Hati-Hati Gigitan Kutu! Alergi Daging yang Sebabkan Kematian Muncul di Amerika
Kasus kematian pertama yang dikaitkan dengan sindrom alpha-gal yakni alergi terhadap daging mamalia yang ditularkan melalui gigitan kutu, baru-baru ini terungkap melalui sebuah penelitian ilmiah.
Seorang pilot berusia 47 tahun asal New Jersey dinyatakan sebagai pasien pertama yang meninggal dunia akibat kondisi langka tersebut, sebagaimana dilaporkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology. Scroll lebih lanjut yuk!
Menurut penelitian tersebut, pria yang identitasnya dirahasiakan itu mengalami serangkaian reaksi alergi serius setelah melakukan aktivitas luar ruangan pada musim panas 2024.
Saat itu, ia pergi berkemah bersama keluarganya. Pada malam pertama, mereka menyantap steak sebagai makan malam. Tak lama kemudian, ia mengalami ketidaknyamanan perut, yang menjadi begitu parah sehingga ia menggeliat kesakitan, diare, dan muntah.
Meski kondisinya membaik keesokan harinya, sang pria mengaku kepada putranya bahwa selama kejadian tersebut ia merasa sangat kesakitan.
"Saya pikir saya akan mati," katanya, melansir People, Jumat 14 November 2025.
Dua minggu setelah insiden itu, keluarga tersebut menghadiri pesta barbekyu. Sekitar pukul 15.00, ia kembali mengonsumsi daging merah dalam bentuk hamburger. Namun, empat jam kemudian, ia ditemukan dalam kondisi kritis.
Menurut laporan penelitian, salah satu putranya menemukan ayahnya tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan muntahan di sekitarnya; putranya menelepon 911 pukul 19.37 dan memulai resusitasi. Paramedis melanjutkan upaya resusitasi selama 2 jam, termasuk memindahkan pasien ke rumah sakit, tetapi pada pukul 22.22, ia dinyatakan meninggal dunia.
Hasil otopsi awal mencatat penyebab kematian sebagai kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan. Namun, sang istri merasa ada hal yang terlewat.
Ia kemudian menghubungi Dr. Erin McFeely, dokter anak sekaligus teman keluarga. Keduanya menduga bahwa reaksi alergi terhadap daging yang dipicu gigitan kutu mungkin menjadi penyebab utamanya.
Kecurigaan itu mengarahkan mereka pada Dr. Thomas Platts-Mills dari UVA Health, pakar yang menemukan alergi alpha-gal. Melalui serangkaian pengujian, Dr. Platts-Mills akhirnya menyimpulkan bahwa korban meninggal akibat reaksi alergi parah akibat sensitisasi terhadap molekul alfa-gal.
Meski korban tidak memiliki bekas gigitan kutu yang jelas, istrinya menyebut suaminya memiliki sekitar selusin gigitan yang ia sebut sebagai “tungau” di sekitar pergelangan kaki.
Dalam kenyataannya, di wilayah timur Amerika Serikat, apa yang sering dianggap sebagai tungau sering kali merupakan larva Lone Star tick, kutu yang air liurnya mengandung molekul gula alfa-gal.
Molekul ini terdapat pada daging sapi, babi, domba, dan sebagian besar daging mamalia, sehingga gigitan kutu dapat memicu respons imun serius.
gal sendiri dapat menimbulkan gejala bervariasi, mulai dari gangguan pencernaan hingga reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa.
Pengobatan utama untuk kondisi ini hanyalah menghindari konsumsi daging merah atau produk mamalia lain yang dapat memicu reaksi ulang.
Dr. Platts-Mills memberikan peringatan penting mengenai risiko sindrom tersebut, terutama bagi masyarakat di wilayah yang banyak ditemukan Lone Star tick.
"Penting bagi dokter dan pasien yang tinggal di wilayah di mana kutu Lone Star umum ditemukan untuk mewaspadai risiko sensitisasi," ujarnya dalam rilis resmi UVA Health.
"Lebih spesifik lagi, jika mereka mengalami episode nyeri perut parah yang tidak terduga yang terjadi beberapa jam setelah mengonsumsi daging mamalia, mereka harus diperiksa untuk kemungkinan sensitisasi terhadap oligosakarida alfa-gal," sambungnya.
Dalam penjelasan lanjut, ia menekankan dua hal yang perlu diperhatikan: pertama, nyeri perut parah yang terjadi 3 hingga 5 jam setelah mengonsumsi daging sapi, babi, atau domba harus diperiksa sebagai kemungkinan episode anafilaksis; dan, kedua, gigitan kutu yang gatal selama lebih dari seminggu atau larva kutu yang sering disebut 'chigger' dapat memicu atau meningkatkan sensitisasi terhadap daging yang berasal dari mamalia.
Kasus tragis ini menjadi pengingat bahwa alergi yang ditularkan melalui gigitan kutu dapat berakibat fatal. Peningkatan kewaspadaan dinilai penting untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.