Ini Alasan Bupati Bandung Ancam Ambil Alih Perbaikan Jembatan Sasak Geulis

Bandung, Jembatan Sasak Geulis, Jawa Barat, Ini Alasan Bupati Bandung Ancam Ambil Alih Perbaikan Jembatan Sasak Geulis

Bupati Bandung Dadang Supriatna melontarkan peringatan keras kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait lambannya penanganan Jembatan Sasak Geulis atau Dayeuhkolot. 

Ancaman pengambilalihan kewenangan perbaikan jembatan itu disampaikan lantaran kondisi struktur yang dinilai semakin berbahaya bagi keselamatan pengguna jalan.

Dadang menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bandung tidak tinggal diam. Usulan perbaikan telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah provinsi, baik secara formal maupun melalui komunikasi langsung. 

Namun hingga kini, kerusakan berupa retakan pada badan jembatan belum juga ditangani secara nyata.

“Retak itu sudah bukan lagi ucapan dan tulisan, saya sudah menyampaikan, ujar Dadang, dikutip dari , Senin (9/2/2026).

"Kalau seandainya ini menunggu ambrol dulu, saya akan sampaikan langsung kepada Menteri PU atau pemerintah pusat. Ini membahayakan sebelum ada korban jiwa,” sambungnya.

Dadang juga menyayangkan lambatnya penanganan Jembatan Sasak Geulis oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ia mendorong pemerintah pusat dan provinsi agar lebih proaktif mendengar aspirasi kepala daerah.

Hal tersebut diperlukan untuk menentukan skala pembangunan di wilayah.

“Alangkah bijaknya setiap program ini, kepala daerahnya ditanya. Kebutuhan daerah seperti apa yang jadi prioritas? Saya tidak menuntut banyak, silakan selesaikan sesuai fungsi masing-masing. Kalau jalan provinsi, tolong diperhatikan,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipatif, Dadang telah meminta jajarannya mengkaji kemungkinan perubahan status Jembatan Sasak Geulis agar kembali menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Bandung. 

Dengan begitu, Pemerintah Kabupaten Bandung tidak perlu terus menunggu tanpa kepastian, sementara risiko kecelakaan bagi masyarakat terus mengintai.

Warga Protes Jembatan Sasak Geulis Rusak

Sebelumnya, warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat (Gema) Kabupaten Bandung menggelar aksi protes dengan memasang spanduk di sekitar Jembatan Sasak Geulis. 

Aksi itu dipicu kekecewaan atas kondisi jembatan yang disebut telah rusak dan retak selama hampir empat tahun.

Juru Bicara Gema Kabupaten Bandung, Abi Muhamad Rafli, mengatakan pemasangan spanduk merupakan bentuk peringatan agar pemerintah segera bertindak karena kondisi jembatan sudah tidak layak dilalui.

"Kami kecewa akan lambatnya pembangunan Jembatan Dayeuhkolot yang sudah 4 tahun mengalami kerusakan atau pun keretakan, namun tak kunjung diperbaiki," ujarnya dikutip dari TribunJabar, Senin (9/2/2026).

Abi juga menilai alasan keterbatasan anggaran kurang tepat. Menurutnya, alokasi dana pada tahun-tahun sebelumnya terbilang cukup besar.

"Namun, terhadap jembatan Dayeuhkolot ini kurang kepeduliannya dan kami merasa bahwasanya Kabupaten Bandung ini seperti dianaktirikan oleh Provinsi Jawa Barat. Makanya kami menuliskan hal itu," katanya.

Ia menegaskan tuntutan warga sederhana, yakni perbaikan jembatan demi keselamatan bersama. 

"Kalau tuntutan sendiri sebetulnya sangat simpel. Kami ingin segera diperbaiki Jembatan Dayeuhkolot, itu saja satu. Tidak ada yang lainnya, cukup diperbaiki saja jembatannya," ucap Abi.

Dedi Mulyadi Minta Maaf

Terpisah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pembangunan Jembatan Sasak Geulis telah masuk dalam anggaran tahun 2026. 

“Tahun ini sudah dianggarkan untuk pembangunan jembatan baru,” ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari TribunJabar, Minggu (8/2/2026).

Dedi menjelaskan, terdapat dua opsi konsep pembangunan.

Konsep pertama mempertahankan desain lama tanpa peninggian dengan estimasi anggaran sekitar Rp 60 miliar. 

Sementara opsi kedua mengikuti rekomendasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dengan meninggikan jembatan yang diperkirakan membutuhkan dana hingga Rp 100 miliar.

Ia menyebut, proses pembangunan saat ini telah memasuki tahap pembebasan lahan. 

Dedi pun mengapresiasi kritik warga serta menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan penanganan.

“Terima kasih atas kritik warga dan mohon maaf apabila penanganan jembatan tersebut mengalami keterlambatan,” ujar Dedi Mulyadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang