Memahami Faktor yang Mendorong Anak Mengakhiri Hidupnya, Pentingnya Peran Keluarga dan Lingkungan
Kasus kematian siswa sekolah dasar (SD) di di Kecamatan Jerebuu Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat sorotan publik. Siswa berusia 10 tahun itu ditemukan tak bernyawa usai diduga bunuh diri. Jasadnya ditemukan tewas tergantung di pohon cengkih setinggi kurang lebih 15 meter pada Kamis, 29 Januari 2026 lalu.
Tindakan nekat itu dipilih YBR lantaran disebut-sebut orang tuanya tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen untuknnya. Saat proses evakuasi mendiang YBR ditemukan sepucuk surat.
Surat yang ditemukan ditulis menggunakan bahasa daerah. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi surat tersebut berisi pesan perpisahan kepada sang ibu, disertai permintaan agar tidak menangis dan tidak mencarinya. Pada kertas yang sama, juga terdapat gambar seorang anak laki-laki dengan air mata.
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee) Molo Mama (Selamat tinggal mama).
Lantas apa yang membuat seorang anak berusia 10 tahun memutuskan tindakan tersebut? Mengenai masalah ini, psikolog Astrid Wen angkat bicara. Dalam program Apa Kabar Indonesia TvOne, Psikolog, Astrid Wen menjelaskan bahwa keputusan nekat itu biasanya terjadi saat seseorang sedang berada di puncak stres.
”Keputusannya itu sendiri kalau sudah di puncak stress, keputusannya implusif. Keputusannya tidak dipikir panjang lagi, tetapi waktu belum mencapai puncak dia sudah tunjukkan tanda-tandanya,” kata dia seperti dikutip dari saluran YouTube TvOne, Kamis 5 Februari 2026.
Menyusul tragedi ini Astrid juga menjelaskan ada beberapa perubahan perilaku yang bisa menjadi tanda peringatan dini. Ia menyebut perubahan perilaku adalah 'alarm' yang paling penting, karenanya orang tua harus lebih memperhatikan kondisi anak.
”Ada tiga, kalau secara verbal itu udah terucap aku ingin mati saja atau aku ingin hilang, atau aku lebih baik kalau nggak ada. Itu verbal atau dia gambar, atau nulis diary,” jelas dia.
Kedua kata Astrid perubahan secara emosional juga bisa menjadi pertanda lainnya. Seperti ketika seorang anak mengalami sedih berkepanjangan atau menunjukkan emosi negatif lainnya.
”Kedua secara emosi, anak sangat mudah menjadi ceria atau happy jadi kalau anak jarang happynya udah warning karena anak mudah happy dibanding orang dewasa. Jadi kalau sudah sedih terus berkepanjangan, marah-marah, emosi negatif itu tanda bahaya,” sambung dia.
Selanjutnya kata Astrid adalah tingkah laku. Anak biasanya akan lebih suka menyendiri.
”Ketiga tingkah laku, biasanya tingkah laku anak yang sudah ada gejala depresinya mereka lebih suka menyendiri jadi tidak mau main atau mau dikamar aja main sendiri aja,” jelasnya.
Catatan Redaksi: Berita ini memuat isu sensitif terkait bunuh diri. Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan emosional, pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau gangguan kesehatan mental, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau fasilitas layanan kesehatan terdekat. Anda tidak sendirian, dan dukungan yang tepat dapat membantu melewati masa sulit.