Pasutri, Hindari Mengucapkan 2 Kata Ini saat Bertengkar
Saat emosi memuncak di tengah pertengkaran dengan pasangan, kita kerap kehilangan kendali atas kata-kata yang diucapkan.
Tanpa disadari, rasa frustasi sering kali memancing untuk menggunakan dua kata yang diklaim sangat berbahaya bagi komunikasi hubungan, yakni "selalu" dan "tidak pernah".
Alih-alih menyelesaikan masalah, penggunaan dua kata kramat ini justru sering kali mengubah diskusi ringan menjadi perdebatan yang panjang dan melelahkan. Kok bisa? Begini penjelasannya, melansir PureWow, Selasa (10/3/2026).
Dua kata yang harus dihindari saat bertengkar dengan pasangan
Dampak buruk kata-kata "selalu" dan "tidak pernah"
Seorang terapis berlisensi sekaligus pendiri MLP Therapy Group di Brooklyn, New York, Amerika Serikat (AS), Melissa Paul, LCSW, menjelaskan, memilih untuk melontarkan diksi "selalu" dan "tidak pernah" akan membuat pasangan merasa bahwa mereka dituduh melakukan kesalahan secara terus-menerus tiada henti.
Akibatnya, yang muncul justru sikap membela diri, bukannya mau mendengarkan, yang bisa berujung pada lonjakan emosi.
"Misalnya, ketika seseorang berkata, 'Kamu tidak pernah mencuci piring dengan cara yang saya inginkan', apa yang sebenarnya mereka maksud adalah, 'Hei, saya kewalahan saat ini dan saya butuh bantuan'," terang Paul.
Fokus mengungkapkan perasaan
Menurut Paul, pada titik inilah pemakaian kalimat denga sudut pandang "Saya", alias "I" statement, menjadi sangat penting untuk diterapkan.
Ketika menggunakan sudut pandang itu, ada perbedaan antara "Kamu 'tidak pernah' mencuci piring" dengan "'Saya' merasa sangat kewalahan dengan semua tugas yang harus saya tangani".
"Pernyataan kedua mendorong pasangan untuk merespons dengan cara yang berbalik ke arah orang lain daripada menentangnya," tutur Paul.
Jika dilihat dari sisi lain, mengatakan kepada pasangan bahwa mereka tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar pada dasarnya sangatlah tidak membangun.
Oleh sebab itu, memusatkan perhatian pada emosi yang dirasakan bernilai jauh lebih tinggi ketimbang meributkan soal pekerjaan rumah tangga.
"Dalam sebuah, kita sering mendapati diri kita bertengkar tentang tindakan yang sama, seperti kamar mandi yang kotor, berulang kali. Padahal, hal tersebut hampir tidak pernah menjadi topik yang sebenarnya ingin dibicarakan," lanjut Paul.
Bahkan, ucapan bernada mutlak seperti itu hanyalah bentuk kekeliruan dalam mengenali apa yang sedang benar-benar bergejolak di dalam batin. Di momen penuh amarah, kosa kata tersebut dilontarkan sebagai sekadar pelampiasan belaka.
Membangun pendekatan baru
Coba pertimbangkan apa yang akan kamu sampaikan jika kamu menghampiri pasangan satu jam setelah rampung merapikan cucian piring demi membahas situasi serupa.
Ungkapannya mungkin akan berupa, "Setiap kali aku melihat tumpukan piring kotor, aku merasa capek secara mental. Kita ngobrol sebentar yuk, siapa tahu bisa bagi tugas atau cari cara yang lebih enak?".
Lebih lanjut, apabila amarah mulai mengambil alih kesadaran diri, carilah cara untuk memberikan jeda sementara waktu, sebelum kembali menghadapi pasangan.
Penting bagi setiap pasangan untuk memahami bahwa komunikasi bukan tentang siapa yang menang atau kalah. Mengganti kata-kata yang bersifat menghakimi dengan kalimat yang lebih terbuka dapat membuka ruang empati.
Pasangan yang merasa dipahami cenderung akan lebih kooperatif dalam mencari solusi bersama dibandingkan mereka yang merasa diserang secara personal.
Membangun kebiasaan komunikasi yang sehat memang membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra dari kedua belah pihak. Namun, konsisten menghindari dua kata itu dan beralih pada pengungkapan emosi yang lebih luwes, bisa membuat konflik menjadi sarana untuk mempererat kedekatan emosional.