Komandan IDF Sebut Israel Hadapi Ancaman yang Bisa Membahayakan Negaranya
Israel meningkatkan serangan di wilayah selatan Lebanon setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu memerintahkan militer negaranya memperluas operasi untuk 'menghancurkan' kelompok hizbullah yang didukung Iran. Langkah tersebut membuat situasi gencatan senjata di kawasan itu semakin terancam.
Di tengah meningkatnya operasi militer di Lebanon Selatan, seorang komandan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang tak mau disebutkan namanya menyebut bahwa pasukannya merasa Israel sedang menghadapi ancaman besar yang bisa membahayakan keberlangsungan negaranya di berbagai medan perang termasuk di Gaza dan Lebanon.
Komandan yang memimpin hamper 600 tantara Israel berinisial E itu menuding Hizbullah telah membangun 'infrasturktur militan' untuk menyeranng pasukan Israel.
E diketahui bertugas di pasukan cadangan IDF setelah sebelumnya menjalani tujuh tahun dinas aktif di militer. Sementara itu dalam kehidupan sehari-harinya, pria berusia 31 tahun itu bekerja di sektor properti. Sejak perang pecah lebih dari dua tahun lalu, ia mengaku berkali-kali kembali bertugas di medan tempur sambil tetap menjalankan tanggung jawab keluarga dan pekerjaannya.
"Di awal perang, saya memimpin sekitar 100 tentara. Sekarang saya menjadi wakil komandan batalion di Brigade Alexander dengan hampir 600 tentara di bawah komando saya," ujarnya kepada NDTV dikutip Jumat 29 Mei 2026.
Menurutnya, unit yang dipimpinnya pernah beroperasi di Gaza, Lebanon, dan Suriah selama konflik berlangsung.
"Kami tidak meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan anak-anak kami hanya untuk bermain-main di Gaza atau Lebanon. Kami merasa sedang melawan kejahatan," katanya.
Terkait operasi Israel di Lebanon selatan, E mengatakan brigadenya pertama kali masuk ke wilayah tersebut pada Oktober 2024. Ia mengklaim pasukannya menemukan senjata, terowongan bawah tanah, dan posisi pertahanan yang diperkuat di dekat perbatasan Israel.
"Apa yang kami lihat adalah persiapan serangan terhadap warga sipil Israel yang tinggal di dekat perbatasan utara," tuduhnya.
Perwira itu juga mengklaim gudang senjata dan jaringan terowongan ditemukan hanya beberapa ratus meter dari wilayah Israel. Ia menuduh infrastruktur militan tersebut terus dikembangkan sejak berakhirnya perang Israel-Lebanon pada 2006.
"Anda bisa melihat mereka sudah mempersiapkan perang berikutnya selama bertahun-tahun," ujarnya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah Israel terlibat konflik di berbagai front sejak serangan 7 Oktober dan perang yang meluas di Gaza hingga perbatasan Lebanon.
Israel berulang kali menuduh Hizbullah membangun infrastruktur militer di area sipil di Lebanon selatan, tuduhan yang dibantah kelompok tersebut. Hizbullah dan Hamas juga menuduh Israel melakukan serangan militer besar-besaran yang menyebabkan banyak korban sipil selama perang berlangsung.
Konflik ini memicu kekhawatiran internasional akan kemungkinan meluasnya perang di Timur Tengah.