Peluang LCGC Bangkit Setelah Insentif Mobil Listrik Berakhir

Kebangkitan mobil Low Cost Green Car (LCGC) bisa terjadi tahun ini. Sebab ada beberapa faktor pendukung.

Semisal berakhirnya pemberian insentif untuk mobil listrik Completely Built Up (CBU) yang masuk Indonesia.

Seluruh electric vehicle (EV) impor mendapat beberapa keistimewaan. Semisal gratis bea masuk dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah.

Bantuan tersebut membuat banyak pabrikan memasarkan mobil listrik entry level dengan banderol sangat kompetitif.

Honda Brio Satya facelift

Bahkan menyamai harga mobil LCGC di Indonesia. Otomatis pasar kendaraan roda empat dengan banderol terjangkau ini terganggu.

“Tanpa insentif impor CBU mulai 2026, harga EV impor diprediksi naik 20 persen sampai 40 persen,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO, Rabu (04/02).

Sedangkan harga mobil LCGC di Tanah Air terpantau landai. Tidak mengalami kenaikan pada tahun ini.

Membuat jarak atau gap antara produk LCGC maupun EV entry level semakin jelas terlihat di mata masyarakat.

“Ini bakal jadi peluang besar bagi LCGC karena konsumen middle low class yang sempat tergiur EV murah akan kembali,” ia melanjutkan.

Yannes menjelaskan ada sejumlah faktor mengapa situasi di atas bisa terjadi. Ambil contoh cicilan yang lebih terjangkau.

Kemudian tidak perlu khawatir infrastruktur charging yang belum merata. Mendorong masyarakat kembali beralih ke kendaraan roda empat bermesin bensin.

“Aspek brand, fitur dan desain akan menjadi kunci pemenangnya, karena kombinasi efisiensi operasional serta harga yang masih kompetitif tanpa bergantung pada insentif besar pemerintah,” tegas Yannes.

Siasat Demi Penjualan Mobil LCGC Bangkit

Patut diketahui, Yannes turut menjabarkan berbagai strategi yang bisa dilakukan Toyota, Daihatsu maupun Honda demi menggairahkan pasar mobil LCGC.

“Untuk merebut kembali pasar di 2026, produsen LCGC harus menghadirkan varian hybrid dengan harga tetap di bawah Rp 250 juta,” Yannes menuturkan.

Agar lebih ideal, Toyota sampai Daihatsu juga bisa menghadirkan beragam produk dengan banderol antara Rp 100 juta hingga Rp 150 juta.

Tidak ketinggalan memberikan penyegaran desain maupun fitur. Kemudian mengoptimalkan produksi lokal demi menurunkan biaya yang harus dikeluarkan.

Penjualan Mobil Diprediksi Naik Jelang Lebaran, LCGC Jadi Pilihan

“Mengingat model bisnis banting harga secara agresif sulit dilakukan, sehingga para APM perlu segera mencari segmen (konsumen) baru,” pungkas dia.

Yannes mengutarakan, produsen kendaraan roda empat bisa menawarkan mobil LCGC untuk konsumen di segmen fleet atau perusahaan.

Selanjutnya turut menyasar first car buyer di pedesaan, mengingat Indonesia memiliki wilayah yang luas. Jadi dapat memaksimalkan pemasaran ke berbagai daerah.