Tanpa Insentif, Mobil Listrik Murah Diprediksi Kehilangan Peminat
Industri otomotif nasional menemui tantangan cukup berat pada 2026. Seperti contoh tidak adanya insentif untuk mobil listrik Completely Built Up (CBU).
Bantuan tersebut sudah berakhir sejak 31 Desember 2026. Sampai sekarang pemerintah belum memberikan kepastian apakah akan dilanjutkan atau tidak.
Situasi tersebut diprediksi membawa banyak dampak. Terutama di dalam pasar kendaraan roda empat nasional pada tahun ini.
“Peta kompetisi 2026 benar-benar berubah drastis, segmen ICE dan LCGC akan rebound,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Menurut Yannes, konsumen di Tanah Air diprediksi akan berpaling dari Electric Vehicle (EV) entry level.
Mereka akan kembali menyasar mobil-mobil konvensional berbandrol terjangkau. Seperti Honda Brio Satya, Toyota Agya sampai Daihatsu Sigra.
“Sementara BEV impor entry level bakal kehilangan daya tariknya di mass market,” dia menuturkan.
Lebih jauh disebutkan, mobil Hybrid serta PHEV dari pabrikan Jepang juga akan bersaing dengan produk-produk jenama asal Cina.
Hal itu karena ada beberapa aspek yang mendorong. Seperti contoh brand, fitur maupun desain bakal jadi penentu.
“Karena kombinasi efisiensi operasional dan harga yang masih kompetitif tanpa bergantung pada insentif besar pemerintah,” tegas Yannes.
Antisipasi Pabrikan Cina
Sebagai informasi, BYD sampai Changan sudah mengantisipasi dampak negatif dari absennya insentif mobil listrik CBU pada 2026.
Seperti dengan berusaha menahan harga kendaraan roda empat setrum mereka. Semisal banderol BYD Atto 1 dipertahankan tetap Rp 199 juta.
Sedangkan Changan menerapkan hal serupa, harga Lumin EV dibuat menjadi Rp 183 juta dari sebelumnya Rp 199 juta.
Langkah di atas ditempuh, semata-mata untuk mempertahankan daya tarik mobil listrik murah tersebut di mata masyarakat.
Dengan begitu deretan EV di atas masih diminati. Mampu bersaing bersama produk-produk entry level dari pabrikan Jepang.
Terkhusus mobil LCGC yang diprediksi akan comeback. Mengingat masyarakat akan memilih produk dengan banderol lebih terjangkau.
Jadi patut ditunggu, sejauh mana para produsen asal Tiongkok ini mampu menggoda masyarakat di Tanah Air untuk membeli EV meski tanpa insentif dari pemerintah.