Terapkan 3 Hal Ini untuk Tumbuhkan Kebiasaan Lingkungan di Dalam Keluarga
Sampah plastik menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, timbulan sampah di 318 kabupaten/kota mencapai 34,1 juta ton per tahun, dengan 67,42 persen atau sekitar 23 juta ton belum terkelola dengan baik. Dari seluruh jenis sampah, sampah plastik menempati peringkat ke-4 tertinggi.
Menyikapi data tersebut, tentunya membangun karakter generasi penerus yang peduli lingkungan dan bijak plastik (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah plastik) sejak dini merupakan pondasi penting. Terlebih, Indonesia tengah mempersiapkan diri menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita jangka panjang yang menempatkan generasi muda sebagai kunci utama kemajuan bangsa.
Dr. Khamim mewakili Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah mengatakan, hadirnya inisiatif #BijakPlastikSejakDini sejalan dengan upaya pemerintah dalam Penguatan Pendidikan Karakter yang tertuang dalam Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya pada pilar kebiasaan bermasyarakat.
“Kebiasaan bermasyarakat mengajarkan bahwa setiap individu tidak hanya bertanggung jawab atas kesejahteraan diri sendiri, tetapi juga harus peduli pada kesejahteraan bersama dan kelestarian lingkungan. Kolaborasi serta peran aktif dari berbagai pihak tentunya sangatlah dibutuhkan demi mendorong terciptanya dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujar Dr. Khamim, dalam keterangannya, dikutip Senin 20 Oktober 2025.
Senada dengan Kemendikdasmen, Siti Mariam, S.E.,M.H selaku Plt Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup (PPGLH) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia pun mendukung penuh inisiatif #BijakPlastikSejakDini dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menghadapi tantangan sampah plastik di Indonesia.
“Program ini tidak hanya mengajarkan anak-anak untuk peduli sejak dini, tetapi juga mengajak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkan kebiasaan bijak plastik yang tentunya dapat membantu permasalahan lingkungan, terutama permasalahan sampah plastik di Indonesia,” ujar Siti Mariam.
Menambahkan tentang pentingnya menumbuhkan karakter cinta lingkungan sejak dini, Agus Rusly, S.Pi., M.Si. selaku Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular (KLH) mengatakan, program edukasi lingkungan sejak dini merupakan salah satu investasi terbaik untuk memastikan peningkatan pengelolaan sampah di masa depan.
“Dengan menanamkan karakter #BijakPlastikSejakDini, kita tidak sekadar mengajarkan anak untuk memilah dan mengurangi sampah, tetapi kita sedang menumbuhkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari solusi besar sirkular ekonomi nasional,” ujar Agus Rusly.
Sebagai penutup, Agus Rusly menggaris bawahi bahwa sampah adalah tanggung jawab kita pribadi. Pilah dan olah sampah mulai dari rumah kita masing-masing dan jadilah agen perubahan untuk pencapaian 100 persen sampah terkelola pada tahun 2029.
Marfusita Hamburgiwati selaku Country Lead of Corporate & Government Affairs Mondelez Indonesia menjelaskan, hadirnya inisiatif #BijakPlastikSejakDini ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap pengendalian sampah plastik, sekaligus wujud nyata kontribusi #MondelezUntukIndonesia.
“Kami senantiasa mendukung penuh kebijakan pemerintah terkait pengendalian sampah plastik dan berharap bisa mendorong terciptanya generasi penerus yang memiliki karakter cinta lingkungan. Kami percaya anak-anak sebagai generasi penerus merupakan aset berharga yang menjadi cerminan masa depan suatu bangsa. Dengan menumbuhkan kebiasaan bijak plastik sejak dini (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang), karakter cinta lingkungan akan tumbuh secara alami seiring waktu, tanpa harus melawan kebiasaan lama yang sudah terbentuk,” jelas Marfusita.
Dalam menumbuhkan kebiasaan positif cinta lingkungan di rumah, Julia Jasmine selaku Mom & Sustainable Living Content Creator yang menjadi salah satu narasumber dalam acara ini menegaskan bahwa yang paling sulit adalah mengubah mindset keluarga.
“Tiga hal utama yang bisa diterapkan untuk menumbuhkan kebiasaan lingkungan di dalam keluarga terutama pada anak, yakni pertama menumbuhkan kesadaran bahwa sampah kita, tanggung jawab kita, selanjutnya masuk ke tahap memulai pembiasaan dengan menekankan pemikiran tidak apa jika pilah sampah belum sempurna, dan terakhir terus perkaya pengetahuan dengan belajar dari buku maupun ikut kegiatan terkait lingkungan,” jelas Jasmine.