Cerita Pria Asal Bandung Akrab dengan Keluarga Kerajaan Qatar
Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja Indonesia (TKI) adalah aviasi (penerbangan), perhotelan, dan migas (minyak dan gas Bumi). Sekadar informasi, Qatar merupakan satu dari enam negara kaya atau petro dollar di kawasan Timur Tengah.
Lima lainnya adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain serta Oman. Keenamnya bergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) yang kerap dijuluki The Big Guys, karena begitu berpengaruhnya.
Nino Fediawan Kusmedi satu di antara puluhan ribu WNI yang berkarier di Qatar, negara kaya gas alam, tepatnya di Oryx GTL sebagai internal audit.
Di sini, ia tidak hanya berprofesi sebagai auditor, tetapi juga memegang posisi kunci sebagai kepala bagian internal audit di perusahaan yang dipimpin Sheikh Thani bin Thamer bin Mohammed Al Thani, seorang dari keluarga kerajaan Qatar.
Oryx GTL merupakan perusahaan hasil kerja sama antara Qatar Petroleum dan Sasol South Africa yang mengoperasikan kilang pengolahan Gas-to-Liquid (GTL). GTL diesel, naphta, dan LPG diproduksi di kota industri Ras Laffan yang berada sekitar 80 kilometer di utara Doha, ibu kota Qatar.
Nino, begitu ia akrab dipanggil, bercerita ruang lingkup internal audit di Oryx GTL meliputi audit keuangan, komersial, operasional, teknologi informasi, dan seluruh aktivitas lain perusahaan.
"Tidak mudah untuk meraih posisi tersebut, tapi bukan tidak mungkin selama memiliki keahlian akuntansi dan auditing yang ditunjang oleh sertifikasi internasional yang relevan dan menguasai lingua franca serta pemahaman atas berbagai industri," kenang Nino, kala berbincang dengan VIVA.
Menurut pria berkacamata ini, tidak banyak auditor dari Indonesia yang berkarier di Qatar, karena sebagian besar ekonomi di negara Teluk tersebut masih dititikberatkan pada sektor migas, sehingga mayoritas pekerja migran bekerja di bagian teknikal dan operasional minyak dan gas Bumi, mulai dari hulu sampai ke hilir.
Internal Auditor Nino Fediawan Kusmedi.
Sebagai head of internal audit, secara fungsional Nino bertanggung jawab langsung kepada board audit and risk committee yang beranggotakan direktur dan perwakilan dari kedua pemegang saham, yaitu Qatar Petroleum dan Sasol.
Namun, secara struktural, pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini melapor langsung ke CEO Oryx GTL, Sheikh Thani bin Thamer bin Mohammed Al Thani, sehingga dirinya juga termasuk dalam rapat manajemen eksekutif perusahaan secara berkala untuk memberikan masukan mengenai tata kelola perusahaan.
Selain itu, ia pun dipercaya sebagai secretary to the board audit and risk committee. "Saya dan CEO (Oryx GTL) punya waktu khusus selama 60-90 menit untuk membicarakan apa saja, baik soal pekerjaan maupun pribadi. Saya sangat bersyukur bisa punya kesempatan ini. Sangat langka," ungkap dosen tetap Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti.
Gelar yang tersemat di belakang namanya pun tidak kaleng-kaleng. Nino memiliki banyak sertifikasi keahlian, khususnya di bidang audit. Ia tercatat dalam Register Akuntan Negara dan lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik dan bergelar CPA (Certificate Public Accountant) pada 1999.
Lalu, CIA (Certified Internal Auditor), CA (Chartered Accountant), CISA (Certified Information System Auditor), dan juga APM Project Management Qualification (PMQ) untuk manajemen proyek.
Sebelum berkarier di Oryx GTL, ia pernah bergabung dengan Al-Ghurair Investment (AGI) di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), sebagai internal audit manager pada 2009-2011.
Di situ pula awal dirinya menginjakkan kaki di Timur Tengah. AGI merupakan sebuah perusahaan manajemen investasi dan holding company di UEA dengan portofolio investasi tersebar di Asia Selatan dan Timur Tengah.
Nino dan timnya bertanggung jawab melakukan audit operasional dan keuangan atas seluruh anak perusahaan AGI, termasuk melakukan uji kelayakan atas target rencana investasi AGI.
Barulah, pada 2011, ia bergabung dengan Oryx GTL atas saran beberapa temannya hingga 2024. Setelah 15 tahun melanglang buana di Timur Tengah, Nino Fediawan Kusmedi saat ini mencoba peruntungannya di PRefChem sebagai general auditor (chief audit executive) yang berkantor di Johor, Malaysia.
“Ketika bekerja di perusahaan di Timur Tengah yang memiliki karyawan yang berasal dari puluhan negara, penguasaan berbagai bahasa di dalam tim audit akan sangat membantu dalam menangkap seluruh ‘pembicaraan’ dalam setiap pertemuan dan pekerjaan,” ungkap pria murah senyum itu, menutup pembicaraan.