SCMP Gelar China Conference 2026, Dorong Kolaborasi Bisnis Indonesia–Tiongkok
Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi dan ekonomi regional di kawasan Asia Tenggara. Gelaran China Conference: Southeast Asia 2026 yang diselenggarakan South China Morning Post (SCMP) di Jakarta menjadi salah satu bukti nyata dari upaya tersebut.
Acara ini menghadirkan pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan investor dari berbagai negara, memperkuat peran Indonesia sebagai titik strategis bagi investasi dan kolaborasi ekonomi di era digital.
Konferensi yang digelar bekerja sama dengan KADIN Indonesia dan Danantara Indonesia ini menyoroti pentingnya dialog kebijakan, pertukaran wawasan, serta kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok. Menurut Tammy Tam, Publisher South China Morning Post, “Relasi yang terpercaya dan pandangan para ahli kini menjadi kunci keberhasilan.
Didukung oleh inovasi digital dan standar editorial yang kredibel, South China Morning Post menyampaikan narasi tentang Tiongkok dan Asia Tenggara secara mendalam dan independen, membawa pembaca tak hanya mencermati tren, tetapi juga mampu menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi langkah nyata.
South China Morning Post telah menjalin kemitraan strategis dengan KADIN Indonesia, yang memungkinkan pertukaran wawasan mengenai Tiongkok dan Indonesia, masing-masing sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, untuk disampaikan kepada pembaca global SCMP, para pemimpin bisnis utama, dan pengambil keputusan di kawasan.
Dalam pidato pembukaan, The Hon CY Leung, mantan Chief Executive Hong Kong, menekankan posisi Tiongkok dalam sistem ekonomi global. “Tiongkok dengan tegas menentang unilateralisme dan proteksionisme serta tanpa lelah membela sistem pelatihan multilateral," ujarnya sebagaimana dikutip dari siaran pers, Selasa, 10 Februari 2026.
"Inisiatif Tata Kelola Global yang diusulkan tahun lalu oleh Presiden Xi Jinping telah menunjukkan arah ke depan bagi dunia di tengah tantangan terhadap tatanan global. Inisiatif ini telah memperoleh dukungan dari lebih dari 150 negara dan organisasi internasional,” sambungnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, HE Dr (HC) Ir H. Airlangga Hartarto, juga menyampaikan pentingnya hubungan ekonomi dengan Hong Kong. “Hong Kong memiliki kemitraan ekonomi khusus dengan Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral sekitar US$6,5 miliar, serta telah menanamkan investasi sebesar US$10 miliar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir," paparnya.
"Perjanjian perdagangan bebas antara Hong Kong dan ASEAN yang mulai berlaku pada 2020 telah membuka dan memperkuat hubungan ekonomi serta bisnis antara Indonesia dan Hong Kong,” lanjutnya dalam sesi keynote.
Lebih lanjut, Anindya Novyan Bakrie, Ketua Umum KADIN Indonesia, menyoroti peluang kawasan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan global. “Kami menyampaikan apresiasi kepada China Conference: Southeast Asia dan South China Morning Post atas terselenggaranya forum yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan inovator untuk berdialog secara terbuka dan konstruktif mengenai masa depan kawasan kita,” ungkapnya.
Anindya Novyan Bakrie, Ketua Umum KADIN Indonesia
"Saya percaya Tiongkok, Indonesia, dan Asia Tenggara secara lebih luas dapat menjadi mesin dan pusat produksi pertumbuhan global penting dalam beberapa dekade mendatang. Kita dapat menjadi penggerak pertumbuhan dengan mendorong permintaan, inovasi, dan model bisnis baru di pasar yang mencakup lebih dari dua miliar penduduk,” kata Anindya Novyan Bakrie.
Sebagai country host partner, Danantara Indonesia turut menekankan pentingnya profesionalisme dalam menarik investasi. “Danantara Indonesia adalah bank talenta. Tugas kami adalah menarik talenta global terbaik ke Indonesia untuk mendorong organisasi ini ke depan. Kami belajar dari praktik yang diterapkan Hong Kong dalam menarik modal, sekaligus memperkuat transparansi, supremasi hukum, dan mengomunikasikan kisah Indonesia dengan lebih baik kepada dunia," kata Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer.
"Sebagai sovereign fund, kami memiliki tujuan utama yang jelas: Danantara harus dikelola untuk menghasilkan keuntungan. Tidak boleh ada politisi di dalam perusahaan, pengelolaannya harus sepenuhnya profesional. Kami juga menerapkan business judgment rule, sehingga keputusan diambil berdasarkan pertimbangan komersial yang sehat tanpa rasa takut terhadap kriminalisasi. Hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memposisikan Indonesia sebagai tujuan investasi global jangka panjang yang kredibel.”
Konferensi ini menghadirkan sejumlah tokoh internasional dan perusahaan multinasional, termasuk Alibaba Cloud, HSBC, Huawei, Ant International, dan Bank Rakyat Indonesia, dengan diskusi panel membahas isu strategis seperti ketegangan AS–Tiongkok, rantai pasok China+1, akses permodalan, serta ekspansi ekonomi digital.
Dengan sekitar 500 peserta dari berbagai negara, acara ini menandai 75 tahun hubungan Tiongkok–Indonesia serta menegaskan peran Indonesia yang semakin penting menjelang APEC 2026 di Shenzhen.