Israel Batalkan Serangan Udara ke Khalil al-Hayya di Menit Terakhir, Apa Alasannya?

Israel, Hamas, Khalil al-Hayya, perang, Gaza, politik Palestina, Israel Batalkan Serangan Udara ke Khalil al-Hayya di Menit Terakhir, Apa Alasannya?

Sebuah laporan terbaru mengungkap bahwa pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya, sempat menjadi target operasi pembunuhan rahasia oleh militer Israel. Upaya tersebut dilaporkan terjadi melalui serangan udara sesaat setelah Al-Hayya mendarat di Bandara Beirut, Lebanon, pada fase awal perang di Gaza.

Media Israel berbahasa Ibrani, Kan, melaporkan pada Minggu (1/2/2026) malam bahwa militer Israel sebenarnya telah memantau pergerakan anggota biro politik Hamas tersebut dengan sangat ketat.

"Untuk pertama kalinya, upaya pembunuhan terhadap Al-Hayya dibatalkan pada menit terakhir, saat tentara Israel memantau dan melacaknya hingga saat yang krusial," tulis laporan saluran televisi tersebut.

Dibatalkan di Menit Terakhir

Laporan tersebut merinci bahwa militer Israel hampir saja memerintahkan pengeboman untuk mengeksekusi operasi pembunuhan tersebut. Namun, perintah itu ditarik kembali karena kendala teknis di lapangan.

"Tentara Israel hampir memerintahkan pemboman untuk melaksanakan operasi tersebut, tetapi serangan itu dibatalkan karena kurangnya konfirmasi yang pasti tentang keberadaan pemimpin senior Hamas tersebut," tambah laporan Kan.

Diketahui, Khalil al-Hayya telah masuk dalam daftar target utama militer Israel sejak bulan-bulan pertama perang meletus. Target ini ditetapkan jauh sebelum serangan kontroversial yang terjadi di Doha, Qatar, pada September 2025 lalu.

Rentetan Upaya Pembunuhan dan Pengorbanan Keluarga

Khalil al-Hayya, yang kini memegang kendali kepemimpinan Hamas di Jalur Gaza menggantikan mendiang Ismail Haniyeh, memiliki catatan panjang dalam menghindari maut.

Pada September 2025 silam, Israel sempat meluncurkan serangan udara tak terduga ke sebuah gedung di Doha saat pertemuan para pemimpin Hamas berlangsung. Dalam insiden itu, Al-Hayya berhasil selamat.

Namun, serangan tersebut menewaskan putranya yang bernama Hamam, serta seorang rekan dan warga negara Qatar.

Ini bukan pertama kalinya keluarga Al-Hayya menjadi korban. Pada perang Gaza tahun 2014, rumah putranya yang lain, Osama, dihantam rudal Israel yang menewaskan istri dan anak-anaknya.

Profil Khalil al-Hayya: Ulama, Diplomat, dan Pemimpin Hamas

Khalil Ismail Ibrahim Al-Hayya, atau yang akrab disapa Abu Osama, lahir di Gaza pada 5 November 1960. Ia dikenal bukan sekadar sebagai tokoh politik, melainkan juga seorang intelektual dan ulama.

Berikut adalah rekam jejak pendidikan dan karier politik Khalil al-Hayya:

  1. Pendidikan: Meraih gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza (1983), Magister Ilmu Hadis dari Universitas Yordania, dan gelar Doktoral dari Universitas Al-Qur’an dan Ilmu Islam Sudan (1997).
  2. Awal Politik: Mulai aktif sejak Intifada pertama tahun 1987.
  3. Karier di Hamas: Pernah menjabat sebagai Kepala Biro Media Hamas dan Wakil Kepala Biro Politik Hamas di Gaza.
  4. Dewan Legislatif: Terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina mewakili Kota Gaza pada Pemilu 2006.

Sebagai seorang diplomat, Al-Hayya memegang peran krusial dalam negosiasi gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan Israel melalui mediator internasional seperti Qatar, Mesir, dan PBB.

Setelah kematian Yahya Sinwar pada Oktober 2024, posisi Al-Hayya semakin sentral. Ia menjadi bagian dari kepemimpinan kolektif yang mengendalikan arah perlawanan Hamas dari luar Gaza.

Sosoknya yang religius dan tenang dalam berdiplomasi menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam konstelasi politik Palestina modern saat ini.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Israel Batalkan Pengeboman Pimpinan Top Hamas Khalil al-Hayya di Detik Terakhir Saat di Lebanon

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang