Demi Keluar dari Dubai, Turis Berebut Naik Jet Pribadi Bertarif Rp 1,6 Miliar

Demi Keluar dari Dubai, Turis Berebut Naik Jet Pribadi Bertarif Rp 1,6 Miliar

Sejumlah bandara di Timur Tengah belum beroperasi secara penuh hingga Selasa (3/3/2026) di tengah konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

Akibatnya, seluruh penerbangan internasional sempat terdampak. Lebih dari 9.500 penerbangan dibatalkan sejak 28 Februari 2026 hingga 1 Maret 2026, berdasarkan data dari platform pelacakan penerbangan Flightradar24.

Kondisi ini membuat pebisnis maupun wisatawan di Timur Tengah tertahan dan tidak bisa pulang ke negara asal selama waktu tertentu.

baru ini, kalangan elite memutuskan untuk menggunakan jet pribadi demi bisa keluar dari Dubai dan menghindari kawasan konflik.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (3/3/2026), perusahan perantara jet pribadi yang berbasis di Muscat, Oman, bernama JetVip, mengatakan bahwa tarif penerbangan ke Istanbul menggunakan jet pribadi naik drastis hingga tiga kali lipat.

Kenaikan tarif jet pribadi ini dipicu lonjakan permintaan penumpang dari Dubai yang memutuskan memakai jet pribadi, alih-alih menunggu pesawat komersial kembali beroperasi.

Satu penumpang jet pribadi kini dikenakan tarif sebesar 85.000 Euro atau sekitar Rp 1,67 miliar untuk penggunaan jet terkecil bernama Nextant dengan rute tujuan Istanbul.

Adapun satu kursi untuk penerbangan charter pribadi ke Moskow, Rusia, dijual dengan harga sekitar 20.000 Euro atau Rp 392 jutaan per orang.

Meski banyak permintaan dan tarifnya melonjak drastis, beberapa perusahaan jet pribadi mengatakan bahwa saat ini mereka tidak dapat mengerahkan pesawat karena kesulitan menempatkan armada di Timur Tengah.

Seorang perwakilan dari perusahaan penerbangan charter AlbaJet yang berbasis di Austria mengatakan bahwa ketersediaan kursi sangat terbatas.

Mereka menawarkan penerbangan ke Eropa dengan harga sekitar 90.000 Euro atau sekitar Rp 1,7 miliar.

"Banyak operator pesawat tidak akan melakukan penerbangan tersebut karena persyaratan asuransi dan keputusan pemilik. Jadi, permintaannya tinggi, tetapi penawarannya sangat sedikit," ungkap Albajet, dikutip via The Guardian.

Kepala eksekutif perusahaan perantara jet pribadi Vimana Private Jets, Ameerh Naran, juga menyampaikan hal serupa.

Ia menuturkan bahwa penerbangan dari Riyadh ke Eropa dikenakan tarif hingga 350.000 dolar AS atau setara hampir Rp 6 miliar.

Permintaan untuk meninggalkan Dubai dimulai pekan lalu. Naran mengatakan bahwa ada peningkatan yang signifikan terkait permintaan jet pribadi sejak Jumat (27/2/2026) dan seterusnya, seperti dikutip Business Insider.

Pemilik perusahaan concierge mewah Dubai Key, Jay Smedley, mengatakan bahwa pihaknya telah mengatur penerbangan charter pribadi jarak pendek ke Istanbul, Kairo, dan Maladewa sejak permintaan meningkat pada Sabtu (28/2/2026).

Penerbangan charter dapat menelan biaya hingga 200.000 dolar AS atau sekitar Rp 3,4 miliar.

Para pelancong kaya dan ekspatriat Dubai ini tidak lantas terbang begitu saja. Untuk menggunakan fasilitas sewa jet pribadi, mereka harus melakukan perjalanan darat ke bandara terdekat yang masih beroperasi.

Sejauh ini, Bandara Internasional Muscat di Oman menjadi tujuan terdekat bagi para pengguna jet pribadi untuk melakukan penerbangan.

Perjalanan tersebut meliputi perjalanan darat selama lima jam, ditambah waktu tunggu tambahan tiga hingga empat jam di perbatasan dan diperkirakan akan bertambah lama.

Tidak banyak pilihan bagi mereka yang bersikeras meninggalkan Dubai dalam waktu dekat.

Sebab sebagian besar penerbangan komersial dari Bandara Internasional Muscat ke Eropa pun sudah penuh dipesan hingga akhir pekan ini.

Kondisi turis Dubai saat ini

Badan pariwisata Dubai telah menginstruksikan hotel-hotel lokal untuk tidak mengusir wisatawan yang tidak dapat meninggalkan negara itu karena pembatalan penerbangan massal.

Pengelola hotel di Dubai diimbau memperpanjang masa inap para tamu dengan ketentuan yang sama seperti pemesanan awal mereka.

Namun, beberapa turis Rusia mengeluh secara daring bahwa mereka disuruh "membayar" atau meninggalkan penginapan mereka.

Ribuan turis dari negara-negara Barat juga mendapati diri mereka terdampar di laut, terkurung di kapal pesiar di lepas pantai Teluk karena pelabuhan-pelabuhan di seluruh wilayah tersebut bergulat dengan dampak dari serangan drone Iran.

Setidaknya enam kapal pesiar besar, masing-masing membawa ribuan penumpang, berlabuh di atau dekat pelabuhan di seluruh wilayah tersebut.

Para penumpangnya dikurung di dalam kapal, dan dalam beberapa kasus diminta untuk tetap berada di kabin mereka dan tidak pergi ke balkon.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang