Alasan Iran Sulit 'Diusik' Negara Manapun, Termasuk AS

VIVA Militer: Bendera Republik Islam Iran
VIVA Militer: Bendera Republik Islam Iran

Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah memaparkan sejumlah faktor strategis Iran sulit untuk diusik atau dihancurkan oleh militer negara mana pun, termasuk Amerika Serikat (AS).

"Iran tidak mudah digoyahkan apalagi dihancurkan," kata Reza dalam webinar Global Insight Forum bertajuk "Setelah Venezuela, Iran & Greenlad : 'Siapa' Target Selanjutnya", yang dipantau secara daring di Jakarta, Sabtu.

Reza mengatakan alasan pertama yakni, Iran merupakan salah satu pusat peradaban awal, seperti halnya China, India, dan Romawi. Kesadaran historis ini menumbuhkan semangat besar untuk menjaga marwah bangsa, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.

VIVA Militer: Ilustrasi perseteruan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran

Alasan kedua, kepemimpinan Iran relatif dihormati dan dicintai oleh masyarakatnya karena dianggap menunjukkan keteladanan ideologis serta berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat dalam kerangka kemandirian nasional dan perlawanan terhadap dominasi asing.

Ketiga, Iran memiliki kekuatan militer yang mandiri dan autentik, dengan teknologi pertahanan yang dikembangkan di dalam negeri tanpa ketergantungan signifikan pada pihak luar.

"Karena itu, peluru kendali, telah disiapkan untuk berbagai jarak—pendek, menengah, hingga jauh—termasuk untuk menghadapi kapal induk di kawasan Timur Tengah. Sementara, Angkatan Laut Iran juga rutin menggelar latihan di perairan strategis," kata Reza, yang juga selaku Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF).

Menurutnya, dalam skenario konflik terbuka, Iran berpotensi melakukan blokade Selat Hormuz yang akan berdampak besar terhadap lalu lintas energi dan perdagangan global.

"Jika Amerika Serikat menyerang Iran, langkah ini (blokade) sangat mungkin dilakukan," katanya melanjutkan.

Keempat, negara-negara Teluk berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan pembalasan Iran. Jika Iran diserang, respons balasan dapat berupa peluncuran misil dalam jumlah besar yang mengguncang kawasan Timur Tengah.

Pengalaman konflik sebelumnya menunjukkan bahwa dalam perang singkat di masa lalu, kota-kota besar Israel mengalami kerusakan signifikan dan hanya mampu bertahan setelah keterlibatan langsung Amerika Serikat.

"Saat ini, Iran disebut memiliki stok peluru kendali dalam jumlah sangat besar," katanya.

Reza menambahkan bahwa alasan kelima, yakni adanya keengganan serius negara-negara NATO untuk mendukung serangan langsung terhadap Iran.

Halaman Selanjutnya
"NATO dinilai telah belajar dari AS yang juga menggunakan tekanan ekonomi sebagai alat geopolitik," ucapnya.
Halaman Selanjutnya