individu dengan individu lain umumnya terjadi dalam batasan waktu yang sangat jelas.
"Ketika kita kerja, biasanya dari jam sekian sampai jam sekian," kata Wenny.
Selain itu, kehidupan di kantor diatur oleh kesepakatan tertulis yang bisa diprediksi secara logis.
Selain memiliki jam kerja yang pasti, juga ada tenggat waktu penyelesaian tugas harian, hingga ruang untuk bernegosiasi secara leluasa dengan rekan sejawat maupun atasan jika beban kerja dirasa tidak masuk akal.
Tidak bisa resign dari keluarga
Kondisi yang serba terukur di tempat kerja tersebut berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di dalam keluarga besar.
Interaksi dan tuntutan ekspektasi dari setiap anggota keluarga sudah terjadi secara terus-menerus sejak usia dini.
"Kita bertemu sama mereka dari kita masih kecil banget, belum punya batasan diri yang cukup oke. Mungkin belum diajarkan bagaimana berhadapan dengan orang lain, sehingga kita belum punya benteng yang cukup baik," ujar Wenny.
Dengan kata lain, kita tumbuh dengan dibiasakan menerima segala ekspektasi yang dijejalkan secara sepihak tanpa perlawanan.
Langkah awal untuk melepaskan diri dari beban ini adalah dengan menyadari bahwa ranah keluarga tidak menyediakan opsi bagi seseorang untuk memutus hubungan begitu saja layaknya di dunia kerja profesional.
"Kita bisa pilih resign (dari kantor), kita bisa pilih mencoba hal baru. Tapi keluarga? Kita enggak bisa pilih. Makanya kenapa di keluarga itu rasanya tuntutan itu jauh lebih terasa berat karena itu ya," jelas Wenny.
Kelekatan batin bikin omongan lebih menyakitkan
Faktor lainnya yang tidak kalah penting, yang membuat ekspektasi kerabat terasa jauh lebih menguras energi, adalah tingginya tingkat kelekatan emosional.
Sebuah omongan miring akan menghasilkan respons batin yang sangat berbeda, tergantung dari siapa yang mengucapkan.
Di lingkungan profesional, seseorang sering kali sudah mampu membangun benteng pertahanan yang solid. Mereka bisa dengan mudah membatasi dirinya dan menganggap bahwa omongan miring hanyalah sebatas urusan pekerjaan belaka.
Namun, ketika lingkungan terdekat melontarkan tuntutan serupa, dampaknya menembus hati karena adanya ikatan batin.
Untuk bisa melepaskan diri dari beban tersebut, seseorang harus mulai menetapkan batasan perlahan dan membedakan nilai dirinya dari ekspektasi subyektif keluarga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang