Airlangga: Outlook Negatif Moody's ke RI Imbas Publik Global Belum Paham Peran Danantara
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, outlook negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s akan direspons dengan penguatan komunikasi terkait peran dan tata kelola Danantara, seiring pemisahan peran antara APBN dan Danantara dalam pembiayaan investasi.
Hal itu diutarakan Airlangga dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, yang digelar di Jakarta.
“Saya sudah bicara dengan Danantara di mana mereka juga akan mempersiapkan langkah-langkah untuk menjelaskan kepada rating agency,” kata Airlangga, Kamis, 5 Februari 2026.
Dia menjelaskan, jika sebelumnya investasi dilakukan melalui anggaran, pemerintah kini membedakan peran dengan mendorong investasi melalui Danantara. Sementara itu, APBN difokuskan untuk membiayai program unggulan presiden dan pelayanan masyarakat.
“Ini yang banyak rating agency ataupun di pasar keuangan global belum paham. Jadi ini yang harus kita beri penjelasan,” ujarnya.
Airlangga juga menegaskan bahwa Danantara dibangun dengan prinsip tata kelola yang baik sebagai sovereign wealth fund (SWF), sebagaimana praktik terbaik yang telah diterapkan di berbagai negara.
Menurutnya, keberadaan Danantara diharapkan dapat membuka potensi dan mendorong reformasi badan usaha milik negara (BUMN), sehingga dapat bergerak lebih fleksibel seperti sektor swasta.
Dari sisi kebijakan fiskal, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tetap konsisten menjaga disiplin anggaran, dengan defisit yang dipatok maksimal 3 persen dan rasio utang dijaga di bawah 40 persen dari PDB.
“Utang kita itu 70 persen rupiah. Jadi situasi makronya relatif aman. Dari segi utang korporasi, dari segi lindung nilai terlindungi, dan dari segi investment,” kata Airlangga.
Selain itu, kondisi perekonomian Indonesia sejauh ini juga tetap solid, dimana pertumbuhan PDB mencapai 5,39 persen year-on-year (yoy) pada kuartal IV-2025 dan 5,11 persen (yoy) sepanjang 2025.
“Pertumbuhan ini lebih tinggi dari China yang sebesar 5 persen, Arab Saudi 4,5 persen, EU hanya tumbuh 1,5 persen. Tentu ini menjadi momentum untuk pertumbuhan yang kuat,” ujarnya.