Timur Tengah Memanas, Nasib Nvidia, OpenAI, dkk Dipertaruhkan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memanas sejak serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari lalu, memunculkan kekhawatiran baru bagi perusahaan teknologi global.
Investasi raksasa di sektor kecerdasan buatan (AI) yang melibatkan perusahaan seperti Nvidia, Microsoft, Oracle, hingga OpenAI kini menghadapi risiko besar, dengan nilai investasi yang dipertaruhkan mencapai triliunan dollar AS.
Selama bertahun-tahun, negara-negara di kawasan Teluk Persia seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Qatar aktif menarik perusahaan teknologi Amerika Serikat serta investor Wall Street untuk menanamkan modal di wilayah mereka.
Pemerintah negara-negara tersebut menawarkan berbagai insentif investasi, termasuk fasilitas perkantoran mewah yang dilengkapi menara modern, kafe bergaya Barat, hingga klub pantai eksklusif.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan ekonomi mereka terhadap pendapatan minyak dan gas.
Melalui skema dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) yang sangat besar, pemerintah negara-negara di kawasan Teluk agresif mendanai berbagai proyek teknologi baru.
Para investor Barat pun menyambut peluang tersebut. Kawasan Teluk Persia dinilai sebagai pasar baru yang menjanjikan, terutama di tengah lonjakan kebutuhan infrastruktur komputasi untuk pengembangan AI.
Perusahaan teknologi Silicon Valley termasuk yang paling aktif menanamkan investasi. Nvidia, Microsoft, dan Oracle telah mengucurkan dana untuk membangun berbagai fasilitas teknologi berskala besar di kawasan tersebut, termasuk pusat data yang menjadi tulang punggung pengembangan AI.
Namun, situasi berubah drastis setelah konflik bersenjata antara Iran dan koalisi Amerika Serikat serta Israel meletus dalam beberapa hari terakhir.
Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu memicu respons balasan dari Iran. Dalam serangan tersebut, Iran tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga berbagai target nonmiliter di negara-negara di kawasan Teluk.
Salah satu dampak langsungnya adalah serangan drone terhadap infrastruktur teknologi. Dua pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan drone Iran, Mnggu (1/3/2026).
AWS mengatakan bahwa salah satu Availability Zone (AZ) di region ME-CENTRAL-1, yakni mec1-az2, terpaksa dihentikan operasinya akibat insiden tersebut.
Akibat insiden ini, sejumlah pelanggan melaporkan gangguan pada layanan komputasi awan (cloud), khususnya API jaringan milik Amazon EC2.
Sementara satu fasilitas lain di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan serupa.
Situasi keamanan yang memburuk juga mendorong pemerintah Amerika Serikat menutup sejumlah kedutaan besarnya di kawasan Timur Tengah, termasuk di Kuwait dan Arab Saudi.
Bikin investor ketar-ketir
Ketegangan tersebut mulai memicu kekhawatiran di kalangan investor global. Laporan Financial Times menyebutkan bahwa beberapa negara Teluk kini tengah mempertimbangkan kemungkinan mengurangi investasi luar negeri mereka akibat dampak finansial konflik.
Mona Yacoubian, direktur program Timur Tengah di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan tingkat kecemasan terhadap situasi ini meningkat tajam.
Risiko konflik menjadi semakin signifikan karena kawasan Teluk saat ini merupakan salah satu pusat pengembangan infrastruktur AI global.
Salah satu proyek terbesar yang sedang dibangun adalah Stargate UAE, sebuah proyek pusat data AI berskala raksasa yang dioperasikan oleh OpenAI dan Oracle serta menggunakan chip AI kelas atas dari Nvidia.
Proyek ini didanai oleh Softbank, OpenAI, Oracle, dan MGX/G42 (Group 42 Holding Ltd) yakni gabungan perusahaan AI di Uni Emirat Arab.
Melansir laman resmi OpenAI, perusahaan ini mengalokasikan anggaran sebesar 500 miliar dollar AS (sekitar Rp 8.419 triliun) untuk empat tahun ke depan
Proyek tersebut diluncurkan pada Mei 2025 lalu melalui seremoni besar di Abu Dhabi yang dihadiri CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Nvidia Jensen Huang.
Fasilitas tersebut direncanakan menjadi pusat data terbesar di dunia di luar Amerika Serikat dan akan menjadi salah satu fondasi utama pengembangan AI global.
Pengembangan infrastruktur AI di kawasan ini juga didukung oleh inisiatif internasional bernama “Pax Silica”, yang diumumkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Desember lalu.
Deklarasi tersebut ditandatangani oleh 11 negara, termasuk Israel, Uni Emirat Arab, dan Qatar, yang berkomitmen untuk mengoordinasikan pembangunan infrastruktur AI secara global.
Negara-negara Teluk dipandang memiliki berbagai keunggulan strategis untuk proyek tersebut. Secara geografis, kawasan ini berada di persimpangan antara Asia, Afrika, dan Timur Tengah serta memiliki jarak yang relatif dekat dengan Eropa.
Selain itu, wilayah tersebut memiliki lahan luas, biaya listrik yang relatif murah, serta populasi yang siap mendukung pembangunan industri teknologi.
Faktor-faktor tersebut mendorong berkembangnya pusat data dalam jumlah besar di kawasan tersebut. Menurut data dari DataCenter Map, saat ini terdapat 61 pusat data di Arab Saudi dan 57 di Uni Emirat Arab.
Kondisi tersebut membuat kawasan Teluk dianggap sebagai salah satu pusat baru infrastruktur AI dunia.
Namun konflik yang berkembang cepat membuat sejumlah risiko yang sebelumnya dianggap kecil kini menjadi jauh lebih nyata.
Kristian Alexander, peneliti senior di Rabdan Security & Defense Institute di Abu Dhabi, mengatakan kerentanan infrastruktur teknologi di kawasan tersebut kini tidak lagi bersifat teoritis.
“Kerentanannya tidak lagi bersifat hipotetis,” kata Alexander.
Ancaman terhadap kabel internet bawah laut
Selain pusat data, infrastruktur digital lain yang berisiko terdampak konflik adalah kabel serat optik bawah laut.
Banyak kabel internet global melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah, yakni dua jalur sempit yang selama ini dikenal sebagai titik krusial pengiriman minyak dunia.
Selain energi, jalur tersebut juga menjadi koridor penting lalu lintas data global. Kabel-kabel itu menghubungkan jaringan internet antara Eropa dan Asia serta menopang konektivitas digital di Timur Tengah.
Para ahli khawatir kabel-kabel itu dapat menjadi target sabotase atau rusak akibat aktivitas militer di kawasan tersebut.
Risiko tersebut bukan sekadar teori. Pada 2024, empat kabel bawah laut utama di Laut Merah rusak setelah kelompok Houthi menyerang sebuah kapal di kawasan tersebut.
Kerusakan itu sempat mengganggu sekitar seperempat lalu lintas data yang menghubungkan Eropa dan Asia, termasuk Timur Tengah. Meski data dapat dialihkan melalui jalur lain, proses pemulihan penuh memakan waktu berbulan-bulan.
“Peristiwa itu menunjukkan betapa cepat konektivitas dapat menurun, meskipun tidak sampai benar-benar padam,” kata Alexander.
Infrastruktur digital di darat juga menghadapi ancaman serupa.
Pada Selasa lalu, puing-puing drone Iran yang berhasil dicegat jatuh di area penyimpanan minyak di Fujairah, sebuah kota pelabuhan di Uni Emirat Arab yang juga menjadi pusat penting jaringan kabel bawah laut global.
Insiden tersebut menyoroti dua jenis ancaman yang kini dihadapi industri teknologi di kawasan itu, yakni serangan siber yang dapat dilakukan dari jarak jauh serta serangan militer langsung terhadap infrastruktur fisik.
“Gambaran ancaman kini telah menyatu,” kata Alexander.
Investor mulai melakukan evaluasi
Sebelum konflik terbaru pecah, banyak investor global merasa kawasan Teluk relatif aman dari ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Namun sebagian analis sebenarnya telah lama memperingatkan bahwa situasi tersebut dapat berubah.
Pada 2023, analis geopolitik BCA Research, Matt Gertken, sempat memperingatkan investor Barat di kawasan Teluk mengenai potensi serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.
Ia menyampaikan peringatan tersebut dalam pertemuan dengan hedge fund dan investor global di Dubai.
Namun pada saat itu, banyak investor menilai peringatan tersebut terlalu pesimistis.
“Saya bekerja memprediksi geopolitik untuk mencari nafkah,” kata Gertken.
“Tetapi saya sadar bahwa saat itu saya berada di Dubai sambil mengatakan bahwa situasinya akan memburuk untuk sementara waktu. Itu bukan sesuatu yang ingin didengar orang," imbuhnya, dikutip KompasTekno dari Economic Times.
Kini situasi konflik yang berkembang dalam sepekan terakhir mulai mengubah perhitungan para investor.
Pejabat di negara-negara Teluk kini dilaporkan mulai mempertimbangkan berbagai langkah untuk memperkuat perlindungan terhadap pusat data dan jaringan teknologi.
Salah satu opsi yang dibahas adalah merancang infrastruktur baru yang mampu bertahan dari serangan rudal, bukan hanya serangan siber yang selama ini dianggap sebagai ancaman utama.
Selama ini, sebagian besar upaya mitigasi risiko di sektor teknologi lebih difokuskan pada keamanan siber.
“Risiko ini sebenarnya sudah dipahami di kalangan strategis,” kata Alexander.
“Namun banyak upaya mitigasi masih berfokus pada keamanan siber.” imbuhnya.
Konflik yang memanas dalam waktu singkat kini memperluas spektrum risiko yang harus dihadapi industri teknologi global.
Dalam waktu hanya satu minggu, perang di Timur Tengah telah menempatkan investasi AI bernilai triliunan dollar AS dalam ketidakpastian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang